DIHAPUS PELANGI SENJA HARI

Jalanan kampus terasa sepi, padahal ini baru sekitar pukul 17.00 sore hari, mungkin musim ujian membuat mahasiswa yang biasa kelayapan lebih suka pulang kos cepat-cepat, tidur siang dan lemburan malam hari untuk ujian esoknya, haha, benar-benar kebiasaan buruk, ups pengalaman pribadi .
Aku baru saja pulang dari kampus, tepatnya dari perpustakaan jurusan, harusnya aku segera pulang tadi sekitar pukul 15.00 sore, karena memang perpustakaan tutup jam itu. Tapi, mood yang sedang tidak happy ini menuntunku masuk ke taman kampus yang sepi untuk sekedar melihat-lihat. Ah, entahlah mungkin itu hanya alibi perasaanku saja, alih-alih ingin melihat-lihat, justru duduk terpekur memandangi tumbuhan eceng gondok yang memenuhi kolam kecil di kebun yang tidak begitu luas, meski banyak sekali nyamuk-nyamuk yang tanpa ba-bi-bu langsung menancapkan mulut jarumnya dikulitku yang tebal, ups tubuhku yang sedikit hemmm berisi . Sedikit melamun, hanya berdiam diri, setengah jam sudah cukup sepertinya donor darah pada nyamuk-nyamuk ganas di taman kampus, semoga tak ada salah satu Aedes aegepty yang mampir di kulitku tadi.
Sedikit gontai, melangkah menuju pintu keluar taman. Pikiranku masih melayang-layang, mengembara entah ke mana, mungkinkah ke korea menyusul oppa-oppa yang cakep-cakep di drama korea yang seringkali membuatku galau, ouwh tidak itu bukan gayaku, maksudku bukan gayaku menyukai wajah oriental yang tampak emmmm “cantik”, aku lebih suka yang cool, hitam manis, arogan, tidak banyak bicara, dan ups, aku terlalu banyak bicara ternyata . Tak kuduga langkahku sudah sampai di perempatan gedung pusat kegiatan mahasiswa, tadinya aku masih terpekur menatap jalan yang dipaving block. Tapi, aku mencoba mendongak ke atas dan my God, Amazing, langit yang mendung sedikit tertutup awan menampakkan garis warna-warni yang cantik, ada dua berlapis warna, yang satu tampak lebih tebal dan yang satu tidak terlalu tebal.
Di ufuk senja yang mendung,
ditingkahi sedikit gerimis malu-malu nan manja menitikkan airnya satu-satu
mata-mata indah nampak berwarna-warni menghiasi mega merah yang tertutup kelabu
seperti hari itu
menampik kenyataan tentang perasaan pahit
melihat wajah yang telah menghiasi hati selama ratusan hari
tak kunjung sirna tak kunjung pergi
kadang tesaput awan kelam
kadang menyeruak seindah mentari pagi hari
dia yang membuatku resah
dia yang tak sendiri
dan dia yang mungkin tak menyadari tentang ini
( Resah, dihapus pelangi senja hari )
“ Gubrak…” Suara sesuatu yang jatuh berdebam di tanah.
“ Auwww, kepalaku, Argh..” Ternyata yang jatuh itu aku. Mataku masih terkatup, tak hendak cepat-cepat membuka mata. Ternyata aku bermimpi.
“ Oh, tidak. Ini sudah pukul 09.00, Argh, aku terlambat.” Oh tidak, aku terlambat lagi, aku ada janji bertemu dengan seorang klien yang akan membeli batik-batikku. Aku harus segera bergegas.
***

Lama sekali tak melihat wajah seseorang, disela-sela kesibukannya kuliah dia justru main-main. Katanya bisnis keluarga di luar kota tak ada yang mengurus, sebagai anak bungsu laki-laki yang nakal, dalam upayanya mempertanggungjawabkan kelakukannya yang “selengekan” dia pun pergi.
“ Halo, Anggita! Hari ini aku berangkat ke Malang, nitip absen ya! Harus! Mati aku kalo ketahuan bolos lagi. Ok Ang!” Suaranya seperti seorang diktator kejam yang suka memerintah-merintah orang seenak “udelnya” sendiri.
“ Hei, Anggita, Kau mendengarku! Ang?” suaranya sedikit lebih keras dan tampak marah-marah.
“ Iya, iya, aku denger kok. Huh, tanganku dah kapalen gara-gara ngabsenin kamu terus! Hemmm, ” kataku masih menggantung, sembari  masih “misuh-misuh” di dalam hati.
“ Sip, aku suka mendengarmu cerewet daripada kau diam seperti tadi, itu mengkhawatirkan sekali, tapi tenang aku akan segera kembali, jangan khawatir. Daaaaaaaaaaaaaa…..beruang gembil galak.” Tanpa ba-bi-bu dia langsung menutup telponnya.
Dia, menyebalkan dan sangat tidak sopan, huft, Jo. Johansyah Ramadhan yang sangat Arogan. Namanya, ehemm, aku tau nama depan dan nama belakangnya memang sangat berbeda, ia terlahir dari ayah yang muslim dan ibu yang katolik, kau tau itu sedikit hemm, memang begitulah. Jangan tanya aku kenapa aku mengetahuinya? Dia pria yang tidak banyak bicara tapi kalau kau sudah mengenalnya, dia benar-benar cerewet, mengalahkanmu yang perempuan.
Ini telah dua bulan semenjak dia menelponku seperti seorang diktator, huft, laki-laki arogan yang membuatku sering memimpikannya. Sungguh menyebalkan.
“ Hai, beruang gembil, long time no see You baby!” Wajah bulat dengan mata sipit itu memandangku dengan senyum jailnya yang menyebalkan, dia tepat di depan kontrakanku yang kecil dan nyaman.
“ Hei, Jo! Kenapa tiba-tiba datang dan pergi seenakmu sendiri, kau tak menganggapku sama sekali, kau tak menelponku dulu, tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi lagi, Huh!” Aku hanya bisa marah-marah sendiri, melihat kedatangannya membuatku lega.
Aku hanya marah untuk mencoba meredam detak jantungku yang berpacu begitu cepat. Arghh, ini sangat menyiksa, andai aku bisa sedikit rasional dan menyambutmu dengan senyuman manis atau pelukan hangat dan bukan, ehmm omelan seperti saat ini.
“ Anggita, kau masih saja seorang pemarah, tak adakah sedikit pelukan hangat untuk sahabatmu yang telah kedinginan selama 2 bulan di Malang. Kau tak tahu betapa dinginnya di sana, herghh.” Dia bertingkah begitu berlebihan dan masuk begitu saja kemudian tiduran di sofa ruang tamu sekaligus ruang TV itu.
“ Kopi Ang! Seperti biasa! Hey, Ang, kau mendengarku, jangan kebanyakan melamun Ang!” Jo masih saja cerewet. Dia selalu memanggilku dengan sebutan “Ang”, memangnya aku angklung, atau anglo. Huft.
“ Johansyah Ramadhan, cerewet! Kamu cerewetnya sama aku doang sih? Sok cool di depan cewek-cewek lain. Menyebalkan sekali.” Cerewetku kambuh. Sembari menyodorkan secangkir kopi padanya. Aku sudah tahu kebiasaannya yang menyesap kopi hitam dengan  dua sendok makan gula pasir dan dua sendok makan susu, kesukaan seorang laki-laki harusnya kopi pahit, kenapa dia menyukai kopi manis itu, Argh, entahlah. Reflek untuk memasuki dapur dan membuat kopi manis untuknya terlalu cepat ketika dia datang.
“ Sip. Thanks. Wangi banget, gak kaya kamu, asem. Haha.” Jo cekikikan, sembari menghidupkan layar TV dan memegang cangkir kopinya.
“ Sialan. Mana oleh-oleh untukku? Jangan bilang kamu lupa! Hemmm. ” Aku pun jauh lebih cerewet dari Jo sebenarnya.
Kali ini aku menagih janjinya, aku telah berkali-kali mengiriminya pesan untuk membelikanku beberapa barang yang memang ku perlukan untuk butikku. Hemm, sebenarnya sekedar alasan saja, aku sedikit memaksa Jo membelikan itu, karena aku tahu dia pasti lupa membelikan sesuatu untukku.
“ Hemmm, oleh-oleh, hehe, Argh, seperti tak tahu aku saja, lupa. Hehe. ” kata Jo sedikit linglung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, lalu menyesap kopi manisnya.
“ Buk…” Aku meninjunya lengan kirinya yang berotot.
“ Auww, sakit! Maaf. ”  wajahnya sedikit menyesal.
“ Boong! Lenganmu kegedean dan berotot, gak bakal sakit kalo cuma tinju dari tangan kecilku yang manis ini Jo! Jangan mengalihkan pembicaraan. Huh, kebiasaan! Mana oleh-olehnya?” Kataku sembari memanyunkan bibirku yang memang sudah manyun. Haha.
“ Heh, Anggita sayang, kamu pikir aku gak tau apa kalo kamu biasa berkelahi sama cowok, meski tanganmu kecil gitu, Hah! Ingat, kecil, gak imut, wuek! Jangan manyun gitu dong! Aku cuma bawa pesananmu, katamu mo buat bisnis.  Aku gak bakal lupa kalo berkaitan dengan bisnis, Ok!” Katanya berbinar-binar.
“ Benar, Jo itu paling inget tentang bisnis, sampai-sampai lupa kuliah, dan ehmmm,  Hesti. Hey, kamu udah kasih tahu Hesti kalo kamu dah pulang? Kamu dateng ke sini, jangan-jangan lupa menemui kekasihmu itu, aku bakal disemprot habis-habisan neh!” Kataku mengingatkannya pada kekasihnya. Hesti Natalia, yang juga sahabatku. Dan, sepertinya itu benar, dia tampak kaget.
“ God. Kau malaikat penolongku. Aku benar-benar lupa. Kau tahu aku langsung ke sini selepas dari bandara, sekarang aku harus segera pergi! Daaaa, Ang! Terima kasih kopinya!Daaa….Buk, Ouwww. “ Dia terantuk pintu didepannya.
“ Daaa, hati-hati, haha, selamat di jalan, salam buat Hesti!!!! Dasar Jo pelupa.” kataku sedikit berteriak.
***

Jo adalah sahabatku. Sahabat dekatku, begitu dekat bahkan, jauh sebelum dia mengenal Hesti yang sekarang menjadi kekasihnya. Kami kuliah satu kelas, bersama-sama semenjak mengikuti training enterpreneur di semester 1, dan hingga kini semester akhir perkuliahan kami. Jo sangat baik pada setiap perempuan, tak cuma aku. Jiwa sosialnya sangat tinggi, dia tipe laki-laki ramah dan low profile. Sebagai anak seorang pengusaha mapan, Jo tak menunjukkan kekayaannya sama sekali. Jo rela mengikuti kegiatan wirausaha yang kecil-kecil denganku, berhujan-hujanan demi demo usahanya waktu itu. Dan, setahun kemudian baru kuketahui kalau dia ternyata anak seorang pengusaha yang mapan di Kota ini. Bahkan, dulu aku sempat merintis sebuah usaha dengannya dan kemudian gulung tikar karena masalah marketing yang kurang baik. Kali ini sudah lewat tiga tahun dari pertemanan kami, aku sudah memiliki usaha butik yang lumayan walau tidak besar tapi bisa membiayai hidupku tanpa harus meminta orang tua, memang sejak awal kuliah aku sudah lepas dari orang tuaku. Dan Jo dengan bisnis orang tuanya, bisnis garment dan kafenya yang laris manis.
Setahun setelah perkenalan kami, aku semakin dekat dengan Jo. Aku memang terbiasa sendiri, apalagi di Kota ini, aku punya banya teman tapi aku tak suka bermain-main dengan laki-laki, bukan karena aku tak laku, tapi karena trauma masa lalu. Hanya dengan Jo saja aku merasa nyaman, seperti melihat ayahku, ketika bersamanya. Entahlah kusimpan rasa itu erat-erat, seperti sebuah lagu “ Dalam diam, aku mencintaimu” yang sering dinyanyikan teman sekontrakanku seorang vokalis di sebuah grup dikampus seninya, tapi kini dia sudah lulus kuliah dan aku tinggal sendiri.
Hingga suatu waktu, Kakak perempuan Jo seorang designer muda. Dia memulai debut awalnya dengan mengadakan sebuah pameran baju, rancangannya. Di acara tersebut Jo yang tak terlalu tampan, tapi dia berbadan atletis dan hanya sedikit lumayan, menjadi peraga pakaian pria. Sementara Hesti Natalie, seorang mahasiswa jurusan Modeling yang cantik dan tinggi menjadi salah satu model utama pakaian wanita. Mereka bertemu ketika suatu insiden di acara pameran busana itu terjadi. Terlepas dari kesuksesan acara pergelaran busana kakak perempuan Jo, Alesandra Fitriana. Hesti dengan high heel 15 cm-nya melenggang lancar di atas panggung, mengenakan gaun berwarna gold, dengan ekor gaun yang panjang dan sangat anggun. Di belakangnya ada Jonathan yang memakai jas berbahan shining wool Italy berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Hesti. Karena sebuah kesalahan kecil Hesti, kisah cinta itu dimulai. Ketika gadis cantik itu berbalik badan untuk berjalan beriringan dengan Jo, ekor gaunnya yang panjang justru terinjak heelnya yang tinggi dan membuat Hesti akan terjatuh. Serta merta Jo langsung berlari dan menolong Hesti. Adegan itu justru tampak seperti adegan sinetron. Kesalahan panggung itu menjadi sorotan media, photografer muda kota yang meliput pun langsung mengambil photo dan pose-pose itu dengan sangat baik. Tidak menjadi kesalahan dan pergunjingan, justru adegan itu menjadi sesuatu yang menarik dan membuat nilai tersendiri untuk memopulerkan karya rancangan Alesandra. Bahkan modelnya Johansyah dan Hesti.
Jangan tanya mengapa aku tahu, ini bukan karena Jo yang bercerita, tapi karena mata bundarku ini yang melihatnya sendiri. Saat itu, aku memang berada di acara tersebut. Bukan sebagai model karena aku tidak secantik dan setinggi Hesti. Aku yang waktu itu sedang tugas freelance sebagai photografer majalah fashion wanita,  bertugas meliput acara tersebut. Dengan dua bola mataku sendiri kusaksikan kesalahan apik yang mendebarkan dan menegangkan, namun berakhir dengan tepuk tangan meriah dari semua audience di Hall Hotel mewah itu. Wajah cantik Hesti waktu itu memang tampak nervous beberapa detik, tapi sentuhan tangan Jo membawa lengan Hesti saling berkait dan melenggang justru membuat pipi Hesti merona, tampak cantik sekali, dan sangat manis. Argh, sesak, sedikit menyesakkan dadaku, tapi kuabaikan perasaan itu.
Aku tak memedulikan perasaanku dan jantungku yang berdetak begitu kencang. Aku masih fokus untuk momotret mereka, tak kubiarkan satu pun kesempatan hilang, karena rasionalitasku masih sangat bekerja, mengesampingkan segala perasaan di hati. Aku tahu, satu saja moment penting itu hilang maka bayaran yang seharusnya kudapat akan merosot seiring dengan ketidakprofesionalitasanku dalam bekerja. Apalagi mbak Fe, editor majalah sekaligus photografer senior tempatku bekerja adalah tipe orang yang perfect dan tak berperasaan dalam hal pekerjaan. Itulah sekilas tentang background kisah cinta Johansyah dan Hesty. Jangan tanya tentang aku, aku tak banyak berperan, aku hanya figuran yang muncul tanpa arti dalam cerita cinta mereka, mungkin. Fiuh.
***

 Suatu ketika, ada sebuah acara organisasi kampus, di tahun kedua kami. Walau pun sama-sama menyukai bisnis, tapi kami juga suka kegiatan-kegiatan yang berbau alam, seperti naik gunung, atau berenang di pantai. Aku lebih suka photografi sementara Jo lebih suka fashion dan modelling, dia memang tidak begitu tampan, tapi dia lumayan, wajah asianya pernah masuk Koran saat ia menjuarai kompetisi putra dan putri daerah. Argh, aku memang suka bercerita kemana-mana sehingga seringkali melebar ketika ingin fokus pada satu hal. Kala itu aku dan Jo mengikuti acara kampus untuk mengisi libur semester genap yang cukup panjang.
“ Capek ya? ” Tanya Jo padaku yang saat itu sedikit tersengal-sengal membawa ransel bermuatan 60 Liter.
“ Hemm, gak. Aku terlalu kuat kalo cuma bawa tas dan naik gunung, tenang aja!” Kataku kembali berjalan mendahuluinya.
“ Hey, sombong sekali! Aku kan cuma Tanya! Dasar, anak gunung! Sok kuat. Wuekk!” kata Jo, sedikit kesal denganku yang sok kuat.
“ Cerewet! Simpan tenagamu kita baru sampai 2600 dpl, puncak ada di 3265 dpl, tahu gak?” kataku mengingatkan Jo yang melangkah cepat-cepat di depanku.
“ Iya, aku tahu, Nona Anggita Hapsari!Hurry up! Kita ketinggalan cukup jauh!” Jo menyuruhku berjalan lebih cepat.
Mungkin Jo lupa bahwa malam sebelumnya aku tak tidur, aku harus lembur ditempat kerja, mengerjakan cerpen ku untuk mading kampus dan menyelesaikan editan photo untuk liputan majalah fashion, seharian penuh aku bekerja hingga menjelang pukul 3 pagi. Selanjutnya aku kerja di butik sore hari, dan sore itu juga berangkat menuju perjalanan naik gunung. Oh, aku pun lupa sepertinya aku belum makan. Owh, perutku terasa perih sekarang. Sungguh menyiksa.
“ Jo!Johansyah!” panggilku pelan, aku benar-benar lemas saat itu. Kepalaku sedikit berkunang-kunang. Sebelumnya aku pernah naik gunung 3 sampai 5 kali, tak pernah ku alami hal seperti ini sebelumnnya. Oh, tidak. Jo sudah tak tampak, posisiku berada di tengah, rombongan yang lain ada di atas dan yang lain lagi ada di belakang cukup jauh. Oh, tidak.
“ Brugg….Owh! Jo!” aku memanggil Jo, entahlah apakah dia mendengar atau tidak, Kakiku terperosok ke dalam lubang jurang. Sepertinya aku bakal jatuh jika ranselku tak tersangkut, oh tidak!.
“ Anggita!” Kulihat Jo berlari ke arahku dan melepas tasnya.
“ Pegang tanganku erat-erat!” Kata Jo sembari mengulurkan tangannya dan menarikku naik.
“ Kubilang juga apa, kamu kecapekan! Masih saja sok kuat,  kamu gak papa?!” Tanya Jo, dengan mimik muka yang khawatir.
“ Pucat banget wajahmu Ang!Dah mo maghrib juga, kita istitahat di sini aja ya.” Jo benar-benar cerewet.
“ Aku tak apa. Lanjut aja yuk.” Kataku mencoba bangkit. Dan,
“ Ouw…” Aku sedikit oleng , dan akan jatuh, jika Jo tidak mencengkeram lenganku.
“ Dasar keras kepala! Istirahat dulu di sini, Liat kakimu!” Jo menyandarkanku pada dinding tebing, dan memegang pergelangan kakiku.
“ A..aku…” aku bersiap mengatkan Aku baik-baik saja.
“ Diamlah, aku akan mengurusmu beruang gembil! Aku memaksa!” Kata Jo, galak.
“ Baiklah, karena kau memaksa, hehe!” aku meringis menahan sakit karena Jo mengurut pergelangan kakiku yang keseleo.
Akhirnya kami tak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Hanya mendirikan camp di dekat pos 2, sementara puncak masih nun jauh di sana ada di pos 6. Jo tidur diluar tenda hanya dengan matras dan sleeping bag, kasian, pasti dia kedinginan. Paginya aku dan Jo turun pelan-pelan dan kembali ke kota, dia mengendarai motor dengan mata yang sangat mengantuk, kasian Jo, maafkan aku Jo!
“ Ang, ngantuk banget neh!” kata Jo, mengeluh.
“ Aku juga! Heh, kamu gak boleh ngantuk” Kataku keras.
“ Owwww, sakit! Ow..ow, argh, mataku terbuka lagi!” kata Jo yang kesakitan karena aku mencubitnya.
“ Haha, gak jadi ngantuk? Yes berhasil!Bersiap-siaplah untuk cubitan selanjutnya kalo kamu masih ngantuk.” Aku tertawa jahil.
“ Iya-iya. Gak sekalian aja mataku dilakban biar gak melorot nek mataku.” Kata Jo senewen.
“ Hey, ide bagus, ayo berhenti di toko depan beli lakban!” Kataku sok serius.
“ Gila! Tega banget si!Jahat.” Kata Jo manyun.
“ Hahaha, kan kamu yang minta tadi!” Kataku.
“ Hemm, ngoceh terus ya Ang! Biar aku gak ngantuk!” Kata Jo.
“ Benarkah, Siap Jo! Aku akan terus menerus biacara padamu! Siapkan telinga dan matamu Jo!” kataku tertawa.
Hari yang indah. Ketika bersamanya, nyaman sekali. Fiuh, baik dulu, maupun sekarang meskipun dia sudah mempunyai Hesti, rasa nyaman bersamanya tak pernah hilang.
***

 “ Ang, sibukkah? ” Tanya Jo lewat handphone. Sepertinya ia sedang bersama teman-temannya, tampak sangat berisik.
“ Hemm, aku kan emang sibuk terus. Ada banyak pesanan dari luar kota. Kenapa Jo, Tapi aku akan selalu meluangkan waktu untukmu Jo, gak gratis lho, haha.” Kataku cerewet dan tertawa.
“ Hemm, gak jadi deh! Ang, maaf selalu menggagumu, ya sudah aku akan menutup telponnya.” Kata Jo, lesu.
“ Hey, Jo? Ehmmm. Butuh secangkir kopi, nanti malam ke rumah, aku menunggumu. Hati-hati mengemudi. Sampai ketemu nanti. Daaaa!” Kataku langsung menutup telpon. Aku tau dia pasti akan datang.
***
“ Tok..tok..tok…” Suara pintu ruang depan diketuk dengan pelan.
“ Iya sebentar.” Aku berteriak kencang dari dapur.
Segera kumatikan kompor yang baru selesai kugunakan memasak capcay dan menanak nasi. Dua cangkir kopi telah kuiisi dengan satu sendok makan kopi hitam, dua sendok makan gula dan dua sendok makan susu bubuk, masih belum kuseduh dengan air panas, aku masih menunggu Jo. Perlahan kulepas celemek dan berjalan menuju ruang depan untuk membuka pintu. Benar, dia berdiri bersandar ditembok depan rumah, tampak melamun, tak menyadari aku telah membuka pintu.
“ Eh, Hay.” Tanya Jo, sedikit kaget.
“ Oh, kupikir gak jadi datang.” Aku pun baru sadar kalau mataku terus menatapnya.
“ Masuklah!” Aku membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Jo masuk ke dalam.
Seperti biasa, ia segera duduk di sofa panjang ruang tengah, kali ini dia tak langsung menghidupkan televisi, dia berbaring dan menutup wajahnya dengan lengan coklatnya yang berotot, dia tampak lelah. Aku masuk ke dapur dan menyeduh kopi yang telah kusiapkan tadi.
“ Kopimu!!” Kataku sembari menyodorkan secangkir kopi yang uapnya mengepul ke wajah Jo. Jo bangkit dan mengambil kopi panas itu, memegangnya dan mencoba mengalirkan kehangatan itu ke tangannya.
“ Ada masalah?” aku bertanya pelan-pelan.
“ Hemmm, gak dijawab juga gak papa kok! Kamu pasti belum makan, aku baru melesai masak, ayo makan!” Aku menatapnya. Tapi dia masih diam, membiarkan uap panas kopi mengenai wajahnya yang ehemm, sedikit tampan. Oh tidak, kegilaanku mulai kambuh lagi. Aku mengalihkan wajahku dan bergegas ke dapur menyiapkan piring dan perlengkapan makan.
“ Jo, jangan melamun ditu dong. Tahu gak, kemarin ada yang meninggal di gang depan sana lho! Gara-gara kebanyakan melamun!” Kataku.
“ Benarkah, jangan bilang kalau itu ayam, hemm.” Jo menjawab pelan, tepat dibelakangku. Aku terhenti, terdiam sejenak.
“ Aku cuma mo hibur kamu Jo, gak lucu ya? Hehe” Aku sedikit kikuk menjawab pertanyaannya. Aku masih membelakangi Jo.
“ Jo, kamu, ngapain? Jo?!” Dia memelukku, menyandarkan kepalanya dibahuku. Oh tidak, ini salah. Jangan kau perlakukan aku seperti ini Jo.
“ Ang, aku lelah. Biarkan aku begini sebentar, kumohon!” Sepertinya dia benar-benar sedang banyak pikiran, oh Jo.
Aku tak bisa menolak. Kami terdiam beberapa saat, berkutat dengan pikiran masing-masing. Oh, shit. Aku memegang tangannya yang erat melingkari pinggangku. Kurasakan detak jantungnya berdetak terlalu kencang, seperti itu jugakah jantungku. Oh, tidak, jantungku berdebar-debar. Apa yang harus kulakukan, ini sangat tidak biasa, aku tak bisa mengontrol perasaanku. Johansyah, jangan sampai Jo tahu kalau jantungku berdetak begitu keras. Jangan sampai Jo tahu tentang perasaanku yang ku simpan dalam-dalam. Aku mengabaikan keinginan untuk memelukmu ketika kita bersama, tapi justru kini kau yang memelukku. Argh, aku terjebak dalam situasi yang seperti ini.
“ Ayo makan, aku laper banget.” Suaraku memecah keheningan. Aku melepas tangan Jo, dan bergegas membawa piring-piring itu ke ruang tengah.
“ Hei, gak pengertian banget sih, bantuin dong?” Aku menatap Jo, yang masih tak bergeming dari tempatnya. Ia pun mengambil mangkuk nasi dan buah-buahan yang ada di meja, lalu membawanya ke ruang depan.
“ Hemmm, sepertinya kita perlu menghidupkan televisi, aku belum menonton berita di Televisi hari ini.” Aku hanya ingin memecah keheningan diantara kita. Setidaknya suara televisi akan sedikit menetralkan suasana. Aku dan Jo makan dengan pelan, tak ada suara darinya. Hanya aku yang sesekali memberi komentar atas acara televisi, dan Jo tetap khusyuk dengan makanannya. Sama sekali tak menatap wajahku.

***

Jo berjalan menyusuri apartemen tempat tinggal Hesti, dia membawa seikat bunga mawar merah, hari itu hari jadi mereka. Tepat sebelum ia memasuki lorong depan kamar Hesti, ia melihat Hesti bersama seorang pria. Mereka bergandengan tangan. Rasio positif Jo masih bekerja, dia tahu bahwa Hesti memang punya banyak teman pria. Hesti yang cantik, manja, dan menggemaskan. Pantas untuk disukai oleh banyak pria, dan memang banyak sekali pria yang menyukainya, nahkan banyak yang jauh lebih tampan dari Jo. Jo merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan gadis secantik Hesti.
“ Ngapain masih mo jalan ma Johansyah? Dia arogan dan sok sibuk kan? ” Pria tampan yang bersama Hesti berkata pelan, tangannya memegang tangan Hesti.
“ Hemm, jangan gitu dong! Aku sayang Jo, tapi aku lebih cinta kamu. Makanya jangan suka menghambur-hamburkan uang, mungkin aku akan benar-benar kembali seutuhnya kepadamu . Meski arogan dan sok sibuk tapi dia jauh lebih mapan keuangannya dibanding dirimu!” Hesti tampak berbicara panjang lebar pada pria itu.
“ Kamu licik banget sayang! Tapi pesonaku tak tergantikan oleh Jo kan? Sampai sekarang pun kamu masih tak bisa lepas dariku, Hemmm. ”  sebuah kejadian yang membuat sesak dada Jo.
Laki-laki itu merangkul Hesti dan menciumnya, tepat di bibir merah Hesti yang merona. Didepan mata kepala  Jo, meski hanya melihat dari kejauhan, Jo mampu mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi antara Hesti dan pria tampan itu. Bunga mawar merah itu terjatuh dan lepas dari cengkeraman Jo yang kuat. Jo berjalan pelan menuju Hesti dan pria itu.
“ Ternyata secantik itu kebrengsekanmu Hes!” Suara Jo mengakhiri ciuman mesra mereak. Mata elang Jo tajam menatap dua manusia yang gelagapan di depannya. Wajah Hesti pias, merah padam.
“ Jo, jangan salah paham, dia hanya….” Hesti berusaha menjelaskan kepada Jo.
“ Argh, beruntunglah aku melihat semua ini. Bodohnya aku, semudah itu jatuh padamu dan semudah itu pula kau perdayai aku. Brengsek lho Hes!” Jo benar-benar marah, dia berlalu pergi.
“ Jangan salah paham Jo! Dengarkan dulu, dia cuma sahabatku, kita lagi latihan acting, Jo, kumohon. Jo!” Hesti mencoba menghentikan Jo.
“ Diam! Jangan sampai aku mencabik wajah cantikmu itu Hesti. Kumohon pergilah, Jangan pernah muncul lagi dihadapnku!” Jo benar-benar marah, dia membentak Hesti, kasar. Jo terlanjur sakit hati. Dia selama ini begitu mencintai Hesti. Apapun Jo lakukan demi gadis cantik itu. Tapi, justru seperti ini yang Jo peroleh. Jo yang malang, Jo yang tak bisa mengenali cinta yang sesungguhnya, cinta dalam diam yang tak pernah ia tahu, cinta yang masih tersimpan rapat untuknya.
***

 Senja hari yang mendung, awan gelap tampak di ufuk barat. Aku berjalan menyusuri jalanan kampus. Menanti bis yang biasanya melintas di depan butik kecilku, setengah jam cukup untuk mendengarkan musik-musik lawas dari radio kesayangan. Aku duduk dibagian tengah bis, bersyukur dapat tempat duduk. Menyaksikan banyak wajah kelelahan setelah seharian bekerja, belajar atau entahlah. Semuanya tampak ingin segera kembali ke rumah masing-masing untuk merehatkan badan. Tapi aku masih ingin menikmati perjalanan.
“ Duh, penuh banget si bisnya, bikin gerah!” Seorang gadis berbicara pada temannya.
Temannya hanya mengangguk dan kembali berkonsentrasi dengan pegangan tangannya. Saat-saat seperti ini, kecepatan bis bisa berubah drastis, kadang “ngerem” mendadak atau menikung tiba-tiba.
Aku masih duduk termenung. Belum kuberikan kursi ini pada orang lain yang tampak membutuhkan, hehe. Karena semua penumpang yang ada di dalam bis masih muda-muda. Tepat di depanku ada dua orang pria muda yang berpenampilan aneh dengan kacamata hitam dan topi.
“ Sok ngartis banget deh, Huh”. Rutukku dalam hati.
Dipemberhentian selanjutnya ada beberapa penumpang yang turun, tapi yang masuk ke dalam bis justru lebih banyak, ada seorang nenek sepuh dengan rambut beruban tampak kebingungan mencari tempat duduk. Beliau berusaha mencari pegangan, naas tak satu pun pegangan tersisa, kondektur bis hanya membiarkan si nenek tersungkur kesana kemari.
“  Duh gak ada perasaan banget sih jadi laki-laki.” Masih dalam hati.
“ Bu, Bu, silahkan.” Aku bangkit dan mencolek lengan si nenek, meminta si nenek untuk duduk di bangkuku. Sedikit perjuangan untuk berdiri karena memang benar-benar penuh. Nenek itu pun merangsek mundur pelan-pelan, sembari memegangi lengan penumpang lain.
Tapi tiba-tiba, pria berkacamata hitam yang tadi berdiri di depanku hendak meraih kursi yang baru kutinggalkan.
“ Eh mo ngapain mas, ini buat Ibu itu” Kataku sedikit sinis kepadanya.
“ Mana?” Tanyanya sok gak tahu. Aku menunjuk nenek yang sedang berjalan ke arahku.
“ Maaf nak, permisi ya, makasih ya nak ya” Kata si nenek yang sudah ada di depanku.
“ Iya Bu, silahkan.” Kupegangi lengan nenek tersebut dan segera menggeser si pria berkecamata untuk beralih dan berdiri lagi.
“ Makanya mas, kacamatanya dibuka!” Kataku pada pria berkacamata yang menyebalkan itu. Huh, jadi senewen sendiri aku.
“ Mari Bu, saya duluan.” Aku menyapa nenek tersebut sebelum aku turun dipemberhentian terdekat dengan kontrakanku.
“ Trimakasih ya nak, hati-hati.” Kata si nenek, tersenyum ramah.

Aku berjalan santai. Hari masih sore, walau langit tampak mendung tapi suasana langit tetap cerah ceria. Aku  mlewati lapangan basket yang ramai, tampak banyak laki-laki dan beberapa gadis-gadis berbadan tinggi tegap sedang bermain basket. Ada juga yang hanya melakukan pemanasan, bahkan yang diam-diam berduaan di sudut lapangan. haha. Lucu dan menyenangkan melihat mereka. Aku masih berjalan santai melewati rerumputan hijau yang terhampar luas, sedikit menengadah ke langit memastikan masih ada warna biru yang patut ku kagumi indahnya. Tapi yang ada justru titik-titik hujan, sedikit gerimis menetesi langkah. Semeter kemudian titik-titik itu berhenti berjatuhan. Aku masih menunduk lesu ketika beberapa orang yang bersepeda motor berhenti dan memandang langit dibelakang gedung.
“ Wouw, bagus banget langitnya.” Seorang gadis bicara kepada temannya.
“ Mana-mana? Oh hooh, wah, jarang-jarang lho bagus banget kaya gini langitnya.” Temannya menimpali.
Sedikit ragu, aku mendongak. Ternyata dilangit sebelah utara tampak dua lapsi pelangi, entahlah sepertinya aku pernah melihat ini. Ehmmm, di mimpikah, entahlah aku lupa. Di ufuk barat mega merah senja bersinar cemerlang, awan kelam sedikit menggumpal seperti bulu-bulu domba mungkin sudah penuh dengan uap air yang siap dijatuhkan ke bumi sebagai rintik hujan yang segar. Warna-warna itu berpadu padan, meningkahi langit yang nampak suram. Hemmm, indah sekali.
***

Aku sudah sampai di rumah. Justru lamunanku kembali pada dua malam sebelumnya. Malam saat Jo sedang lesu di kontrakanku. Senyap menggerayangi malam, hanya ada bunyi jangkrik dan jam yang berdetak, bagiku ini terlalu senyap. Jo menyesap kopinya.
“ Ang, bolehkah aku bicara?” Tanya Jo, matanya masih menerawang, menatap kosong ke arah halaman.
“ Hemmm, katakanlah!” Aku pelan.
“ Kamu pernah mencintai seseorang, sampai rela melakukan apapun untuknya?” Tanya Jo.
“ Hah, apa? Kok tiba-tiba tanya gitu?” Aku masih terheran.
“ Kumohon jawablah!” Pinta Jo.
“ Hemmm, tentu. Aku mencintai seseorang, apapun akan kulakukan untuknya jika aku bisa, aku tak meminta ia untuk tahu atau membalas cintaku, cukup dengan melihatnya tersenyum dan bicara padaku, aku tetap mencintainya.” Aku memandang Jo.
“ Benarkah? Siapa dia?” Tanya Jo, matanya beralih memandangku.
“ Hemmm, Mungkin! Cukup, Kembali ke persoalanmu.” Potongku cepat.
“ Kau tahu aku mencintai Hesti, aku mencintainya…” Kata Jo.
“ Aku sangat tahu itu! Kau begitu mencintai Hesti, hingga kau rela pulang dari Surabaya ditengah-tengah rapatmu yang penting karena Hesti terkilir saat jatuh dari tangga, dan ternyata itu tidak parah. Kau meunggunya setiap malam untuk memastikan Hesti pulang dengan aman, tanpa Hesti ketahui.  Kau, begitu mencintainya.” Kataku lirih.
“ Dia tak mencintaiku Ang.” Jo pelan
“ Hah, Apa?” Aku kaget
“ Dia hanya menginginkan uang, dia tak sungguh-sungguh mencintaiku. Aku melihatnya, aku melihat dia bersama pria lain. Mereka berciuman, tepat didepanku.” Jo semakin lesu.
“ Oh, God! Kau yakin itu Hesti? Oh, tidak, aku masih sulit mencerna kata-katamu Jo.” Aku syok.
“ Masa sih Jo, aku masih gak percaya. Setahuku dia sangat mencintaimu. “ Aku benar-benar syok.
“ Dia hanya berpura-pura. Aku bodoh selama ini mempercayainya. Sudahlah, tak perlu dibahas, aku free sekarang, Arghhhhhhhhh. Masih banyak hal yang harus kupikirkan, selain Hesti.” Kata Jo, dia sedikit tenang dan lega.
“ Haruskah aku bicara pada Hesti, Jo?” Aku bertanya pelan.
“ Cukup Ang. Aku ingin sendiri dulu. Oke, cukup ada kamu sebagai sahabatku.” Kata Jo yakin.
“ Hah, baiklah. Hemm, bagaimana kalau besok lusa kita jalan-jalan ke pantai, refreshing Jo, lupakan semua masalah kita dan bersenang-senang, gimana?”  Kataku meminta Jo.
“ Hemmm…..” Jo masih ragu.
“ Baiklah, pastikan kau tak punya agenda Ang, aku memang butuh udara segar. Hufth, leganya, akhirnya aku jomblo, hahaha. Bantu aku cari pasangan lagi ya, hemm, yang kaya kamu, minimal bisa bikin kopi. Haha.” Jo tampak kembali sumringah.
“ Hah, kau gila.. Ah udah-udah, seorang Johansyah yang duitnya banyak dan cakep gitu masa gak bisa gaet cewek lagi, haha. Siap-siap lusa kita maen ke pantai oke. Sana pulang dah mo pagi ini.” Aku mendorong Jo keluar rumah.
“ Argh, aku kan baru saja patah hati, dihibur dong! Malah diusir.” Kata Jo, protes.
“ Iya, tapi bukan berarti tinggal semalaman dirumah gadis lajang kan? Sana pulang! Aku sudah menemanimu makan, ngopi dan melamun, kau sudah baikan sekarang. Masa cuma ditinggalin cewek gitu aja letoy. Semangat!” Kataku panjang lebar.
“ Hemmm, ya-ya, aku pulang, ku pastikan esok bakal dapet gadis yang sebaik dan sepintar kamu Ang.” Kata Jo pergi.
“ Buktikan itu! aku akan memverivikasinya dulu sebelum benar-benar jadi kekasihmu. Haha, Daaaa, selamat di jalan Jo.” Aku meneriakinya yang mulai melaju dengan motor kesayangannya.
***
Tanpa sepengetahuan Anggita, Jo menyadari sesuatu yang selama ini tersimpan rapi disembunyikannya. Jo melajukan motornya dengan pelan, ia masih memegang buku kecil di sakunya. Buku berwarna merah hati yang tak sengaja ia lihat di dekat meja televisi saat Anggita berada di dapur. Ia belum pernah melihat buku itu, melihat halaman awal yang bertuliskan Jo dan Anggita. Ia langsung mengantonginya. Kali ini Jo menepikan motornya, diterangi lampu jalan yang remang-remang Jo membaca buku itu. Membuka halaman demi halaman, sekilas. Berhenti pada satu halaman, Jantungnya seketika berdegup begitu keras.
“ Kalau akau mengatakannya, reaksi apa yang akan kau berikan? Apakah kau akan menerima pengakuanku?? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau masih akan menatapku seperti ini? Atau apakah justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku.”
Senyum itu, mata sipit itu, sikap arogan itu, membuatku terbiasa disampingmu.
Johansya Ramadhan, maafkan atas perasaan ini.
Aku tahu, meski aku memanggilmu, aku tahu kau takkan pernah mendengar itu, tapi aku tetap saja memanggilmu.
Ya Rabbi, maafkan aku ya Alloh, mencintai sahabatku sendiri.
Mata Jo merah. Entahlah, perasaan apa yang sekarang berkecamuk di dalam hatinya. Ingatan Jo melayang ke masa lalu. Saat-saat bersama, Jo mengingat-ingat apakah ada kenangan tentang Hesti bersamanya? Tidak, justru yang muncul berkelebat adalah senyum Anggita, sahabatnya yang selalu ada saat Jo membutuhkannya, diminta atau tak diminta Anggita ada di sisi Jo. Saat naik gunung, saat mengirimkan bantuan untuk acara baksos, saat minum kopi, saat kulia. Argh kenapa Jo tak menyadarinya. Selama ini orang yang selalu ada disampingnya bukan Hesti tapi Anggita.
Anggita yang membuatnya marah, tersenyum jahil, iseng dan menangis.
Tuhan,
Anggita kah yang selama ini selalu kurindukan,
Anggita kah yang selama ini selalu mengisi hari-hariku.
Anggita, tahukah kau kalau perasaan ini pun telah ada sebelum Hesti datang, justru kedatangan Hesti yang telah membuat perasaanku terhadapmu kabur, tak menentu.
Tak terasa air mata meniti pipi jo yang berahang keras, dia membiarkan Anggita menunggunya semalam suntuk karena sebuah tugas. Jo yang membuat Anggita kehilangan pekerjaannya sebagai pegawai butik. Jo yang membuat Anggita sakit saat mereka pergi ke gunung. Argh, Johansyah kau memang tak peka sama sekali. Dia memukul kepalanya sendiri. Kali ini Jo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, jalanan sepi menjadi pelampiasan atas perasaannya yang tak menentu. “ Bodohnya aku.” Jo merutuki diri sendiri.
***

 Seminggu kemudian.
“ Di mana bukuku? Aduh, kok gak ada sih. Argh, kemarin tak taruh di sini kok gak ada ya??” Anggita kelabakan mencari buku kecilnya.
“ Halo,” Jo menelpon Anggita.
“ Hay, hemm, aku lagi nyari barang neh, telponnya nanti aja ya!” kata Anggita masih mengobrak-abrik lemarinya.
“ Apaan sih? Aku cuma mo ngingetin, besok kita jadi ke pantai kan?” Kata Jo ceria.
“ Oh iya, aku lupa. Hooh, jadi-jadi, perlu bawa bekal gak? Argh, gak ketemu juga. Nyebelin, nyebelin!” Kata Anggita masih tak bergeming dari tempatnya mencari buku.
“ Haha. Iya dong bawa bekal yang banyak dan enak, ok! Oh ya, besok kubantu deh! Pasti ketemu kalo aku yang nyari! Percaya deh! “ kata Jo yakin.
“ Pede banget sih! Emangnya kamu tahu, aku nyari apa?” Tanya anggita
“ Tahu dong!” Jawab Jo, sok yakin.
“ Yakin banget!” Anggita tersenyum ragu.
“ Jangan ngremehin Johansyah!” Kata Jo
“ Hahaha. Baiklah, akan kuberikan apapun kepadamu, jika behasil menemukannya! Haha, jangan sia-siakan itu Jo!Haha, udah ya, aku mo berangkat ke butik. Daaaa, sampai Jumpa besok Jo!” potong Anggita cepat.
“ Daaaa.” Kata Jo.
“ Aku memintamu untuk selamanya bersamaku, Ang!” Kata jo setelah telponnya terputus.
***
“  Selamat pagi Ang!” Sapa Jo. Pagi sekali ia datang ke kontrakanku.
“ Argh, Pagi banget dah dateng! Ntar ya, aku tidur 1 jam lagi. Hoammm.” Aku baru saja bangun dan hanya membuka jendela kamar supaya udara segar bisa masuk, tapi Jo justru sudah datang.
“ Perjalanan ke pantai butuh waktu 2 jam, aku gak mau mati kepansan di jalan, gara-gara kamu bangun kesiangan. Ayo bersiap!” Kata Jo memerintahku.
“ Argh, hoahm!” Aku menyerah dan segera bergegas mandi dan bersiap. Aku meletakkan beberapa bekal yang telah kusiapkan malam tadi.
“ Argh, aku masih ngantuk.” Aku masih saja menguap.
“ Kamu kan dah mandi, masih saja nguap lebar, kaya Buaya!” Jo mengetuk kepalaku sembari menyesap kopi panasnya.
“ Auwww, sakit tau. Huh!” Aku mengeluh berkali-kali.
“ Siap! Ayo berangkat.” Aku memasukkan bekal dan beberapa pakaian ke dalam tas besar.
Jo membawa Kijang Innova berwarna merah marun, entahlah dia belum pernah membawa mobil itu sebelumnya, mungkin pinjam dari kakaknya. Sepanjang perjalanan kami mengenang masa lalu, cerita-cerita terdahulu ternyata menguras banyak energi untuk tertawa, benar-benar nostalgia.
***

Suara debur ombak telah tercium dari jarak 300 meter, langit biru yang menghampar, tegalan dengan tanaman jagung dan ketela, rerimbunan pohon jati. Dan akhirnya, tampak pandan-pandan besar menjulang tinggi, laut biru, debur ombak yang putih dan tebing-tebing karang yang menjulang, kolaborasi yang sangat indah. Benar-benar memukau, rasanya segar sekali.
“ Welcome to the beach!Hemmmm segarrrr!!!” Aku masih terkagum-kagum dengan keindahan pantai. Setiap kali ke pantai setiap kali itu juga kekagumanku akan terulang, takkan pernah hilang.
“ Hemmm, sejuk banget!” Jo menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan oksigen akan segera habis jika tak segera ia hirup.
Indahnya pantai pasir putih, debur ombak yang dingin, meski matahari begitu menyengat tapi tak membuat langkah-langkah mereka terhenti. Masih berjalan menyusuri pasir-pasir yang putih. Aku dan Jo berlari mengejar debur ombak yang menyusut, lalu berlari lagi menghindari debur putih yang mendekat lagi. Jo menyeretku masuk ke ombak, berlarian dengan badan basah, wajah penuh pasir, tapi kami tertawa bahagia, sepertinya semua masalah terlupakan, disapu ombak, semua kegelisahan itu sirna seketika.
“ Hey, aku boleh ngomong gak?” Kata Jo, sok serius.
“ Apa sih, serius banget!” Aku masih cuek, dan khusyuk dengan sandwich bekal yang kubawa dari rumah.
“ Kamu gak capek po Ang?” Jo masih memandangku.
“ Capek ngapain? Hemmm, enak, mau?” Aku mengunyah dengan potongan yang besar. Dan menawarkannya pada Jo.
“ Heh, liat aku! Kamu bener-bener gak capek Ang?” Kata Jo semakin serius. Aku baru saja mau bilang apaan sih kamu. Tapi Jo buru-buru berkata.
“ Kamu gak capek ya berlari-lari dipikiranku terus!” Wajah Jo tersenyum jail.
“ Haha, gombal! Gak mempan gombalanmu ma aku Jo!” Aku bersiap mencubit pinggang Jo. Tapi tangan Jo memegangi dua tanganku. Dia menatapku lekat-lekat. Duh, ngapain sih ne orang bikin nervous aja.
“ Ngeliatnya biasa aja deh.” Aku benar-benar salah tingkah. Jo justru ngakak.
“ Hahahaha, kamu pikir aku mo ngapain coba, gak usah mbayangin yang gak-gak deh. Kebanyakan noton film korea sih kamu. Haha.” Jo ketawa cekikikan, sambil memegangi perutnya.
“ Sialan, Jo!” Jo berlarian, dan aku mengejarnya, kami benar-benar seperti anak kecil yang sedang bermain-main.
Siang hari berlalu begitu cepat, secepat ini rasanya waktu terlewati saat bersamanya.
“ Udah sore neh, sana mandi, po ngapain kek. Aku mo beli sesuatu, untuk persiapan ntar malam.” Kata Jo, dia bersiap pergi.
“ Ngapain? Trus mo kemana? Trus, kamu ninggalin aku sendiri gitu. Ntar kalo ada tsunami gimana? Kalau aku diculik gimana? Kalo kamu gak balik aku pulang ma siapa? Ntar…” Aku masih mau melanjutkan saat jemari telunjuk jo menyentuh bibirku. Duh, mati aku, gelagapan.
“ Aku bakal balik ke sini kok, gak bakalan ninggalin kamu Ang! Daaa, pipimu ehmmm, enak dicubit, haha.” Jo mencubit pipiku dan pergi dengan mobilnya.
“ Sialan, jangan lama-lama ya! Daaaa.” Sadarkah dia dengan perubahan rona wajahku. Aku melambaikan tangan kepada Jo.
Sore hari di tepi pantai. Aku berjalan-jalan sendiri, melihat banyak pasangan muda dan berkeluarga yang ada di pantai itu. Ramai tapi tak terlalu ramai. Berbekal kamera poket usangku, aku menaiki bukit karang yang mudah kujangkau, di sana ada beberapa bukit karang dari yang terjal hingga yang cukup landai sehingga bisa dilewati. Aku memilih bukit karang yang landai tapi tetap bisa melihat matahari terbenam.
Warna biru itu tampak menyatu disuatu belahan selatan sana, tampak biru laut yang sedikit gelap dan biru langit yang cerah menyatu seperti ada garis yang memisahkan keduanya. Di sebelah barat, mega senja tampak menguning kemerahan, sinarnya membuat mata menyipit. Angin laut menerpa wajahku, membuat perasaan segar dan gelisah menjadi satu. Buih ombak putih, mengenai pipi dan tak sengaja nempel di bibir, pas dijilat asin. Hehe.
Ini sudah lepas maghrib, aku baru saja duduk di beranda tempat kami menginap, sambil menyesap God Day Coolin yang bikin tenggorokan cool banget. Mataku bmenyapu pandang melihat para pemuda-pemudi yang bermain gitar sembari tertawa, mengelilingi api unggun kecil yang menyala-nyala menimbulkan percik-percik bara merah yang indah, tampak di kegelapan malam.
“ Permisi, ini benar mbak Anggita?” soerang Bapak berkumis tebal datang menemuiku.
“ Eh, iya pak. Ada apa ya?” Aku sedikit terkejut.
“ Ini ada kiriman dari seseorang.” Si Bapak berkumis menyerahkan kotak kado yang berwana pink dengan gambar bunga mawar merah.
“ Dari siapa ya pak, eh pak, pak, weh malah pergi.” Bapak berkumis itu langsung pergi setelah aku menerima bungkusan kado itu.
Aku masuk ke kamar dan membuka bungkusan kado cantik itu.
“ Oh, tidak!” Aku terpekik. Itu adalah sebuah gaun berwarna merah marun, sepatu Pantofel berwarna hitam dengan bunga merah diatasnya, dan liontin berwarna senada. Semuanya berwarna merah. Cantiknya.
“ Dari siapa ya? Jangan-jangan salah kirim.” Aku masih merasa penasaran dan tak tahu itu benar untukku atau tidak. Ternyata ada sebuah kartu berwarna merah, benar-benar merah.
“ Bersiaplah, aku menunggumu selepas isya. Ikuti lilin disepanjang jalan, jangan sampe nyasar, beruang gembil ^_^
Kenakan apa yang telah dikirimkan kepadamu, mengerti!”
“ Apaan sih Jo? Jangan-jangan dia mo jadiin aku tumbal, Oh Tidak. Tidak, tidak.” Pikiranku sudah mulai melantur kemana-mana.
Meski ragu, aku mengenakan gaun merah harti itu, hemm, sepertinya itu cocok untukku. Masih berkutat di depan cermin, tiba-tiba ada seseorang memanggilku.
“ Permisi, mbak Anggitanya ada?” Seorang perempuan setengah baya tiba-tiba ada di depan rumah panggung itu.
“ Oh iya Bu, saya Anggita, ada apa ya Bu?” Masih penasaran dengan Bapak berkumis tebal, kali ini datang Ibu-ibu, aku merasa aneh dan janggal.
“ Ini ada titipan dari orang mbak. Permisi ya mbak.” Si Ibu langsung “ngeloyor” pergi.
“ Eh, Makasih Bu.” Aku memegang seikat mawar merah. Wah siapa lagi ini. Haduw, perbuatan seseorang yang  benar-benar menakjubkan, masihkah dari Jo? Hemm, entahlah.Tak ada vas bunga. Aku meletakkan bunga itu pada botol aqua yang isinya tinggal setengah. Cantik sekali.
“ Drrrt..drrrrt..” Suara getar handphone ku, membuyarkan perhatianku pada bunga mawar itu.
“ Hey, cepatlah datang! Darahku hampir habis di sedot nyamuk!” Pesan dari Jo.
Aku menatap jam dinding. Ternyata sudah jam 08.00. Aku pun segera bergegas, berjalan keluar rumah, udara di luar terasa sejuk, angin bertiup pelan membuat rambut sebahuku beterbangan diterpa angin malam. Sengaja kugeraikan rambut yang biasa kukuncir. Hemmm, entahlah, kupikir supaya sesuai dengan pakaian yang kukenakan. Aku berkaca di jendela kaca depan rumah. Hemmm tidak buruk. Let’s Go!
Kupikir pesan tentang mengikuti lilin itu tidak benar. Tapi ternyata benar, disepanjang jalan ada lilin yang menyala, sepertinya menuju suatu tempat. Aku berjalan pelan, dan berhenti tepat didepan tebing yang cukup tinggi, lilin-lilin itu tetap menyala karena ada pelindung disampingnya.
“ Kapan si Jo sempat bikin kaya gitu?” Kataku dalam hati.
Pelan-pelan aku menaiki tebing karang itu, mulanya sedikit ragu, tapi aku tetap mempercepat jalanku. Terbiasa berjalan cepat dengan celana kolor atau jeans, gaun selutut itu tak membuat langkahku lambat. Aku kembali berhenti, di depanku nampak sebuah gubug dari bambu. Hemmm, ada banyak lilin disitu. Tapi di mana Jo, dia tak kelihatan.
“ Argggghh!” Aku menjerit keras, ketika dari belakang ada seseorang yang menutup mataku dengan kedua telapak tangannya yang besar.
“ Hei, ini aku, jangan berteriak, nanti dipikir kita lagi ngapain.” Jo masih menutup mataku.
“ Ngapain sih Jo?” Aku bertanya.
“ Tetaplah berjalan, pelan, hati-hati!” Jo menuntunku pelan-pelan.
“ Sampai.” Jo membuka telapak tangannya. Membiarkanku melihat indahnya langit hitam yang penuh kerlap-kerlip malam. Dan, saat membalikkan badan aku melihat lilin-lilin yang disusun rapi dengan indah, membentuk sebuah lengkungan tanda Love.
“  Wouw ” Aku melongo melihat apa yang ada di depanku.
“ Bolehkah Aku memintamu untuk membersamaiku selamnya Ang?” Tulisan itu ada di dalam lengkungan Love dari lilin-lilin yang menyala.
“ Mungkin selama ini aku menutup mataku, membiarkan seorang bidadari disampingku terabaikan begitu saja!” Jo menatapku lekat-lekat.
“ Jo…” Aku tak mampu berkata-kata. Entahlah, perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Aku hanya bisa tersenyum malu, mencoba menyembunyikan rona merah pipiku dan debar jantungku yang bertalu-talu.
“ Ehmmm, kau tahu Ang!” tanya Jo.
“ Apa?” Aku balik bertanya.
“ Tadi aku dapat sms “ Jo pelan
“ Hemmm, dari Hestikah?” Aku mencoba menebak.
“ Bukan.” Jo menggeleng.
“ Lalu?” Aku bingung.
“ Dari malaikat di langit, katanya satu bidadari yang ada di kahyangan hilang satu.” Kata Jo berwajah serius.
“ Maksudmu?” Aku berkerut serius
“ Bidadari itu kabur dari kahyangan dan sekarang ada di depanku.” Kata Jo tersenyum.
“ Hahaha, Jo!” Aku mencubit Jo.
“ Ouw, sakit Ang! Lagi dong, haha” Jo tertawa nakal.
“ Ih, genit!” Kataku sembari duduk.
Jo berjalan dan mendekatiku, dia duduk di bawah, memegang kedua tanganku dan menatapku, tajam, terlalu tajam. “ Shit, bener-bener bikin jantung mo copot ne orang. Argh.” Aku membatin.
“ Kamu ngapain Jo?” Kataku lirih.
Jo mengambil sesuatu dari balik jas hitamnya yang tampak elegan dan serasi dengannya. Ehemm, duh jantungku mulai deg-deg ser lagi, dibalik cahaya malam yang remang mata Jo semakin tajam, membuatnya semakin mempesona. Oh tidak kegilaanku muncul lagi.
“ Hey, kau terpesona dengankukah Ang? Kau menatapku terlalu lama, lihat air liurmu menetes.” Jo menyentuh ujung bibirku, dan tertawa jail. Aku menampik tangannya.
“ Ouwww, sakit!” Jo mencubit pipiku.
“ Jangan macam-macam kamu Jo!” Aku menatapnya dengan tatapan yang sinis.
“ Tenang-tenang, Argh, kau merusak suasana romantis ini Ang. Biarkan aku bicara sebentar 15 menit, hemmm 10 menit, Ok!” Jo memintaku untuk kembali pada topik utama kami.
“ Anggita, mungkin aku butuh kacamata. Kacamata yang bisa menembus hati seseorang, sehingga aku bisa melihat cinta yang tersimpan untukku di dalamnya. Maaf, tanpa seizinmu aku membaca buku kecilmu ini.” Jo mengeluarkan buku catatanku yang berisi semua tentangnya. Oh, tidak, aku tertangkap!
“ Jangan marah! Tanpa buku ini, mungkin aku tak pernah sadar. Menyadari bahwa kaulah yang selama ini ada disampingku, kapan pun aku membutuhkanmu. Kau yang selama ini menemani hari-hariku, membuat hariku berwarna seindah rona wajahmu saat ini. Ah aku pandai menggombal ternyata! Ehemm, baik aku tidak akan bercanda.” Jo sedikit kikuk,
“ Ah sudahlah, aku akan langsung masuk pada intinya saja. Aku mencintaimu Anggita Hapsari, Maukah kau menjadi pendampingku hingga akhir hayatku, bahkan kehidupan setelah matiku. Ang!” Jo benar-benar menatapku tajam, setajam mata elang yang siap menerkam mangsanya.
Mataku membulat. Aku tertegun seketika, tak tau apa yang harus ku ucapkan saat itu.
“ Aku harus menjawab apa?” Aku menjawab Jo dengan sebuah pertanyaan balik.
“ Jawablah sesuai dengan doa mu dalam diary kecilmu ini.” Jo menatap mantap.
“ Ehem, kamu dah tahu semuanya Jo! Yang selama ini aku simpan rapat-rapat. Selama ini, aku selalu berdoa semoga kau melihatku, karena aku ……. Aku mencintaimu Jo, dan Aku bersedia menjadi pendampingmu, selamanya.” Aku menjawab Jo dengan mantap.
“ Terima kasih Ang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. ” Sebuah kecupan manis itu mendarat mulus dikeningku. Oh, it really wanna make my herat jumped out and run away. God, You Make my wish really Happen, Now.
Diiringi alunan merdu jangkrik dan debur ombak, semilir angin malam menampakkan awan kelabu, bintang gemintang mengintip malu-malu, menatap dua insan yang sedang berikrar untuk meniti tapak-tapak jalan bersama, selamanya.
***

Posted in Uncategorized | 2 Komentar

Gurat Cerita Sepotong Hati pada Bangau Lipat

Kamis, 17 November 2011

Selalu saja mendadak sakit perut dan ingin ke belakang ketika sudah berada pada posisi pewe ( puenak bwanget ), amat sangat tidak nyaman membuat pikiran yang siap mencurahkan segala perhatian pada larik-larik huruf terpampang didepan mata buyar, hilang seketika dan memunculkan butir-butir keringat dingin sebesar biji-biji jagung, Ouwh, Menyebalkan!

November, bulan hujan yang lama dinanti akhirnya datang juga. Hal yang dirindu oleh hampir semua penduduk bumi, rintik hujan, bulir dingin bening yang menyejukkan itu kini telah hadir kembali. Setelah sekitar 6 bulan daratan ini bertambah gersang dan panas. Pohon jati meranggas, rumput teki mengering, bunyi kodok tak ada, musik alam yang sunyi, hanya ada sengat mentari yang setia hadir dan temaram setiap saat, setiap hari, dan jangan cepat lelah untuk setia. Kini, mentari masih sama, setia muncul dan temaram setiap hari memberi kehangatan dan sengat berlebih pada wajah bumi yang mengering, tapi sore hari kadang ada bunyi kodok yang bersahut-sahutan, meningkahi rintik hujan yang menyejukkan kala bibir-bibir runyam tengah menghujat kesetiaan sang mentari. Alunan merdu mengalun seiring musim berganti, walaupun tak seirama dengan ritme matahari, sedikit berubah, sedikit berbeda, sedikit-sedikit bencana dan musibah menimpa, di sana-sini saling menyalahkan.
Argh! Perlu sesuatu hal yang sedikit radikal dan benar-benar tak terduga untuk menyelamatkan wajah bumi yang sedikit menua, mungkin tak boleh ada orang di bumi ini yang mempunyai sepeda motor, dan mobil pribadi, hanya boleh ada angkutan umum saja. Pasti sedikit berkurang jumlah karbondioksida yang menyesaki udara, tentu dengan fasilitas umum yang memadai dan pelayanan yang baik, ojo koyo ora di gaji, wes digaji kok ra gelem ngguyu. Huh, akhirnya sedikit keluh keluar juga, fiuh, dasar manusia.
***

Masih melamun dengan khusyuknya, wajah sayu itu sepertinya tengah lelah. Sedikit mengantuk dan juga lapar, duduk sendiri di pojok kantin kampus yang sedang sepi, sepi untuk ukuran kampus karena ini sudah pukul 17.00 WIB. Satu tangannya menopang dagu, satu tangannya memegangi perut sebelah kanan, sedikit meringis dan bergumam, membiarkan angin sekitar membelai wajah nya, kerudung biru dongkernya sedikit berkibar, pin kecil tersemat manis di samping kanan dada atas. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

“ Hai!”

Dari kejauhan nampak seorang pemuda tinggi, kulitnya sawo matang, matanya sedikit sipit, dan tidak tersenyum. Langkahnya tegap, berirama mantap, cepat dan pasti. Pasti mengayunkan kaki-kaki panjangnya ke meja sudut, meja si gadis berkerudung biru dongker itu. Aku tak bisa menangkap percapakan mereka, sepertinya mereka saling menyapa, oh tidak ternyata mereka saling mengomel, mungkin tentang kuliah tadi, si pria tadi menyebut-nyebut nama pak ini dan bu itu, dan si gadis sedang menyebut beberapa nama, jangan tanya aku karena aku juga tak tahu. Gadis itu memandang laki-laki didepannya dengan penuh antusias, penuh senyum, dan melupakan segala rasa yang menyebabkan dia meringis-ringis mungkin menahan rasa sakit nya karena menunggu laki-laki itu.

Kali ini mereka tampak pergi berdua, entahlah, aku begitu penasaran dengan gadis itu,aku sudah duduk dikantin ini sejak pagi karena sedang bingung hendak pergi ke mana dan mau mencari inspirasi, kemudian datang gadis itu dua jam setelahku. Dia menunggu sesuatu sepertinya, dari jam 12.30-16.30 WIB, cukup lama bagiku hanya jika untuk menunggu seorang laki-laki. Fiuh, tapi itulah perempuan rela menunggu berapa lama pun untuk orang yang dicintainya. Ups! Kulihat gadis itu menulis sesuatu di kertas, kemudian melipatnya menjadi bangau-bangauan, lipatan yang sederhana dan biasa diajarkan pada anak TK, aku tahu itu karena adikku masih TK dan aku sering mengajarkan cara melipat bangau kepada adikku. Lalu dia mengambil kertas itu lagi, menuliskan sesuatu dan membuat bangau-bangauan, lagi, entahlah sampai berapa kali, ku hitung ada sekitar lebih dari 30 bangau-bangauan yang tergeletak manis menemaninya, hingga ia berhenti dan kemudian meringsi-ringis memegangi perutnya. Setelah ada seseorang menyapa “ Hai!” dari jauh itu datang, ia buru-buru memasukkan bangau-bangau kecil itu ke dalam tas ranselnya yang cukup besar, ups, tapi ada satu bangau yang terjatuh dan dibiarkannya saja tergeletak.

Ku hampiri meja di sudut itu, dan aku duduk di sana sebentar kemudian aku mengambil sebuah bangau lipat yang terjatuh, rapi, dan cantik, gadis itu membuatnya dengan sungguh-sungguh. Aku mencoba menguraikan lipatan-lipatan itu dan ups maaf, aku membacanya teman, sebuah tulisan miring, rapi dan indah

Aku yakin kau pasti datang

Sepertinya setiap satu bangau dia menuliskan sesuatu, entahlah aku semakin penasaran padanya. Esok aku harus ke sini, ingin tahu tentang gadis itu, keyakinan seorang gadis pada seorang pria.
***

Esok hari yang cerah setelah berkemas-kemas, melakukan aktivitas rutinku setiap pagi, aku kembali ke kampus, bukan untuk mencari dosen atau mengambil mata kuliah karena kuliahku memang sudah usai, aku hanya ingin mencari inspirasi.

Sembari menyelesaikan paper yang belum ku kumpul, aku menanti kisah selanjutnya yang mungkin akan mewarnai hariku berikutnya. Siang sampai sore aku sama sekali tak menemukan dia, gadis biru dongker yang suka bangau. Aku bangkit dengan sedikit tergesa sekitar pukul 15.40, terburu-buru aku menarik kursi dan membalik badan, seraya menjinjing tas laptop serta berkas-berkasku, kamera dan semuanya telah kumasukkan tiba-tiba seseorang tak sengaja menyenggol berkas-berkasku lain yang ada di kursi, dia terburu-buru mengambilnya dan ups.

“ Maaf mbak, aduh maaf-maaf, bener-bener nggak sengaja, semoga ini gak rusak ya mbk”, Gadis yang kucari itu, gadis biru dongker yang suka membuat bangau lipat dari kertas.

“ Oh iya , gak papa mbak, itu gak terlalu penting”, itu hanyalah coretan lusuh, aku sudah menemukan yang ku tunggu, kataku dalam hati

“ Sepertinya, mbk bukan mahasiswa sini ya? Jarang kelihatan, dan hemm, sedikit berbeda” katanya ramah

“ Iya, saya memang bukan anak sini kok, Cuma mau maen bentar nyari udara seger, mumpung masih muda, sering jalan-jalan, jalan-jalan yang sedikit berbau akademis kan di kampus, hehe” gurauku

“ Ah mbak bisa aja, kenalkan aku Tari” mengulurkan tangan

“ oh iya, Gita” ku sambut tangan lembut itu dengan jabat erat.

“ Eh, duluan ya mbak, maaf temanku udah nunggu di sana” katanya sambil mengangguk tersenyum.

“ Mari silahkan ” balasku senyum.

Dia lebih manis dari hari kemarin, tampak lebih segar dengan wajah berseri dan jilbab berwarna biru muda, sepertinya dia sangat menyukai warna biru. Satu tangannya memegang bangau-bangauan kecil yang terbuat dari kertas lipat warna biru dongker, nah biru lagi. Dia melenggang lega, menuju meja sudut seperti biasa. Ternyata sudah ada seorang gadis manis cantik, imut dan kalem, dengan rambut sebahu yang tergerai, sudah kulihat gadis ini tadi sekilas waktu aku akan balik pulang ternyata dia datang, entahlah sekarang aku duduk kembali dan asyik memperhatikan mereka berdua, sigadis biru dongker, dan gadis berambut sebahu.

Tiba-tiba sekitar 15 menit kemudian laki-laki yang kemarin datang. Ia menepuk bahu si gadis biru dongker dan kemudian langsung duduk di sebelah gadis berambut sebahu yang dengan manisnya tersenyum, sedikit mencondongkan kepala ke pundak si laki-laki, dan dengan lembutnya membelai rambut si gadis itu, aih-aih, mataku menangkap sesuatu hal yang nampak berbeda dari si gadis berkerudung biru itu, siapa tadi namanya Tari, ya Tari. Air muka Tari nampak berbeda, nampak berubah walau hanya sedetik lalu ia kembali tersenyum lebar dan kemudian kembali terlibat pada obrolan yang sepertinya sangat hangat, lihatlah Tari tampak tertawa bahagia, dan keduanya juga. Selang 20 menit aku telah kehabisan memori untuk memotret mereka, sepertinya memori card ku kelebihan muatan, Fiuh.

Laki-laki dan gadis berambut pendek itu meninggalkan Tari sendiri. Tari melambai dan masih tertawa, satu tangannya memegang dada, dan satu tangannya kemudian meremas bangau kecil yang sedari tadi menjadi saksi sebenarnya ada apa dengan perasaan Tari. Tari terdiam, lalu pergi, ah dia tak menuliskan sesuatu dan tak membuat bangau-bangauan kecil lagi. Padahal itu yang ku nanti, seperti memperoleh teka-teki atau jawaban atas teka-teki. Dia berjalan bergegas dan membuang remasan bangau itu.

Aku menghampiri tempat sampah dan mengambil remasan kertas itu, ku buka pelan-pelan dan kulihat :

Aku tak Boleh mencintaimu

Aku terdiam, ah gadis yang tengah resah ini sungguh menarik, kulirik jam tanganku pukul 17.00, ah shit! Roy pasti sedang mengomel dikantornya karena aku belum datang, berkas rapat itu ada di tanganku aku telat 1,5 jam, haha, whatever! I like it.
***

Hoammmm, sedikit mengantuk dan lelah, setelah seharian bekerja dan mendapat omelan berkali-kali dari sobat sekaligus bosku tercinta, Roy Kusuma. Kini aku harus segera menyelesaikan deadline catatan tentang perjalananku beberapa hari yang lalu saat ke Puncak Rinjani. Ah sudah tergeletak terlalu lama, ayo selesaikan. Aku membuka laptop merah kesayanganku yang sudah lusuh dan sedikit tua, disampingya ada sebuah buku, buku harian tebal yang sangat setia menemaniku, kubuka pula buku itu dan aku terhenti pada sepotong kertas segiempat penuh dengan bekas-bekas lipatan, Oh Tuhan, aku sempat melupakan dia, gadis berjilbab biru dongker yang suka membuat bangau lipat, apa kabarnya sekarang, satu minggu sudah aku pergi dan tak menengoknya lagi dikampus rindang itu.
***

Pagi-pagi benar aku bangun dan kembali ke kampus, aku mencari gadis itu dengan sungguh-sungguh. Aku bertanya pada ibu kantin.

“ Oh , mbak Tari yang baik itu ya, yang pakai jilbab seringnya warna biru itu tho, iya-iya, kalau gak salah kemarin dia pingsan di meja pojok sana, trus sekarang masih di rumah sakit”

“ Loh kok, bisa pingsan bu?”

“ Waduh gak tau e mbak, coba ke Rumah Sakit saja”

Aku bergegas ke rumah sakit berdasarkan alamat yang diberikan oleh ibu kantin. Ku buka pelan-pelan pintu kamar 303 itu. Sepi, putih, dan satu yang aku yakin itu pasti dia, banyak sekali bangau putih tergeletak di meja samping tempatnya tidur, mungkin ratusan. Dan dia terbaring di sana, tampak lemah. Ku hampiri wajah pucat itu, dan ada sebuah bangau lipat berukuran cukup besar tergeletak, bangau yang kokoh kau pasti kuat terbang ke manapun kau mau wahai bangau, batinku, jika kau benar-benar bisa terbang.
Sepertinya ada tulisan di dalamnya.

Tuhan menitipkan sepotong hati ini padaku
Dan
Hati ini tertaut padamu
Kau yang tak pernah melihatku
Maafkan aku yang terlanjur mencintaimu
Dalam diam
Aku tak perlu kau menahu
Tapi sejumput asa di dada ringkih ini selalu memaksaku menanyakan ini padamu
Apa yang harus kulakukan agar kau melihatku?
Aku mencintaimu

Aku terdiam, tak kuasa melihatnya.
Ku usap pelan wajah ini, dan ku hapus segera air mata yang buru-buru mengalir di pipi.
Lama aku berada di ruang itu, dan aku tahu tentang Tari bahwa Tari adalah gadis yang sangat menarik energik dan aktif dalam segala hal, gadis itu tersungkur oleh pahitnya cinta hingga kesehatannya memburuk. Dia ternyata terkena gagal ginjal, parah, dan tak ada yang tau. Tari yang sangat ramah pada semua orang tapi dia sendiri tidak ramah pada dirinya. Dia menambatkan hatinya pada seorang laki-laki yang tak mampu melihat sepotong hati yang begitu indah di depannya.
Tuhan berikanlah yang terbaik untuknya. Amin

Posted in Uncategorized | 2 Komentar

Kepak Sayap yang tak sampai

Akhir tahun sekolah menengah atas membuat kebanyakan siswa SMU sangat bersemangat. Bersemangat untuk cepat-cepat lulus dan menuju jenjang perguruan tinggi yang diimpi-impikannya. Lewat tayangan televisi ataupun Film, banyak dikisahkan indahnya masa-masa kuliah, bebas, santai dan begitu menyenangkan. Tapi percayalah, masa-masa Sekolah di SMA adalah masa yang paling indah itu jika di SMA kalian mendapatkan banyak sahabat dan guru yang begitu care dengan kalian. Itu menurutku ^_^
tapi tak hanya aku, begitu juga delisa. Gadis kecil itu begitu menikmati masa-masa SMA, sahabat, guru, dan semua serba-serbi yang begitu menarik.

Kini setelah ia duduk di bangku kuliah merasakan “nikmatnya” bangku kuliah yang ia dambakan sejak SMA itu sebenarnya tak seindah yang ia bayangkan sebelum ia masuk di bangku kuliah.
” Huft…..” Delisa menarik napas dalam.
” Kenapa tho del, kok menghela nafas gitu. Capek kamu? ” tanya seorang cowok tinggi besar, berambut sedikit gondrong, bermata coklat besar, rahang yang kukuh, dan cuek. sembari menikmati sepotong bakwan yang sepertinya masih hangat.

” Hefth, ternyata kuliah tak seenak yang aku pikir dulu ya ko’, polos banget sih aku. ARghhhh, enakan makan bkwan ” kata Delisa, sembari mencari-cari bakwan yang ia taruh disamping temannya Handoko.
” lhoh, Mana bakwan ku? weits, kok tiba-tiba raib sih. Hemmm, tak pastiin ne kamu yg makankan ko’!? Balikin!Bakwanku Balikin, ARghhhhhh!!!!DOko!!!!” teriak Delisa mngejar Handoko yang lari kelimpungan.

” Sorry del, bentar tak ambilin lagi lima sekalian, haha” teriak handoko sambil berlari tertawa-tawa riang.

Gelak canda riang dua sahabat yang baru berkawan sejak dibangku kuliah. Terlalu sering bersama,  ke mana-mana berdua, jalan berdua, ngerjain tugas satu kelompok, satu sama lain sepertinya saling tergantung. Ada jenak-jenak rasa yang sulit diartikan bagi Delisa ketika bersama Doko, Handoko yang membuatnya tertawa dan melupakan penatnya jalan hidupnya yang keras. Hubungan yang terlalu akrab telah membawa perasaan Delisa terlalu jauh berlalu, brelalu dari kenyataan dan mebawanya terbang ke singgasana cinta. Mungkinkah ini hanya perasaan Delisa saja? Entahlah, Handoko terlalu baik kepada semua orang, kepada semua wanita, dia terlalu ramah. Maka tak tampak satu pun perbedaan perasaannya terhadap satu wanita pun.

Malam kian larut ketika sesosok wajah dingin itu muncul di depan rumah Delisa, ia terlonjak kaget menatap Handoko yang tiba-tiba sudah ada di depan matanya. Padahal baru saja ia mengirimkan message “Kering, Ko!”
Kalimat singkat itu cukup membawa Handoko sampai di depan mata dalam waktu 15 menit. Tak ada jarak yang tak bisa ditempuh sepersekian menit demi seorang ” sahabat” yang tengah gundah gulana.
” 15 menit, cepet banget, gak kaya biasanya kalau kamu berangkat kuliah” sapa ejek Delisa, mencibir Kebiasaan telatan sobat encernya itu. Sembari menutupi sisa-sisa tangis yang baru saja mengguyur pipi mungilnya.
” Haduwh, aku cepet-cepet ke sini tu gara-gara inget besok ada tugas trus aku lum tahu apa tugasnya, mo nanya kamu sekalian pinjem buku, Wuekkkkkk” Handoko mengalihkan pembicaraan dari topik kebiasaan ngaretnya.
” Ngelessssss……….Wuekkkkkkk” singkat delisa
” eh, Bapak kamu peramal ya….”
” What?!” Delisa
” Soalnya kamu tahu kalo tadi aku habis ngelesss, hehehhe” garing, Handoko.
” Heh, gak Lucu”

Bulan temaram, langit malam yang kelam, dinginnya malam mematuk-matuk kulit yang bergesekan dengan angin.

” Aku …..” Delisa terbata
” Mbok bilang aja nek kamu suka ma aku del…” Gurau Handoko
” Ah shit, kok kamu tahu!hahahaha, aku emang suka ma kamu Handoko sayang, suka nimpukin, suka minta di jajanin, suka jahilin, hahahaha, ” kata-kata yang muncul meluncur mnais tanpa tedeng aling-aling, ringan tanpa beban. Geletar tipis yang tak disadari merasuki klbu, mulai meluluhkan hatinya yang keras.

” Ayey, akhirnya ngaku juga..hahahaha” tawa ringan
” Gila”
” sapa yang gila? kamu?”
” Kita…”
” Hahahhaa” tawa delisa dan Handoko bersamaan
” Aku bingung dok, mesti ngapain, mesti crita apa, mulai dari mana, bener-bener aku bingung”
” ….Tell me, now!” wajah handoko serius, menatap lurus mata delisa. Mata sipit yang diam-diam selalu dicarinya saat tak ada di kelas.

” Bapak sakit, Ibu pergi, adik-adikku terlantar, aku ,,,,,,,,bingung” lirih delisa
” Jangan khawatir Del, Bapakmu pasti kuat, adik-adikmu kan bisa kamu jaga sepulang kuliah, ada mbok dhemu  yang bantu, Ibumu pasti pulang, yakin deh…” Handoko tegas
” Aku cuma bisa pasrah”
” Jangan dong, masak pasrah, sini tak apa-apain kalo pasrah gitu” Nakalnya kumat sambil mencubiti pinggang Delisa
” Eh, ngawur. Dasar otak mesum. Jahil!!!!Awas kamu!”
Saling berkejaran, tertawa, menghilangkan semua peluh hidup yang menyesaki pikir. Rembulan temaram, mengintip malu-malu pada dua insan yang tertawa riang, yang tak saling menyadari bahwa hatinya telah slaing terpaut.
***

” Dari mana Ko? ” sapa Ibu Handoko
” Dari rumah Delisa Bu, maen” jawab Handoko ringan
” Kok maen terus sama Delisa, jangan sampai kamu lupa kalau kamu sudah punya Reni dan bulan depan kalian akan bertunangan, Ibu gak mau….”
” iya bu, iya, Doko ngerti Bu, Doko cuma pengen hibur Delisa yang lagi sedih kok Bu, gak ngapa-ngapain, Ibu gak usah khawatir” Jawabnya seraya pergi menuju kamar.
” Eh, kemana kamu…Ibu belum selesai bicara udah ditinggal, aduh anak jaman sekarang makin hari makin bisa nglawan sama orang tua, prihatin-prihatin!” gerutu Ibu Handoko Keras.

Tiba-tiba….
” Ada apa bu, panggil Atin” tergopoh-gopoh pembantu Ibu Handoko yang bernama Prihatin datang ke ruang tengah.
” Siapa yang panggil kamu, saya lagi marah bukan manggil kamu, sana ke dapur lagi!” kata Ibu Handoko geram dan berlalu pergi.
” Lha pie tho, mau manggil-manggil, prihatin-prihatin, eh wes teko malah dikon budal, ono-ono wae Bue ki, huft” Gerutu Atin sambil kembali ke Dapur.

***

Detik tak berhenti berdetak, jam tak memelankan jalannya, haripun kian berganti hari, berganti minggu. Memasuki musim penghujan, semuanya waspada membawa mantol dan payung untuk melindungi diri dari hujan.

Pagi yang sedikit mendung, semakin lama awan semakin menghitam menyembunyikan gurat ceria sang mentari pagi.

” Duh kayaknya mau ujan ya Del,” kata anisa teman sekelas Delisa
“Hooh ne, gak bawa payung lagi, huft…” kata Delisa sambil mencari-cari seseorang.
” kamu nyari siapa sih, dari tadi jelalatan melulu” tanya Anisa
” Enggak, cuma, …..”
” Hoy…..” Handoko datang tiba-tiba
” Doko…!!!!!!” teriak Delisa dan Anisa
” Hahahaha, sory deh, kalian sih bengong, nungguin aku ya?”
” Ih, pede!”
” eh pak Slamet dah datang”
” Selamat pagi?”
” Pagi pak!”

Siang hari pun tak menunjukkan kerukunannya dengan sang mentari, langit masih mendung, bahkan semkain gelap, tak tampak wajah lazuardi merona.
Handoko menulis sesatu untuk delisa pada secarik kertas
Ntar jangan pulang dulu, aku mau cerita
Handoko

Soal apa
Delisa

Rahasia, :P
hehe
Ntar Deh
Handoko

Huh, :P
Ok
Delisa
Bau wangi pagi hari udara kampus  telah berganti, berganti dengan bau keringat yang tak keruan. Wajah-wajah ayu dan segar mahasiswa dan mahasiswi telah berganti dengan wajah sayu, dan mengantuk. Kuliah berturut-turut full satu hari penuh membuat semangat naik turun, apalagi wajah mentari tak secerah kemarin.

” Akhirnya berakhir juga kuliah beruntun hari ini”kata Handoko lega, sambil merentangkan tangannya lebar-lebar
” Hooh, alhamdulillah”Kata Delisa, Lega.

” Eh gimana kabar Bapak Del” Tanya Handoko Pelan
” Hemm, Alhamdulillah Bapak udah baikan, udah bisa ke sawah lagi” senyum Delisa
” alhamdulillah ya Del, hemm, kalo Ibu” lebih pelan lagi
” Belum tau kabar Ibu…belum ada beritanya” muram Delisa
” Maaf ya, jadi ngingetin kamu”
” santai aja lagi Ko, katanya tadi kamu mau cerita” tanya Delisa
” oh iya del, aku mau bilang sesuatu sama kamu”
” Apa?”
” Minggu besok Aku tunangan sama Reni, Inget gak? Reny yang dulu pernah aku kenalin ke kamu, yang manis, putih dan lucu itu lho. Kan Orang tua kita dah lama temenan, jadi ya buat mempererat hubungan dan kerjasama, hehe, aku juga suka dia lucu :D . Dateng ya, sobat kecilku yang imut kaya marmut, Ok, ok” Kata Handoko berpanjang lebar.

Deg, detak jantung Delisa sepertinya berhenti sejenak. Seperti ada sesuatu yang mencelot keluar dari dalam tubuhnya.
” Hemmm, hahaha, keren tuh, Pastilah aku dateng, buat kamu apa sih yang enggak, haha, selamat ya Ko. Eh Udah mau Ujan, pulang dulu ya, kita sambung besok, Daghhhhhhhhhh!” Kata Delisa, mencoba bersikap biasa saja, sambil berlalu pergi.
” Del, hey, ,,,Hati-hati di jalan” teriak Handoko

Langit tak kuat membendung jumlah air di dalamnya, Seperti itu juga perasaan Delisa tak kuat membendung sebuah perasaan kecewa nya, derai tangisnya mengalir perlahan  bersama rintik hujan yang deras turun berdebam di atas aspal kering yang kasar.
Seperti dikejar hujan deras dan tangisnya sendiri
Langkah-langkah cepat Delisa berpacu, “Tangis, benarkah aku menangis, apa yang aku tangisi, apa!”
” Arghhhh!”
Tergugu ditenggah gigil hujan, merutuki perasaan yang muncul seperti itu, sesuatu hal yang tak pernah ia perhatikan selama ini, bahwa ternyata Delisa mencintai sahabatnya sendiri, sahabat yang selalu mebersamainya. Handoko.

Posted in Uncategorized | 4 Komentar

Padda oryza dan Delias pasithoe

Selasa pagi yang segar, sejuknya pagi hari. Sahabatku baru datang dari kota di sebelah barat sana, tetangga Kota asalku, Kota mendoan Porwokerto.
Memang berencana untuk main di Kota Gudeg, sembari mengikuti kegiatan ulang tahun 1 tahun FOBI.
Setelah hari-hari sebelumnya kita jalan-jalan dengan naik sepeda onthel, terus muter-muter kampus, makan di basecamp BIONIC, hunting objek di Taman Makam Kyai Langgeng Magelang. Kali ini, kita berencana mau pengamtan di Prambanan, misinya adalah ketemu dengan gelatik jawa ( Padda oryza ). Aku, Ebet, dan Mas Imam.
Sebelumnya malam selasa,
” Eh, besok kita pengatannya setengah hari aja ya, aku ada acara di Klaten”, kata Mas Imam, si embahnya manuk, hehe.
” Ok deh mas”, sambut kita.

Sepertinya hari selasa memang hari yang sangat menyenangkan untuk membolos, kuliah yang hanya di jam ke 4 dan ke 5. Selalu saja ada alasan untuk tidak menikuti kuliah hari selasa itu, ah whatever, ku tinggalkan kuliah untuk sesuatu hal yang tak kudapatkan di bangku kuliah, up to me deh. * mekso.

Pagi-pagi, kita langsung meluncur ke BBC ( basecamp Bionic), dengan motor hasil dipinjami mas Abhe
kata mas Abhe
” Ati-ati yow, motorku ra penak,wes suwe banget ra tak service,,,,”
dan memang benar, motor yang kata Ebet, ” pie tho iki, motore, miring-miring neng kanan wae”,,,Hahaha
” ra reti Bet, ncen ngono kui, suwe ra dirumat neng sing duwe”

Kita sampai di Bionic, trus sarapan pagi pake nasi kuning* lumayan deh, hehe
Trus dianterin ma Juki dan mas Abhe ke Shelter di Terminal Condong Catur.
Jam menunjukkan pukul 08.00
sebelumnya, pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.30 ebet berkali-kali miscall mas Imam, kan kata mas Imam ” besok kita ketemu di terminal Concat jam 7.00 ya”
takut mas Imam masih tidur, kita pun berkali-kali menghubunginya, hasilnya
” Okey, aku dah bangun :P , ketemu di Concat aja ya”

sambil liat orang-orang yang keluar masuk dari bis Trans Jogja, kita menghubungi mas Imam
” Kita dah nyampe terminal Concat mas”
* sent
10 menit, 15 menit, 20 menit, 30 menit,
” weh kok mas imam ra mbles yo bet, ojo-ojo diare,,haha, hemm atau jalan kaki, ra mungkin deh, paling keturon yo, coba di miscall”
” hahahaha, hooh yo, okey tak misscall….ra diangkat kie,…hedew…”
” weh iki tenanan pengamatane mung setengah hari thok “
” lha kok, ???”
” kan setengah hari nunggu mas imam, setengah hari pengmatan”
” hahahaha, bener-bener”

Drrrttt…
” Hehe, sory-sory aku keturon, nteni maksimal aku teko paling setengah jam neh” mas Imam

Aku dan Ebet
” Hahahahahaha…tenan ik, ternyata keturon, hedew..haghahaghaghag”
Singkat cerita, mas Imam dateng satu jam kemudian. Perjalanan kita ke prambanan akhirnya pun terlaksana. Di dalam bis
” eh, kenalin, ini Rusnadi, “
” Mumun”
” Elisabeth”
Aku : Anak mana?
Rusnadi: tangerang
Aku: Acara apa dek? Sendiri?
Rusnadi: Daftar kuliah, gak sma temen
Aku: kok sendirian
Rusnadi: Iya, ini temen-temen masih Di ***
*lupa di mana. hehe
hemmm…
Singkatnya si Rusnadi ini, anak tangerang, dya memisahkan diri dari kelompoknya yang berjumlah sekitar 4 bis besar, datang ke Jogja dalam rangka Liburan akhir semester, seklaian mo daftar kuliah. Nah karena dya sendrian, kasian juga dya, kata mas Imam, ” kasian, aku dadi eling mbien aku nang India, kaya wong ilang”
Hahaha, akhirnya kita mengajak Rusnadi untuk ikut pengmatan dan jalan-jalan bareng kita.

* * *
Awal masuk ke Prambanan
ini memang pengalaman pertamaku pengamatan di Prambanan.
Di depan pintu gerbang sebelum masuk, kita melihat-lihat di luar, di bawah pohon ketapang ternyata banyak bondol peking yang sedang membuat sarang di pohon ketapang, sarangnya diambil dari potongan dahan pohon jenis Caesalpiniaceae, lucunya burung ini berkali-kali menjatuhkan dahan yang masih berdaun itu, tak dipungutnya lagi tapi justru metik lagi di Pohon. Ada bondol peking dewasa dan Juvenil, tampak sedikit berbeda karena yang Juvenil warna coklat blorok di bagian dadanya belum begitu tampak seperti halnya yang dewasa. Selain itu juga tampak saling bersliweran Cucak kutilang, jumlahnya banyak, terlalu banyak dan mendominasi, Ada juga burung gereja Erasia, Madu Sriganti satu-dua tampak di areal sekitar sarang Bondol peking lalu pergi lagi. Kemudian Cabai Jawa, warna merahnya sangat memikat. Cukup lama kita mengamati di situ, ya sekitar setengah jam, tapi sepertinya lebih lama nungguin mas Imam deh. hehehe.

***
Masuk Ke Areal Kawasan Wisata Candi Prambanan
Banyak Kupu-kupu yang beterbangan
Ada Graphium agamemnon, Graphium sarpedon, Euploea mulciber. Sembari berjalan, kita mengamati daerah sekitar, tajuk-tajuk pepohonan, dahan-dahan, Dan yaps….ada kupu-kupu lagi, kali ini Delias, Delias periboea, trus ada lagi, Warnanya kuning agak orange mirip Delias tapi urutan warnanya Hitam di tepi sayap, kuning, dan ada merahnya, kata mas Imam Delias Pasithoe, Sip bethul, setelah saya lihat di Identification guide forbutterflies of West Java itu memang Delias pasithoe, cantik, ada dua ekor, sepertinya jantan dan betina, satunya aktif menari sepertinya yang jantan, berusaha memikat yang betina, dan yaps,,,mas Imam yang cekrak-cekrek mengabadikan moment indah itu.

Kembali berjalan, masih lalu lalang di jalanan kami, Graphium Agamemnon, Graphium sarpedon, Papilio memnon, dan Cucak kutilang. Aku dan Ebet berjalan menuju pohon randu, siapa tahu bisa ketemu gelatik jawa di sana, kami mendahului mas Imam dan Rusandi yang sedang ngobrol-ngobrol berdua.
Sebelum sampai di bawah pohon randu kami sudah terlebih dahulu melihat seekor burung yang tampak seperti cekakak, kami belum bisa mengetahui pastinya apa itu. Kita pun berjalan ke arah pohon randu, eh malah si burung itu lari ke Seberang Lapangan, hedew…
Ya sutralah….kita pun akhirnya duduk di bawah pohon randu, di tengah terik yang menyengat sambil ngemil dan cekakak-cekik sendiri hehehe.

dari hasil pengamatan secara keseluruhan yang paling menarik adalah ketika melihat gelatik jawa di candi ( Padda oryzyvora) nan cantik jelita, warnanya pink, wah cewek banget deh pastinya. Trus Kekep Babi yang menurutku cara terbangnya mirip dengan elang,sayapnya membentang lebar dan tidak mengepak ketika terbang, kemudian dia bertengger lagi, lalu terbang begitu lagi, kalau elang cara terbang seperti itu namanya swaring, nah kalo cara terbangnya kekep babi itu ada namanya juga gak ya?
hehe

Ebeth pun berusaha dengan sangat keras mendigiscopping “si pink”, dengan kamera poket dan bino miliknya, berkali-kali,hasilnya masih kabur, hehe, tapi tetep aja kekeuh berusaha ( Mantab Beth….^_~), katanya oleh-oleh buat temen-temen di UNSOED.  Setelah puas memotret si cantik Padda, kami melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar tapi sebelumnya mampir dulu ke taman, berharap bisa ketemu pelatuk, akhirnya benar-benar bisa ketemu pelatuk ( duh lupa, namanya )

Berhubung tulisan ini sudah tertunda penerbitannya lamaaaaaa, seklai jadi banyak hal yang terlupakan sehingga ya wes lah dari pada mubazir, tetep saya upload…
Mohon maaf atas segala keterbatasannya…
:D

Posted in Uncategorized | 2 Komentar

Singing a Song, Skyscrapper By Demi Lovato

Skies are crying, I am watching
Catching teardrops in my hands
Only silence, as it’s ending
Like we never had a chance
Do you have to make me feel
Like there’s nothing left of me

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper, like a skyscraper

As the smoke clears
I awaken and untangle you from me
Would it make you feel better
To watch me while I bleed
All my windows still are broken
But I’m standing on my feet

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper, like a skyscraper

Go run run run I’m gonna stay right here
Watch you disappear yeah
Go run run run yeah it’s a long way down
But I’m closer to the clouds up here

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Ohh…
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper, like a skyscraper
Like a skyscraper, like a skyscraper
Like a skyscraper…

Hanya ingin share saja, suka dengan lagu ini dan suara Demi yang khas dan berat..mencoba membahasakannya dalam Bahasa kita, based on mine….

Ketika Langit menangis, aku hanya mampu melihatnya
Membiarkan air mata itu jatuh ditanganku
Aku hanya diam, sepertinya semua telah berakhir
Seperti tidak punya kesempatan lagi
Apakah kau harus membuatku merasa, seperti tak ada lagi yang tersisa dari ku

Kau dapat mengambil segala sesuatu milikku
Kau dapat menghancurkan diriku
Seperti aku terbuat dari kaca
Seperti aku terbuat dari kertas
Pergi dan biarkan aku hancur meluruh
Tapi
Aku akan Muncul
Seperti pencakar langit, seperti  pencakar langit

Ketika asap menyapu segalanya
Aku terbangun dan membiarkanmu benar-benar pergi dariku
Apakah itu membuat mu merasa lebih baik

Ketika melihatku terluka,
Semua jendela pecah berkeping
Tapi aku mampu berdiri di atas kakiku

Kau dapat mengambil segala sesuatu dariku
Kau dapat mematahkan segalanya saya
Seperti aku terbuat dari kaca
Seperti aku terbuat dari kertas
Pergi dan Biarkan aku hancur, meluruh
Tapi
Aku akan Muncul
Seperti  pencakar langit, seperti  pencakar langit

Pergi, dan berlarilah sangat jauh, aku akan tinggal di sini
Melihatmu menghilang
Pergi sangat Jauh ke dasar Bumi
dan  akulah yang  lebih dekat ke awan, di sini

Kau dapat mengambil segala sesuatu yang telah
Kau dapat mematahkan segalanya saya
Seperti aku terbuat dari kaca
Seperti aku terbuat dari kertas
Ohh …
Pergi dna biarkan aku hancur meluruh
Saya akan Muncul
Seperti  pencakar langit, seperti  pencakar langit
Seperti  pencakar langit, seperti  pencakar langit
Seperti pencakar langit …

sebuah lagu yang menyayat hati
Tapi jangan sekedar kau kagumi suara dan lagu ini
Hayati yang ada di liriknya,
Jadilah wanita tegar seperti yang ada pada lirik lagu ini
atau jadilah seseorang yang sangat tegar menghadai kegagalan dalam hidupnya
Biarkan kehnacuran dan kegagalan atau masalah pergi jauh darimu
Dan Kau yang akan naik, naik ke atas kemenangan atas perjuanganmu
Atas sakitmu
Tak semudah itu berkata
Mudah menyanyikan lagu, tapi tak mudah menjalani hidup
Setidaknya lagu itu memberi kita sebuah pelajaran berharga untuk tak pernah putus asa
Menggapai bintang dilangit tak semudah menjulukan tangan
Naiklah ke bulan dan bintang di atas sana untuk menyatakan mimpi itu..
jadilah pencakar langit yang kokoh dan kuat menopang diri, mendekati awan, mencapai mimpi, membuatnya Nyata
melebur Lara
dan Melupakannya
Lupakan untuk menghilangkan semua keterpurukan
dan ingat untuk membelajarkan diri ini yang Pelupa

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Menjejaki 3265 dpl, Puncak Gunung Lawu

Petualangan menjejaki alam kembali kulakukan. Lama nian tak menjelajahi wajah hijau paku bumi yang kokoh menjulang hingga pucuk-pucuk angkasa.
Kali ini tujuannya adalah Gunung Lawu yang ada di Jawa Timur, hanya sejengkal dari wilayah jawa tengah. Perjalanan kali ini cukup “extrem” dan keren, haha, karena kita naik Truk dari Jogja hingga ke Cemoro sewu, perjalanan sekitar 5-6 jam, dengan medan yang naik turun, ” mlungker-mlungker” kaya medannya ular tangga. Haha
But, no problem, that’s so awesome, yang ikut dalam pendakian Lawu ini ada 18 orang, 5 cewek termasuk aku dan sisanya cowok.

“Gojeg ” rame, ketawa-ketawa, diselingi tingkah usil si brewok Kukuh dan si Boyo Abdu, ( hahahaha, Peace ), menuliskan nomer Hp pada selembar kertas dan mengibar-ngibarkannya di belakang sambil ngumpetin kepala pas ada mobil atau bis yang lewat. Alhasil ada sebuah bis antar kota-antar propinsi yang melihat dan mengejarnya, pak sopire penasaran kali yew…ojo-ojo jablai ki pake. Hahaha

” Ojo cah, ha kae Ibu-ibu kok. Nek sing ayu-ayu ae lek masang, kui , hahahahaa” Kata Abdu sambil ngekek-ngekek
” Halah ra popo du, hahaha” Kukuh

Seisi muatan truk pun ketawa ngakak-ngakak selama perjalanan menuju ke arah Solo itu. Setelah puas ketawa-tawa, kita pun kelelahan dan masing-masing sibuk dengan lelapnya yang terangguk-angguk oleh laju truk yang melewati jalan penuh tikungan dan aspal rusak. Jozz Gandoz pokokmen.

Sekitar pukul 13.00 WIB. Kita pun sampai di basecamp, tempat transit para pendaki atau wisatawan sebelum naik ke lawu

” Ayo, do sholat sik, mengko lek munggah jam 16.00, ” kata Eko, si Pak Ketu yang guedhe awake.
Kita pun bergegas menuju mushola, menapaki lantai tempat berwudhu
Brrrrrrrrrrrrrr…Uadyeme ..
Adyem banget cah..
mengingatkanku sekitar 3 tahun silam, waktu ada acara di Dieng, jyan podo persis, ademe ra nguati.
Setelah kita sholat, kita pun berkumpul di warung transit untuk makan dulu. Menu telur, sayur lodeh dan teh anget, josss, mengganjal para pejuang yang kelaparan ini. Haghaghaghag ( Ngeleh……)

Sekitar pukul 15.30 kita bersiap-siap untuk naik. Sebelumnya kita pemanasan dulu, di pimpin sama Dana. Berbekal Tas guedhe-guedhe yang di cengklak masing-masing, pemanasan, di suruh gerak yang aneh-aneh, push up mbrang khusus yang cowok, hahahaha, Nek ngene iki aku untung wedhok.Haha

Setelah berdoa, dan menyatukan satu tangan mengucapkan yelll…
” Aslolole”
Apa-apa pun tu yel, haghaghaghag. Ra popo, sing penting Jozzz GAndoz. Sekitar pukul 16.00 WIB tepat kita pun memulai perjalanan dengan riang, masih ketawa-ketawa, wajah seger buger, langkah kaki mantab dan semangat lebih dari 45, ( Deloken pas mudun wes lempah-lempoh koyo kumbahan) haghaghag.

Perjuangan menuju puncak lawu ternyata baru saja di mulai, mulanya tawa riang, lalu ditingkahi sedikit keluhan ” Kok suwi men yow, ra tekan-tekan” kata pipit yang sudah mejak awal membawa pasokan minuman isotoniknya.
” Bentar lagi kita sampai pos 1,” kata pak ketu Arwana Eko
Rupanya perjalanan menuju pos 1 masih cukup energi, kanan dan kiri jalan ada tanaman wortel, kobis, pepohonan rimbun, semak liar, kebun sawi, masih di dominasi oleh tanaman yang sengaja di tanam oleh warga. Satu hal bodoh dan lucu yang selalu terkenang, ( hahaha, isin tapi lucu, :D )
” eh kae kembange apik yo, mekrok-mekrok, opo kae edelwise yow, kok yake mirip” kataku pada retno dan pipit
” hooh pow, aku ra reti e, tapi apik, kui tenan po edelwise? dudu kembang wortel?” kata retno
” hemm, aku ra reti, eh yan,,,,jilih kamerane iki opow?” niat mau memotret bunga cantik itu,
” kui kembang wortel mun, rung tau weruh po kowe” kata dian
” hekkkk, hahahha, iya pow, weh aku ra reti tho, soale mekrok2 mirip edelwise, hahahahahm ah yo ra sido moto”kataku sambil berlalu dan tertawa diikuti bahak mereka
” weh kembang wortel mbok kiro edelwise mun, hahahahahahahha” tawa teman-teman.
” ra popo saiki ra bakal salah neh” hahahahaha

duh, Pele tenan aku. hahahahaha

Hampir mendekati pos 1 aku berjalan di depan mendahului kawan-kawan, karena ingin segera meletakkan tas yang cukup berat ( men keren gakne jilih Carriere mas Imam, haha, trimaksih mas). Saat sedang bersandar pada tembok pos 1 aku melihat ada burung di sebuah pohon, pohon yang buahnya mirip dengan buah murbei mungkin itu termasuk famili Moraceae. Ku dekati pelan-pelan pohon itu, benar, ternyata ada seekor burung yang sedang melahap buah nan merah dan masam itu. Nampaknya dia tak terganggu dengan keberadaanku yang berjalan pelan dan lirih. Burung itu memiliki paruh berwarna kuning, kaki kuning, bulunya berwarna coklat susu, tapi sepertinya burung itu masih juvenil ( insting wae, soale awake cilik dan ketoke urung ganteng, haha). Aku pun meminjam kamera dari dian dan memotret burung itu sekenanya. Setelah puas jeprat-jepret mbuh elik po ra, ra urus. haha. Selanjutnya kukuh menyusul di belakang, ” Kae Kuh, neng wit, opo yow?” kata ku
” mendi?” kata kukuh sambil berjingkat pelan mendekati arah pohon yang kutunjuk
Kukuh pun kembali memotret burung itu. Setelah cukup lama memperhatikan, dan sepertinya si burung pun merasa risih dengan keberadaan kami yang agak rame, burungpun kembali terbang dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata si burung itu pun masih terbang santai di dekat kami, di pepohonan maupun di lantai-lantai hutan.
” opo yo kiro-kiro kuh?” tanyaku pada kukuh
” mbuh e, mengko di cocokke neng McKinnon” kata Kukuh
” ojo-ojo kui sing di tulis sebagai ” Jalak gading” neng ngisor kae mau” kataku
” hemm, yo mungkin” kata Kukuh santai

Perjalanan menuju Pos 2 ternyata jauh, hedew, adoh jah, kami sampai di Pos 2 sekitar pukul18.40 WIB, setelah terengah-engah diperjalanan, melihat dua sahabatku yang baru pertama kali naik gunung, Dian dan Nurul, Jozzz kawan perjuangan kalian tidak sia-sia, bahagia itu tidak tergantikan. Akhirnya bisa sholat maghrib (mepet isya), sholat isya, kemudian istirahat dan makan. Udara sudah sangat dingin, ketinggian sekitar 2200 dpl ( po 2700 dl ya..lali aku, ssing gowo GPS Rifki, hehe).
Kawan-kawan ada yang masak terlebih dahulu, (ubres baelah Dana, dkk, wes ra klamben nganggo singlet, katok pendek maing, bocah apa si kae, hahaha)
Perjalanan selanjutnya dilanjutkan sekitar pukul 20.00 WIB, istrahat yang cukup lama, membat badan justru sedikit kaku, karena udara yang begitu dingin. Perjalanan inilah yang benar-benar perjuangan, terutama, bagi dua sobat karibku yang ngebet naik gunung, pasti ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kalian.
Dian yang sensitif dengan hawa dingin harus jalan pelan-pelan dan berkali-kali memakai koyo, untuk menopang kekuatan kaki men ra loyo ( jebulno ra mempan koyone,,haha). Nurul juga, anak pantai satu ini sebenarnya kuat tapi masuk angin membuat perutnya “munyel-munyel ra keruan”, dan akhirnya keluarlah semua isi tenaganya itu saat tak kuat menahan mual, alhasil lemas badan pun tak terelakkan, perjalanan menuju pos 3 yang sebenarya tidak sejauh pos 1 menuju pos2 ini pun cukup lama. Kelompok terbagi menjadi dua, kelompok depan yang berjalan dulu, pipit, retno, abdu, kukuh, ulil, aziz, Alfa dan Narto. Dan kelompok yang berjalan di belakang, Aku, dian, Nurul, Dana, Eko, Rifki, Wahab, Danu, Beny, dan Wiji. Sekitar pukul 21.30, kami sampai di Pos 3. Terpisah dari kelompok depan, sepertinya mereka sudah cukup jauh. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, maka akhirnya kamipun mendirikan camp di Pos 3. Eko, Dana, dan Beni menyusul ke depan, membawakan frame untuk tenda dum. Kami pun beristirahat di Pos 3 ini, dengan rencana akan melanjutkan perjalanan sekitar pukul 02.00 ( weh kui lagi adyem-adyeme cah, angine semrubut banget ik).

Ditengah malam, sekitar pukul 01.00, dian membangunkanku untuk menemaninya buang air kecil. ” Mun, kebelet pipis” kata Dian
” Yo,  kataku dengan sedikit masih merem. haha
Ternyata dian membangunkanku lagis keitar pukul 02.00, masih sama dengan mata terkantuk-kantuk kami mencri tempat aman untuk melepas HIV ( hasrat ingin Vivis) yang tak tertahan, haghaghga ( dian kokean Mimi sih ). ” Hemm, ki sido munggah saiki ra tho” kataku sambil mlihat dum cowok, ternyata mereka masih meringkuk pulas. ” Ah, yowes, mengko ae” sambil masuk lagi ke dalam SB yang cukup menghangatkan badan. Hehe
Sekiat pukul 03.00 Dian kembali lagi membangunkanku untuk Vivis ( ki cah ancen beser tenan, hahahaha). Ternyat nurul pun sudah bangun, efek meminum obat sekitar pukul 02.00 membuatnya masih pusing. teman-teman  putra pun sudah bangun. ” pie nip, sida munggah siki ra” kata rifki dengan logat ngapaknya yang tak pernah ilang
” iya mayu, ki beres-beres ndisit” jawabku ( nyong be ngapak :D )
Nurul dan Dian pun bergegas untuk ikut naik.
” Tapi mengko munggahe alon-alon ya cah, mandeg-mandeg ra popo yow” kata nurul
” iyow, ra popo, sante wae, “

Kembali melanjutkan perjalanan ke Pos 4, pelan tapi pasti, sedikit terengah-engah, berakali-kali menggunakan Oxycan, tidak hanya dian, wahab juga ikut-ikutan, Jyahhh, ternyata angin di pagi hari sedikit lebih kencang, tapi lebih segar di bandingkan dengan tadi malam. Sekitar pukul 06.00, kami sampai di Pos 4, ternyata banyak sekali pendaki yang menuju puncak lawu, saling salib menyalib dengan teman-teman dari Biologi UNS. Banyak juga pendaki yang mendirikan camp, atau tidur sekenanya menggunakan SB di tempat terlindung di “luweng” atau tepi-tepi tangga yang cukup nyaman. ( untuk kapasitas sedang mendaki tentunya.

Sholat subuh dengan tayamum, sebab air persediaan sudah sangat menipis, menyaksikan sinar mentari pagi hari, memerah, menyesap di sela-sela putihny kabut-kabut yang tampak empuk seperti kasur dari kapas, serasa syuting film kera sakti. Huaaaaa, lepas se,ua penat dan lelah yang telah terlewati. Dian dan Nurul tampak riang, foto-foto, dna menyaksikan langit merah di ketinggian 2700 dpl, jozzzzz banget. Unforgetabble moment. Hehehe

Ternyata kawan-kawan yang berjalan di depan, mendirikan camp di pertengahan pos 4 dan 5. Indahnya pagi hari itu, keinginan melihat bunga edelwise pun kesampaian. Menikmati tepian jalan menuju puncak lawu yang nampak seperti padang savana di Afrika. Ketemu dengan burung coklat yang kukira itu “jalak  gading”, tampak dewasa burung itu, mendekati puncak semakin banyak jumlahnya , pada bagian kepala hingga leher warna bulu lebih pudar, sedangkan bagian lainnya lebih pekat mendekati gelap.  Burung-burung itu berada di lantai hutan, di pepohonan dekat jalan setapak. Kacamata biasa pun nampak asyik saja, meski kami lewati berkali-kali, tak merasa terganggu, justru turun naik mengikuti langkah-langkah yakin untuk sampai pada puncak Lawu.

Mencapai puncak Lawu dengan ketinggian 3265 dpl. Syukur dan kenikmatan yang tak terperi, perjuangan yang keras, sempat hendak menyerah, sempat putus asa, akhirnya dengan keyakinan dan kegigihan semua rintangan berhasil di hadapi.

Perjuangan tidak hanya sekedar naik saja, perjalanan turun justru lebih berat. Ketika menurun beban terasa jauh lebih berat. Saat naik ada sebuah keyakinan dan keinginan untuk mencapai puncak. Tapi ketika turun, kembali pada tempat semula, pastinya akan berjalan lebih pelan, pelan yang melelahkan. Seperti halnya sebuah kehidupan, selayaknya roda kehidupan tak selamnya roda itu berputar naik, ia pun akan berputar turun. Maka bersiaplah untuk ada dalam kondisi apa pun. Tak perlulah berbangga hati dan terlalu membusungkan dada ketika ada di puncak. Dan tidaklah perlu berendah diri dan bersusah hati ketika menysup ke jurang terbawah. Semuanya akan berubah, berubah sesuai dengan upaya masing-masing pribadi dalam menjalaninya.

Posted in Uncategorized | 6 Komentar

Pesona Kupu-Kupu, Geliat Ulat, Kesetiaan, Kepedulian Tanpa Kebohongan

Kalau kau lihat gurat sisik di sayapnya yang rapuh
Pastinya decak kagum kan membawa pandang menyelami indahnya lukisan Tuhan itu
Kau sapa lembut wajah pagi hari yang bersinar dengan kepak ringan yang mempesona
Seperti seorang gadis cantik nan menawan kumbang

Kau begitu memikat hati
Mempesona sekuntum Krisan kuning
Elok nian, seperti lagu kecilku
” Kupu-kupu yang lucu”

Tampak mata ketika dewasa dan matang
Begitu Indah

Tapi kau pasti akan begidik ngeri
ketika melihat ulatnya yang begitu rimbun dengan bulu-bulu panjang
geraknya yang merayap, seperti hendak meraba setiap jengkal kulit kemudian
memasuki Fase hidup selanjutnya
dia akan masuk pada selimut tidurnya yang nyaman…
Membuatnya sedikit sabar supaya bisa “lahir” Sempurna
dengan kepak sayap indah dan mempesona
Tak seperti semula
Apa seperti itukah gambaran kepedulian  manusia

Ketika kita masih melarat
miskin dan tak bera
Banyak mata begidik ngeri dan jijik
memandang miris
Sepertinya wajah kusam ini tak ada harap sukses dan matang hidup di Dunia
Seperti melihat geliat ulat bulu yang mengerikan
seperti itukah melihat seorang kumuh kusam di anggap tak bermasa depan
Sepertinya setakut itu, takut sekali akan terkena bulu-bulu “Rekoso” yang di bawa si kumuh itu…

Begitu pulakah seorang manusia
Pandang seorang Guru
Akan sangat mencintai muridnya yang pandai
tapi akan begitu mengabaikan anak-anaknya yang bodoh
Lalu menjadi baik hati pada yang bodoh lalu menjadi pandai..

Begitu pulakah
Lalu tepuk tangan ringan, riang, meriah,
membahana
ketika keberhasilan, Wajah lusuh itu sumringah, mendapatkan keberhasilannya…
Kejayaan datang, Seperti corak indah pada sayap kupu yang memikat
seperti itu telah tampaklah masa depan yang indah pula..

Shit…
adakah tanah yang selalu ada meski hujan tak turun terik meneriaki
Adakah Langit yang biru saat terang dan tetap di situ ketika awan kelam menandakan Hujan

Adakah sebuah kesetiaan
konsistensi
Terhadap kawan
Sahabat
Kepedulian
Kasih sayang
Cinta

Yang datang bukan karena
Harta
Kepandaian
Kecantikan
Keindahan

Tapi datang atas sebuah ketulusan
Kepedulian yang tak beralasan

Bukan sebuah pengakuan karena keberhasilan
tapi pengabaian saat keterpurukan

Kepedulian dan kebahagiaan
bersama dalam satu Ikrar Kesetiaan

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar