Singing a Song, Skyscrapper By Demi Lovato

Skies are crying, I am watching
Catching teardrops in my hands
Only silence, as it’s ending
Like we never had a chance
Do you have to make me feel
Like there’s nothing left of me

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper, like a skyscraper

As the smoke clears
I awaken and untangle you from me
Would it make you feel better
To watch me while I bleed
All my windows still are broken
But I’m standing on my feet

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper, like a skyscraper

Go run run run I’m gonna stay right here
Watch you disappear yeah
Go run run run yeah it’s a long way down
But I’m closer to the clouds up here

You can take everything I have
You can break everything I am
Like I’m made of glass
Like I’m made of paper
Ohh…
Go on and try to tear me down
I will be rising from the ground
Like a skyscraper, like a skyscraper
Like a skyscraper, like a skyscraper
Like a skyscraper…

Hanya ingin share saja, suka dengan lagu ini dan suara Demi yang khas dan berat..mencoba membahasakannya dalam Bahasa kita, based on mine….

Ketika Langit menangis, aku hanya mampu melihatnya
Membiarkan air mata itu jatuh ditanganku
Aku hanya diam, sepertinya semua telah berakhir
Seperti tidak punya kesempatan lagi
Apakah kau harus membuatku merasa, seperti tak ada lagi yang tersisa dari ku

Kau dapat mengambil segala sesuatu milikku
Kau dapat menghancurkan diriku
Seperti aku terbuat dari kaca
Seperti aku terbuat dari kertas
Pergi dan biarkan aku hancur meluruh
Tapi
Aku akan Muncul
Seperti pencakar langit, seperti  pencakar langit

Ketika asap menyapu segalanya
Aku terbangun dan membiarkanmu benar-benar pergi dariku
Apakah itu membuat mu merasa lebih baik

Ketika melihatku terluka,
Semua jendela pecah berkeping
Tapi aku mampu berdiri di atas kakiku

Kau dapat mengambil segala sesuatu dariku
Kau dapat mematahkan segalanya saya
Seperti aku terbuat dari kaca
Seperti aku terbuat dari kertas
Pergi dan Biarkan aku hancur, meluruh
Tapi
Aku akan Muncul
Seperti  pencakar langit, seperti  pencakar langit

Pergi, dan berlarilah sangat jauh, aku akan tinggal di sini
Melihatmu menghilang
Pergi sangat Jauh ke dasar Bumi
dan  akulah yang  lebih dekat ke awan, di sini

Kau dapat mengambil segala sesuatu yang telah
Kau dapat mematahkan segalanya saya
Seperti aku terbuat dari kaca
Seperti aku terbuat dari kertas
Ohh …
Pergi dna biarkan aku hancur meluruh
Saya akan Muncul
Seperti  pencakar langit, seperti  pencakar langit
Seperti  pencakar langit, seperti  pencakar langit
Seperti pencakar langit …

sebuah lagu yang menyayat hati
Tapi jangan sekedar kau kagumi suara dan lagu ini
Hayati yang ada di liriknya,
Jadilah wanita tegar seperti yang ada pada lirik lagu ini
atau jadilah seseorang yang sangat tegar menghadai kegagalan dalam hidupnya
Biarkan kehnacuran dan kegagalan atau masalah pergi jauh darimu
Dan Kau yang akan naik, naik ke atas kemenangan atas perjuanganmu
Atas sakitmu
Tak semudah itu berkata
Mudah menyanyikan lagu, tapi tak mudah menjalani hidup
Setidaknya lagu itu memberi kita sebuah pelajaran berharga untuk tak pernah putus asa
Menggapai bintang dilangit tak semudah menjulukan tangan
Naiklah ke bulan dan bintang di atas sana untuk menyatakan mimpi itu..
jadilah pencakar langit yang kokoh dan kuat menopang diri, mendekati awan, mencapai mimpi, membuatnya Nyata
melebur Lara
dan Melupakannya
Lupakan untuk menghilangkan semua keterpurukan
dan ingat untuk membelajarkan diri ini yang Pelupa

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Menjejaki 3265 dpl, Puncak Gunung Lawu

Petualangan menjejaki alam kembali kulakukan. Lama nian tak menjelajahi wajah hijau paku bumi yang kokoh menjulang hingga pucuk-pucuk angkasa.
Kali ini tujuannya adalah Gunung Lawu yang ada di Jawa Timur, hanya sejengkal dari wilayah jawa tengah. Perjalanan kali ini cukup “extrem” dan keren, haha, karena kita naik Truk dari Jogja hingga ke Cemoro sewu, perjalanan sekitar 5-6 jam, dengan medan yang naik turun, ” mlungker-mlungker” kaya medannya ular tangga. Haha
But, no problem, that’s so awesome, yang ikut dalam pendakian Lawu ini ada 18 orang, 5 cewek termasuk aku dan sisanya cowok.

“Gojeg ” rame, ketawa-ketawa, diselingi tingkah usil si brewok Kukuh dan si Boyo Abdu, ( hahahaha, Peace ), menuliskan nomer Hp pada selembar kertas dan mengibar-ngibarkannya di belakang sambil ngumpetin kepala pas ada mobil atau bis yang lewat. Alhasil ada sebuah bis antar kota-antar propinsi yang melihat dan mengejarnya, pak sopire penasaran kali yew…ojo-ojo jablai ki pake. Hahaha

” Ojo cah, ha kae Ibu-ibu kok. Nek sing ayu-ayu ae lek masang, kui , hahahahaa” Kata Abdu sambil ngekek-ngekek
” Halah ra popo du, hahaha” Kukuh

Seisi muatan truk pun ketawa ngakak-ngakak selama perjalanan menuju ke arah Solo itu. Setelah puas ketawa-tawa, kita pun kelelahan dan masing-masing sibuk dengan lelapnya yang terangguk-angguk oleh laju truk yang melewati jalan penuh tikungan dan aspal rusak. Jozz Gandoz pokokmen.

Sekitar pukul 13.00 WIB. Kita pun sampai di basecamp, tempat transit para pendaki atau wisatawan sebelum naik ke lawu

” Ayo, do sholat sik, mengko lek munggah jam 16.00, ” kata Eko, si Pak Ketu yang guedhe awake.
Kita pun bergegas menuju mushola, menapaki lantai tempat berwudhu
Brrrrrrrrrrrrrr…Uadyeme ..
Adyem banget cah..
mengingatkanku sekitar 3 tahun silam, waktu ada acara di Dieng, jyan podo persis, ademe ra nguati.
Setelah kita sholat, kita pun berkumpul di warung transit untuk makan dulu. Menu telur, sayur lodeh dan teh anget, josss, mengganjal para pejuang yang kelaparan ini. Haghaghaghag ( Ngeleh……)

Sekitar pukul 15.30 kita bersiap-siap untuk naik. Sebelumnya kita pemanasan dulu, di pimpin sama Dana. Berbekal Tas guedhe-guedhe yang di cengklak masing-masing, pemanasan, di suruh gerak yang aneh-aneh, push up mbrang khusus yang cowok, hahahaha, Nek ngene iki aku untung wedhok.Haha

Setelah berdoa, dan menyatukan satu tangan mengucapkan yelll…
” Aslolole”
Apa-apa pun tu yel, haghaghaghag. Ra popo, sing penting Jozzz GAndoz. Sekitar pukul 16.00 WIB tepat kita pun memulai perjalanan dengan riang, masih ketawa-ketawa, wajah seger buger, langkah kaki mantab dan semangat lebih dari 45, ( Deloken pas mudun wes lempah-lempoh koyo kumbahan) haghaghag.

Perjuangan menuju puncak lawu ternyata baru saja di mulai, mulanya tawa riang, lalu ditingkahi sedikit keluhan ” Kok suwi men yow, ra tekan-tekan” kata pipit yang sudah mejak awal membawa pasokan minuman isotoniknya.
” Bentar lagi kita sampai pos 1,” kata pak ketu Arwana Eko
Rupanya perjalanan menuju pos 1 masih cukup energi, kanan dan kiri jalan ada tanaman wortel, kobis, pepohonan rimbun, semak liar, kebun sawi, masih di dominasi oleh tanaman yang sengaja di tanam oleh warga. Satu hal bodoh dan lucu yang selalu terkenang, ( hahaha, isin tapi lucu, :D )
” eh kae kembange apik yo, mekrok-mekrok, opo kae edelwise yow, kok yake mirip” kataku pada retno dan pipit
” hooh pow, aku ra reti e, tapi apik, kui tenan po edelwise? dudu kembang wortel?” kata retno
” hemm, aku ra reti, eh yan,,,,jilih kamerane iki opow?” niat mau memotret bunga cantik itu,
” kui kembang wortel mun, rung tau weruh po kowe” kata dian
” hekkkk, hahahha, iya pow, weh aku ra reti tho, soale mekrok2 mirip edelwise, hahahahahm ah yo ra sido moto”kataku sambil berlalu dan tertawa diikuti bahak mereka
” weh kembang wortel mbok kiro edelwise mun, hahahahahahahha” tawa teman-teman.
” ra popo saiki ra bakal salah neh” hahahahaha

duh, Pele tenan aku. hahahahaha

Hampir mendekati pos 1 aku berjalan di depan mendahului kawan-kawan, karena ingin segera meletakkan tas yang cukup berat ( men keren gakne jilih Carriere mas Imam, haha, trimaksih mas). Saat sedang bersandar pada tembok pos 1 aku melihat ada burung di sebuah pohon, pohon yang buahnya mirip dengan buah murbei mungkin itu termasuk famili Moraceae. Ku dekati pelan-pelan pohon itu, benar, ternyata ada seekor burung yang sedang melahap buah nan merah dan masam itu. Nampaknya dia tak terganggu dengan keberadaanku yang berjalan pelan dan lirih. Burung itu memiliki paruh berwarna kuning, kaki kuning, bulunya berwarna coklat susu, tapi sepertinya burung itu masih juvenil ( insting wae, soale awake cilik dan ketoke urung ganteng, haha). Aku pun meminjam kamera dari dian dan memotret burung itu sekenanya. Setelah puas jeprat-jepret mbuh elik po ra, ra urus. haha. Selanjutnya kukuh menyusul di belakang, ” Kae Kuh, neng wit, opo yow?” kata ku
” mendi?” kata kukuh sambil berjingkat pelan mendekati arah pohon yang kutunjuk
Kukuh pun kembali memotret burung itu. Setelah cukup lama memperhatikan, dan sepertinya si burung pun merasa risih dengan keberadaan kami yang agak rame, burungpun kembali terbang dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata si burung itu pun masih terbang santai di dekat kami, di pepohonan maupun di lantai-lantai hutan.
” opo yo kiro-kiro kuh?” tanyaku pada kukuh
” mbuh e, mengko di cocokke neng McKinnon” kata Kukuh
” ojo-ojo kui sing di tulis sebagai ” Jalak gading” neng ngisor kae mau” kataku
” hemm, yo mungkin” kata Kukuh santai

Perjalanan menuju Pos 2 ternyata jauh, hedew, adoh jah, kami sampai di Pos 2 sekitar pukul18.40 WIB, setelah terengah-engah diperjalanan, melihat dua sahabatku yang baru pertama kali naik gunung, Dian dan Nurul, Jozzz kawan perjuangan kalian tidak sia-sia, bahagia itu tidak tergantikan. Akhirnya bisa sholat maghrib (mepet isya), sholat isya, kemudian istirahat dan makan. Udara sudah sangat dingin, ketinggian sekitar 2200 dpl ( po 2700 dl ya..lali aku, ssing gowo GPS Rifki, hehe).
Kawan-kawan ada yang masak terlebih dahulu, (ubres baelah Dana, dkk, wes ra klamben nganggo singlet, katok pendek maing, bocah apa si kae, hahaha)
Perjalanan selanjutnya dilanjutkan sekitar pukul 20.00 WIB, istrahat yang cukup lama, membat badan justru sedikit kaku, karena udara yang begitu dingin. Perjalanan inilah yang benar-benar perjuangan, terutama, bagi dua sobat karibku yang ngebet naik gunung, pasti ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kalian.
Dian yang sensitif dengan hawa dingin harus jalan pelan-pelan dan berkali-kali memakai koyo, untuk menopang kekuatan kaki men ra loyo ( jebulno ra mempan koyone,,haha). Nurul juga, anak pantai satu ini sebenarnya kuat tapi masuk angin membuat perutnya “munyel-munyel ra keruan”, dan akhirnya keluarlah semua isi tenaganya itu saat tak kuat menahan mual, alhasil lemas badan pun tak terelakkan, perjalanan menuju pos 3 yang sebenarya tidak sejauh pos 1 menuju pos2 ini pun cukup lama. Kelompok terbagi menjadi dua, kelompok depan yang berjalan dulu, pipit, retno, abdu, kukuh, ulil, aziz, Alfa dan Narto. Dan kelompok yang berjalan di belakang, Aku, dian, Nurul, Dana, Eko, Rifki, Wahab, Danu, Beny, dan Wiji. Sekitar pukul 21.30, kami sampai di Pos 3. Terpisah dari kelompok depan, sepertinya mereka sudah cukup jauh. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, maka akhirnya kamipun mendirikan camp di Pos 3. Eko, Dana, dan Beni menyusul ke depan, membawakan frame untuk tenda dum. Kami pun beristirahat di Pos 3 ini, dengan rencana akan melanjutkan perjalanan sekitar pukul 02.00 ( weh kui lagi adyem-adyeme cah, angine semrubut banget ik).

Ditengah malam, sekitar pukul 01.00, dian membangunkanku untuk menemaninya buang air kecil. ” Mun, kebelet pipis” kata Dian
” Yo,  kataku dengan sedikit masih merem. haha
Ternyata dian membangunkanku lagis keitar pukul 02.00, masih sama dengan mata terkantuk-kantuk kami mencri tempat aman untuk melepas HIV ( hasrat ingin Vivis) yang tak tertahan, haghaghga ( dian kokean Mimi sih ). ” Hemm, ki sido munggah saiki ra tho” kataku sambil mlihat dum cowok, ternyata mereka masih meringkuk pulas. ” Ah, yowes, mengko ae” sambil masuk lagi ke dalam SB yang cukup menghangatkan badan. Hehe
Sekiat pukul 03.00 Dian kembali lagi membangunkanku untuk Vivis ( ki cah ancen beser tenan, hahahaha). Ternyat nurul pun sudah bangun, efek meminum obat sekitar pukul 02.00 membuatnya masih pusing. teman-teman  putra pun sudah bangun. ” pie nip, sida munggah siki ra” kata rifki dengan logat ngapaknya yang tak pernah ilang
” iya mayu, ki beres-beres ndisit” jawabku ( nyong be ngapak :D )
Nurul dan Dian pun bergegas untuk ikut naik.
” Tapi mengko munggahe alon-alon ya cah, mandeg-mandeg ra popo yow” kata nurul
” iyow, ra popo, sante wae, “

Kembali melanjutkan perjalanan ke Pos 4, pelan tapi pasti, sedikit terengah-engah, berakali-kali menggunakan Oxycan, tidak hanya dian, wahab juga ikut-ikutan, Jyahhh, ternyata angin di pagi hari sedikit lebih kencang, tapi lebih segar di bandingkan dengan tadi malam. Sekitar pukul 06.00, kami sampai di Pos 4, ternyata banyak sekali pendaki yang menuju puncak lawu, saling salib menyalib dengan teman-teman dari Biologi UNS. Banyak juga pendaki yang mendirikan camp, atau tidur sekenanya menggunakan SB di tempat terlindung di “luweng” atau tepi-tepi tangga yang cukup nyaman. ( untuk kapasitas sedang mendaki tentunya.

Sholat subuh dengan tayamum, sebab air persediaan sudah sangat menipis, menyaksikan sinar mentari pagi hari, memerah, menyesap di sela-sela putihny kabut-kabut yang tampak empuk seperti kasur dari kapas, serasa syuting film kera sakti. Huaaaaa, lepas se,ua penat dan lelah yang telah terlewati. Dian dan Nurul tampak riang, foto-foto, dna menyaksikan langit merah di ketinggian 2700 dpl, jozzzzz banget. Unforgetabble moment. Hehehe

Ternyata kawan-kawan yang berjalan di depan, mendirikan camp di pertengahan pos 4 dan 5. Indahnya pagi hari itu, keinginan melihat bunga edelwise pun kesampaian. Menikmati tepian jalan menuju puncak lawu yang nampak seperti padang savana di Afrika. Ketemu dengan burung coklat yang kukira itu “jalak  gading”, tampak dewasa burung itu, mendekati puncak semakin banyak jumlahnya , pada bagian kepala hingga leher warna bulu lebih pudar, sedangkan bagian lainnya lebih pekat mendekati gelap.  Burung-burung itu berada di lantai hutan, di pepohonan dekat jalan setapak. Kacamata biasa pun nampak asyik saja, meski kami lewati berkali-kali, tak merasa terganggu, justru turun naik mengikuti langkah-langkah yakin untuk sampai pada puncak Lawu.

Mencapai puncak Lawu dengan ketinggian 3265 dpl. Syukur dan kenikmatan yang tak terperi, perjuangan yang keras, sempat hendak menyerah, sempat putus asa, akhirnya dengan keyakinan dan kegigihan semua rintangan berhasil di hadapi.

Perjuangan tidak hanya sekedar naik saja, perjalanan turun justru lebih berat. Ketika menurun beban terasa jauh lebih berat. Saat naik ada sebuah keyakinan dan keinginan untuk mencapai puncak. Tapi ketika turun, kembali pada tempat semula, pastinya akan berjalan lebih pelan, pelan yang melelahkan. Seperti halnya sebuah kehidupan, selayaknya roda kehidupan tak selamnya roda itu berputar naik, ia pun akan berputar turun. Maka bersiaplah untuk ada dalam kondisi apa pun. Tak perlulah berbangga hati dan terlalu membusungkan dada ketika ada di puncak. Dan tidaklah perlu berendah diri dan bersusah hati ketika menysup ke jurang terbawah. Semuanya akan berubah, berubah sesuai dengan upaya masing-masing pribadi dalam menjalaninya.

Ditulis pada Uncategorized | 6 Komentar

Pesona Kupu-Kupu, Geliat Ulat, Kesetiaan, Kepedulian Tanpa Kebohongan

Kalau kau lihat gurat sisik di sayapnya yang rapuh
Pastinya decak kagum kan membawa pandang menyelami indahnya lukisan Tuhan itu
Kau sapa lembut wajah pagi hari yang bersinar dengan kepak ringan yang mempesona
Seperti seorang gadis cantik nan menawan kumbang

Kau begitu memikat hati
Mempesona sekuntum Krisan kuning
Elok nian, seperti lagu kecilku
” Kupu-kupu yang lucu”

Tampak mata ketika dewasa dan matang
Begitu Indah

Tapi kau pasti akan begidik ngeri
ketika melihat ulatnya yang begitu rimbun dengan bulu-bulu panjang
geraknya yang merayap, seperti hendak meraba setiap jengkal kulit kemudian
memasuki Fase hidup selanjutnya
dia akan masuk pada selimut tidurnya yang nyaman…
Membuatnya sedikit sabar supaya bisa “lahir” Sempurna
dengan kepak sayap indah dan mempesona
Tak seperti semula
Apa seperti itukah gambaran kepedulian  manusia

Ketika kita masih melarat
miskin dan tak bera
Banyak mata begidik ngeri dan jijik
memandang miris
Sepertinya wajah kusam ini tak ada harap sukses dan matang hidup di Dunia
Seperti melihat geliat ulat bulu yang mengerikan
seperti itukah melihat seorang kumuh kusam di anggap tak bermasa depan
Sepertinya setakut itu, takut sekali akan terkena bulu-bulu “Rekoso” yang di bawa si kumuh itu…

Begitu pulakah seorang manusia
Pandang seorang Guru
Akan sangat mencintai muridnya yang pandai
tapi akan begitu mengabaikan anak-anaknya yang bodoh
Lalu menjadi baik hati pada yang bodoh lalu menjadi pandai..

Begitu pulakah
Lalu tepuk tangan ringan, riang, meriah,
membahana
ketika keberhasilan, Wajah lusuh itu sumringah, mendapatkan keberhasilannya…
Kejayaan datang, Seperti corak indah pada sayap kupu yang memikat
seperti itu telah tampaklah masa depan yang indah pula..

Shit…
adakah tanah yang selalu ada meski hujan tak turun terik meneriaki
Adakah Langit yang biru saat terang dan tetap di situ ketika awan kelam menandakan Hujan

Adakah sebuah kesetiaan
konsistensi
Terhadap kawan
Sahabat
Kepedulian
Kasih sayang
Cinta

Yang datang bukan karena
Harta
Kepandaian
Kecantikan
Keindahan

Tapi datang atas sebuah ketulusan
Kepedulian yang tak beralasan

Bukan sebuah pengakuan karena keberhasilan
tapi pengabaian saat keterpurukan

Kepedulian dan kebahagiaan
bersama dalam satu Ikrar Kesetiaan

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Inspirasi Selembar Foto lusuh itu

Berkali-kali merasa bosan tak bisa mengakses info-info yang kuinginkan. Bosan menatap layar monitor yang itu-itu saja, tak bisa ku ajak bicara, tertawa dan menangis. Cukup lama ku bolak-balik lembar foto-foto di facebookku, foto-foto keluargaku. Menatap wajah Pake, Mae, Olid dan Abel ( * waktu itu si kecil riyan belum lahir ), membuatku semakin merindukan kampung halaman. Baru sekitar 2 bulan tak pulang tapi rindu sudah menyayat-nyayat hati. Entahlah, ada yang pernah bilang ” bahagiamu memang bersama keluargamu, di sana di kampung halamanmu”, dan sepertinya memang benar. Seberat dan sesulit apapun problem yang ada di rumah terasa lebih ringan dari pada di sini, sendiri di tengah perantauan.

Dini hari yang dingin, masih terpaku didepan layar monitor entah apa yang tengah ku baca. Tiba-tiba ku temukan sebuah gambar yang benar-benar membuatku miris, menangis….
Dua orang anak jalanan berpakaian lusuh, tertidur, bersandar di undak tangga, mungkin tangga jembatan penyebrangan. Seorang anak laki-laki berumur sekitar 12 tahun berkaos oblong dan lusuh, memeluk adik laki-lakinya mungkin umurnya sekitar 4 tahun, sama, berkaos oblong lusuh, tertidur pulas dipangkuan kakaknya. Bersandar di tepian tangga, saat malam kelam, hanya berdua, kedinginan.
Tak ada selimut
Tak ada Bantal
Tak ada Kasur

Bahkan mereka tak beralas kaki

Hanya berdua

Mungkin mereka adalah anak yatim piatu, orang tuanya meninggal, atau meninggalkan mereka di jalanan.

Tak ada prasangka negatif yang ada dalam benakku, yang kulihat adalah mereka ( seperti kedua adikku yang memang seumuran ).
Dua anak manusia, terlantar di jalanan, mungkin belum makan, kelaparan, kehausan, lari dari kejaran petugas SatpolPP, atau justru preman-preman yang hendak mengambil uang kerja kerasnya dari mengamen seharian penuh.
Tidakkah kau sedikit iba melihat wajah polos mereka,
Tidakkah kau merasa kasian
Harusnya mereka tertidur lelap di kamar hangat yang berkasur empuk, seperti milik kita.
Harrusnya mereka tengah belajar di kamar nyaman yang lampunya benderang
Meskinya esok mereka bersekolah, dengan baju rapi, sepatu dan tas

bukan di sana
di lorong sempit
Ditepi tangga jembatan penyebarangan
dengan nyala lampu jalan yang temaram
Digigit dinginnya malam
Dihisap ganasnya hidupdi jalanan

Entahlah
mungkin kau berfikir lain,
” ah, mereka itu hanya di suruh bapak dan ibunya ngamen saja”
” mereka itu punya rumah, wong tiap hari ngamen dan minta-minta, pasti duitnya banyak”
” sudahlah, tak perlu Iba, kau lupa peduli tak berarti memberi. Mau bikin orang Indonesia jadi pemalas semuanya”

Bullshit, Fuck U so!!!!

Jangan micek dengan kondisi Indonesia yang sekarat dan melarat. Kau pikir mereka kepanasan di jalanan bukan suatu usaha untuk berjuang, bertahan hidup!
bayangkan Kalau itu dirimu, bangkrut dari harta yang melimpah ruah dan hidup terlunta-lunta di jalanan, tanpa ada kesiapan menyikapi segalanya, bahkan mungkin kau tak mampu setegar mereka. Tak mampu Hidup di tengah ganasnya jalanan.

Buang semua pikiran negatif itu!!!!
Kalau semua orang mikir gitu, Oh Tuhan, gimana nasib mereka yang benar-benar melarat dan ” berjalan di jalanan” dengan sepenuh hati. Mencoba mengais rizki dibawah tatap curiga, sinis, ketidakpedulian dan kecongkakan para konglomerat yang ” nagkring” di atas BMW atau APVnya.
Shit!!!!!

Pengen teriak, pengen nangis, pengen semua orang Indonesia itu gak cuma mikirin dirinya sendiri.

Ok!!!

memang ada sebagian kaum jalanan diorganisir, dijadikan sebagai tak-tik nyari duit biar gampang, biar gak kerja.
Tapi TIDAK SEMUANYA BENAR BEGITU!!!!

Harus kuulangi lagio kata-kata itu!
yok kita buang pikiran negatif, positif thinking ajalah. Kalau niatnya Ibadah, ikhlas memberi tnpa takut ada embel-embel ” jangan2 itu hanya kedok mereka aja”,
Biarin deh mo mereka apain tu duit atau pemberian kita, yang penting kiat ngasih dengan tujuan Ibadah dan Ikhlas, mereka yang nanggung kalo mereka nyelewengin.

Mo siapa coba yang peduli dengan kemarjinalan yang menggerogoti bangsa ini, kalau bukan kita.

uang 500 atau 1000 yang kita berikan kepada “pengemis atau pengamen” dijalanan, tidak akan membuat serta merta kita miskin atau serta merta “mereka” kaya, segalanya tergantung usaha, kerja keras dan doa kita.

So, jangan takut bakalan jadi miskin kalo sering memberi!
Jangan takut pula bakal kesaingan kaya sama orang yang kita beri.
Alloh Maha tahu atas apa yang kita lakukan baik terlihat atau tak terlihat.

Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar

Merdu Mendayu dalam Bisik Puisi Sapardi Djoko Damono

Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi suit

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

mencintaiMu(mu) harus menjadi aku

 

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Hatiku selembar Daun

Hatiku  selembar daun melayang jatuh di rumput

Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini

Ada yang masih ingin ku pandang, yang selama ini senantiasa luput

Sesaat adalah abadi sebelum kau sapu  tamanmu setiap pagi

 

KUTERKA GERIMIS

Kuterka gerimis mulai gugur

Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku

sambil  melepaskan  isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu

Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung  jarum  jam  dinding  yang berhimpit ke atas itu

Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

 

SIHIR HUJAN

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan

swaranya bisa dibeda-bedakan;

kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu dan jendela.

Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan  selokan

menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh  waktu menangkap

wahyu yang harus kau  rahasiakan

 

 

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Diam

Sepi berjejalan tengah ramai-ramai
Kupandang gemintang seorang dilangit kelam…
sembari melayangkan pikir kemana tak temu muaranya

Tak menahu apa yang ku pikirkan
Hanya berusaha mengenang puing-puing rindu yang terserak

kali ini aku hanya hendak mencoba menjadi sahaja
sesahaja angin
aku ingin hanya sederhana
sesederhana air
aku ingin apa adanya
seadanya api..

Dan kini aku hanya mampu terdiam…

Biar saja terdiam

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Kusambut panggilan Logika, dan Kuabaikan Panggilan Hati

Deadline tugas menumpuk, kerjaan belum kelar, semuanya menjadi satu, harus diselesaikan.

Di sela-sela aktivitas yang padat, seringkali hati berbsisik, sampaikan rindu, sejenak meminta diri untuk berdiam menenangkan hati dan mengingatnya. Tapi kali ini ku abaikan, ku habiskan waktuku untuk mengabaikan gejolak hati yang tak logis.

24 jam, seharusnya menjadi waktu yang panjang untuk berkutat dengan tugas, pekerjaan, urusan rumah tetek bengek cucian maupun setrikaan, dan aneka keinginan pribadi, apakah itu belajar, mengerjakan hobi, istrahat, everything….
Tapi sepertinya, 24 jam sangat singkat, berdetak pasti, tiap detiknya berlalu
melalukan siang yang benderang….lalu kelam malam…

Hidup itu penuh dengan aneka macam rasa, seringkali dikecap manis yang membahagiakan, gurih yang mengenyangkan, atau kadang kala pahit yang menyesakkan.

Setiap orang menjadi lakon hidupnya masing-masing, menjadi tokoh utama bagi kehidupannya dan menjadi peran pembantu dalam cerita hidup orang lain. Hidup yang penuh dengan perjuangan, tidak semudah hidup yang kubayangkan, justru lebih seperti novel-novel yang biasa ku baca, penuh masalah, penuh tangis dan derai tawa.
Kadang masalah keluarga, masalah financial, masalah persahabatan, masalah organisasi, atau masalah kuliah. Banyak masalah yang di alami, menyita waktu dan perhatian, sesekali malam pun tak terasa telah berlalu karena habis hanya untuk melamunkan atau menangisi sesuatu yang tak perlu ditangisi.

Dengan Begitu banyak problema yang menumpuk, kenapa pula masih sempat memikirkan tentang cinta, tentang perasaan, sesuatu hal yang sangat riskan untuk di mengerti karena penuh subyektivitas.
Berkali-kali jatuh bangun, tentang masa lalu yang kelam, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Entahlah, sebenarnya tak hendak kusampaikan….
cerita cinta Delisa yang malang, yang mencintai sahabatnya sendiri yang kemudian harus patah hati karena sang pujaan hati memilih orang lain. Lalu Anggita yang bernasib sama.

hidup yang sumpek penuh sesak, beraneka macam cerita
tapi yang paling sering di bhas dan dikupas lebih dalam justru hal remeh temeh yan tak seberapa tentang apa lagi kalau bukan cerita cinta.

Delisa menatap diam layar komputer didepannya, sedikit mengantuk tapi tetap diusahakannya membuka mata lebar-lebar, deadline laporan tugas studi lapangan harus dikumpulkan dua hari lagi dan belum sadikitpun ia menyentuhnya. Ia baru mebuka-buka map laporan SL 2 minggu yang lalu itu. Sembari bertfikir dan terkantuk-kantuk, lampu kelap-kelip modem yang ia pinjam dari temannya menyertai malam panjang lembur kala itu, tak lupa secangkir kopi yang diisi dua bungkus kopi Good Day menemani perjalanan tengah malamnya.

Sigit: Hay, Pa kabar?

Delisa: Baik git. Kamu?

Sigit: baik juga. gmna kulnya? Lancar

Delisa: Alhamdulillah lancar. Kamu gimna? sibuk ngapain ini?

Sigit: sukur deh, hemm, aku cuma jadi kacung di Jakarta.

Delisa: maksdunya? kacung gimana neh?Kacungny orang kaya neh? di Perusahaan mana neh?

Sigit: haha, bisa aja. Ya gitu deh, bolak-balik ngurusin kerjaan diluar kota yang gak kelar, ngurus tender ini itu. Capek.

Delisa : kok malah ngeluh sih, bersyukur dong, bnyak yang pengangguran noh diluar sana!

Sigit: iya neng iya, kamu masih sama aja kaya dulu.

Delisa: Konsisten dong git. :D

Sigit : Nyindir neh :’(

Delisa : Gak kok, kamu itu negtaive thinking aja. just kidding :)

Sigit: haha, ya ya. Gimana neh, dah punya gandengan lagi?

Delisa: haha, gandengan apa? gandengan truk….

Sigit: Serius?

Delisa: serius, tidak semudah itu mempercayai seorang pria dan  mendapatkan pria yang dapat dipercaya.

Sigit: hemm, masih mengingat masa lalukah? Maaf.

Delisa: kenapa minta maaf. Gak perlu.

Sigit: kamu masih marah?

Delisa: marah? Naif kalau aku bilang aku gak marah. Mungkin lebih dari sekedar marah. Ah sudahlah, aku banyak pekerjaan. Tak seharusnya percakapan kita ini membuat konsentrasiku terganggu.

Sigit: Maaf del, aku tak bermaksud menyakitimu. kau tahu, aku masih mencintaimu,

Delisa: stop, maaf git, aku offline, sudahlah, itu masalalu dan takkan terulang lagi, kesempatan itu sudah habis untukmu. Selamat malam.

Sigit: Del, …………….

Delisa : Offline..

Kepalanya kembali kemat-kemut, migrain kambuh lagi. Kenapa harus ada orang itu lagi, muncul tiba-tiba dan sekonyong-konyong menghapuskan semua memori tentang laporan SL yang harus dituntaskannya. Delisa, gadis manis kecil itu pernah menjalin cinta dengan sigit. Sigit, seorang pria dewasa yang matang, mapan dan menarik. Mulanya hubungan mereka baik-baik saja, masalah itu muncul tiba-tiba tak terduga, Lambat laun sigit mulai mengungkapkan masa silamnya dengan mantan-mantannya terdahulu, cerita yang seharusnya membuat hati seorang wanita luluh lantak. Tapi Delisa bersikeras menerima sigit apa adanya. memang hubungan keduanya sudah tak direstui oleh kuda orang tua mereka, tapi keduanya sama-sama saling mencintai. Tiba pada suatu waktu yang sangat penting di mana Delisa harus pergi ke Luar kota untuk melanjutkan studinya, pada saat itu jugalah Sigit melukai hati Delisa. Sigit menyampaikan permohonan maafnya untuk meninggalkan delisa karena ia akan bertunangan dengan gadis lain. Betapa hancurnya hati Seorang gadis ketika itu, tangis tak tertumpahkan tapi justru menyayat di dalam kalbu. Maka ia tinggalkan kampung halamannya itu dengan hati yang mantab, melupakan masa lalu dan memulai cerita hidup yang baru.

Bermula dari itu, percik-percik ketidakpercayaan pada sosok “pria” sangat melekat padanya. Sulit sekali membuka hati, ada sulit sekali percaya dan sulit menemukan sesorang yang kiranya bisa dipercaya.

Suatu waktu Delisa mempunyai seorang sahabat yang sangat baik. Namanya,Handoko. Mungkin kedekatan dan kebiasaan mereka jalan berdua membuat terbersit rasa dalam hati Delisa, tapi Handoko menganggap Delisa hanya sebagai teman, tepatnya sahabat dekat. Tak disangka tak di nyana, handoko berkisah bahwa ia menyukai seorang gadis yang baru pertama kali ia temui, Fallin in love yang kemudian berakhir dengan kebahagiaan. Satu sisi kebahagiaan dan di sisi lain patah hati. 3 tahun Delisa memendam rasa kepada Handoko dan berakhir dengan sebuah cerita yang mengharukan. Tapi tak apalah, Delisa masih punya 1000 nyawa untuk jatuh bangun dan sellau bangkit atas setiap kegalalan yang dihadapinya, salah satunya dalam hal cinta.

Delisa, …..
Masih ada kisah tentang gadis ini.
Gadis putih kecil, berwajah Chinnese yang entah didapatkannya dari siapa, karena memang tak ada keturunan chinnese sama sekali.
Terus simak kelanjutan ceritanya.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar