Coffe, Night and We were Together. Comeback!

Malam telah cukup larut bagi bistro dan cafe coffe yang biasa buka hingga pukul 22.00, tapi lain dengan yang satu ini langganan tempat kami menghabiskan malam dengan bergelas-gelas kafein ini buka hingga pukul 02.00 dini hari. Dan hanya mata-mata kalong saja yang masih bertahan dengan gadgetnya, dengan bukunya, tugasnya atau kerinduan akan suasana senyap di tengah kota.
Tempat ini tak begitu terkenal, mungkin hanya kalangan tertentu saja yang tahu, di tengah kota tetapi kita perlu masuk ke gang-gang sedikit sempit, dua kali berbelok dari jalan utama, masuk ke tengah hutan jati seluas 300 m2 , pada bangungan yang cukup luas, berdinding batu bata, banyak buku-buku tertata rapi, musik merdu yang mengalun pelan, dipilih dengan cita rasa musik yang tidak main-main, dan tentu dengan sajian espressonya yang begitu menggoda bagi penikmat kopi.
3 gelas espresso telah membuatmu sedikit gemetar, kamu masih berdiri untuk menenangkan tanganmu yang sedikit gemetar, benarkah hanya karena espresso atau ada hal lain yang kau sembunyikan dari kita.
Aku masih mencoba fokus pada novel yang baru saja ku beli, meskipun penerangan di sini tak cukup untuk ku membaca, tapi karena ceritanya yang begitu misterius aku pun tak kuat melepas satu halaman pun. Apalagi Riko masih saja sibuk dengan badannya yang dia pikir gemetaran.
“ sepertinya aku terlalu banyak menghabiskan kopi malam ini “, Riko kembali menenangkan diri dan duduk di depanku.
“ Hemmm, ku rasa 2 bulan kita tak bertemu ukuran kopi mu mulai berkurang ko, “ aku hanya menanggapinya dengan santai.
“ Ehemmm, sepertinya ada yang melupakan bahwa aku di sini diundang..ehem” Riko bedehem, mengembalikanku pada kenyataan bahwa dia di depanku, menantiku berbicara, mungkin.
“ hehe…” aku menutup novelku, dan mengalilhkan tatapanku padanya yang juga menatapku tajam.
“ aku berpikir banyak sekali selama aku tak di sini…” aku menatap sampul novelku yang bersimbol, riko masih diam.
“ aku merindukan tebing gunung yang menggoresku perih, melukai ku tapi tak melukaiku. Aku melupakannya, melupakan cintaku pada alam, pada keinginanku menaklukkan gunung dan menjelajahi negri indah ini.” Aku menahan napas, dalam…
“ aku masih mencintainya ko, aku masih mencintainya…” mataku mulai kabur. Riko masih khusyuk mendengarkanku. Tak ada sedikitpun iterupsi darinya.
“ aku bersalah pada dia, alex yang ku sayangi sepenuh hati, alex yang meminjamkan tali kehidupannya padaku, aku ingin kembali Ko, aku tak ingin berhenti lagi, aku tak ingin menyia-nyiakan kepercaan alex…” Mataku mula berair, pelan, aku menunduk, tak terasa ada bulir being yang membasahi sampul novelku.
“ alex, bagaimana bisa aku tak mengingatnya …wajahnya tersenyum meski sudah tak jelas, dia begitu tenang dan tersenyum melepas tanganku, aku menggenggamnya erat, aku tak mau melepasnya ko. “ air mataku semakin mengalir deras.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang kepalaku, mengambilnya ke pelukannya, dadanya yang berdebar hangat menjalari wajahku yang basah, Riko hanya diam.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Kata, Cinta

Tak menjemput pena
Purnama berlalu dari kata

Berpijak kukuh pada aman
nyaman
Hati meruntuh, merupa rapuh
Melupa waktu
Tak lagi lirih saja berkata
Tak pula berdiam tak bicara
tapi sunyi, sepenuhnya melupa

Oh, hay….

Cinta lamaku yang sendiri
Lama nian tak kusapa dikau

Adakah rindu menyaput sendu kalbu?

Bilakah tak sampai, maafkan daku …

Lena…

Lelah berkutat pada nyata
sehingga melupa pada rasa

Pada cintaku untukmu

Kata…
Jiwa…

Baris sajak
Rumpun Cerita
Gundah gulana yang dulu ku ramu bahagia
kupintal payah-payah obati luka

kini…Aku, saja

Ya Begini, ini…

Aku merindu
Tapi tak ada waktu

Oh sajak-sajakku berdebu

aku berdaya, tapi tak mengupaya

kini aku membuka pagi
menyibak malam
mengawali waktu

Bilakah engkau berkenan
kembali di rerasaku …
hadir kembali

pada bait-bait hari yang kugilas oleh sama

senja hingga senja lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sungai Sekonyer, Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah

Sungai Sekonyer, Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Caving moment, When I was in Meratus and Batu Hapu

Caving moment, When I was in Meratus and Batu Hapu

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Enjoy The Dark side of Indonesia

Terlahir di negri “sekaya” Indonesia, seharusnya menjadi kebanggaan bagi kita, bagi saya, anda dan semua manusia yang lahir di tanah ini. Indonesia adalah salah satu negara dengan biodiversitas yang sangat tinggi dahulu, bahkan saat ini pun masih, meskipun telah berkurang lebih dari 50 %. Namun ke karena bencana, ilegal loging, dan aktivitas manusia yang semakin pesat. Kenyataannya kebanggaan itu tak disertai dengan kemampuan dan kemauan untuk menjaga kekayaannya. Sederhana saja, membuang sampah di tempat yang semestinya itu pun sulit dilakukan, saya masih sering menyaksikan mengalami kena lemparan sampah dari orang yang membuang plastik atau bungkus makanan ringan dari dalam mobil. Seorang sahabat saya pernah menngatakan seperti ini, “ Kalau tidak mampu membuang sampah pada tempatnya, makan sekaligus bungkusnya!”. Duhai seperti itukah negri indah ini harus “hancur” oleh ulah sendiri.P1020857

Satu tahun berlalu dengan aktif di kegiatan kampus, kerja part time, kuliah di jurusan pendidikan Biologi yang luar biasa padat menjadi aktivitas keseharian yang tidak pelak membuat saya penat. Suatu saat di tahun 2011 saya mendapat tawaran untuk mengikuti ekspedisi di kilamantan selatan, bukan ekspedisi hutan atau satwanya. Tetapi ekspedisi ke gua-gua yang ada di kalimantan selatan, tepatnya di Meratus dan Batu Hapu. Tanpa berbekal pengalaman caving sebelumnya, saya nekad turut serta. Menjadi satu-satunya perempuan diantara rekan-rekan pria yang luar biasa tangguh sungguh merasa terhormat, dihormati, dilindungi dan tidak dibedakan berdasarkan keberadaan saya sebagai perempuan. Saya tetap turut serta menaiki medan pegunungan meratus yang cukup rapat, masuk kegua-gua yang baru saya temui sehari 3 sampi 4 gua kami kunjungi. Mencoba menelaah keberadaan gua dan melihat keanekaragaman kelelawarnya. Namun sayangnya meskipun gua-gua itu cukup jauh dari peradaban, tetap saja banyak dijumpai coretan-coretan yang menghiasi dinding gua, sampah-sampah dan beberapa “jejak peninggalan” para penjelajah terdahulu. Ternyata demikian juga ya, yang dilakukan oleh pemuda Indonesia yang menyatakan dirinya pecinta alam, justru kegagahannyaberpetualang meninggalkan jejak vandalisme terhadap bumi pertiwinya.

 

Menikmati keindahan stalagmit, stalagtit dan aneka bebatuan nan unik membuat saya terkagum-kagum, airnya yang dingin, medannya yang menanjak, kadang begitu sempit, kadang harus merayap, membuat saya tak peduli lagi dengan lumpur dan mungkin aneka macam cacing yang biasanya membuat saya bergidik ngeri. Ada sekitar 18 gua yang berhasil kami kunjungi,dan sebenarnya lebih dari itu, namun karena perlengakapan dan waktu yang terbatas maka cukup 18 gua itu di Kalimantan Selatan. Meskipun demikian, 18 gua tersebut telah membuat saya jatuh cinta dengan gua, dengan caving, meskipun saya belum pernah mencoba vertical caving, mungkin suatu saat akan ada kesempatan itu datang. Gua, tidak bisa terlepas dari kelelawar di dalamnya, dan bau guano. Guano adalah veses kelelawar yang baunya begitu menyengat, namun menyimpan misteri sebagai obat atau antibiotik. Di salah satu gua di meratus, telaga langsat, nama guanya adalah gua haruk, haruk yang artinya bau. Ya gua haruk memang memili bau yang sangat khas, bau guano yang sangat menyengat karena kelelawarnya yang sangat banyak di dalam gua. Untuk masuk ke gua tersebut kita harus melewati jalan setapak diantara perkebunan karet, lahan bekas penebangan hutan, dan menaiki lereng yang cukup curam yang sudah tidak ada pepohonannya sama sekali. Lalu masuk lewat mulut gua yang cukup lebar, menuruni dinding gua yang basah dan penuh dengan gua, kita harus sangat berhati-hati karena tidak mungkin kita tidak tergelincir. Terpeleset, berlumpuran guano, atau masuk ke aliran air adalah hal biasa yang pasti kita jumpai saat menikmati pesona wisata tanpa lampu di dalam gua. Belum pernah mencoba? Mengapa tidak mencoba. Namun seperti seringkali tertulis di banyak tempat, jangan mengambil apapun selain udara ( foto juga boleh), dan jangan meninggalkan apapun selain jejak.

 Segelap gua, sehitam gelap, lebih dalam lagi ilmu dan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

PUISI, GANDRUNG

GANDRUNG

Layaknya lampu neon kualitas terbaik
Perasaan saya menyinar terang, menyeruak kemana-mana
Terang sekali,
Turut menjangkit bahkan galau jaman sekarang itu
Senyum menyungging,
Aduhai, Manis sekali…
Duh gusti
Gegap gempita, bahagia bukan main
Atas ungkapan cintanya pada saya,
Atau hanya sekedar senyum manisnya saja
Atau sekedar kerlingan matanya, yang sebenarnya kelilipan
Saya pun anggapnya godaan, aih-aih…
Indahnya…

Lalu
Lama-lama , lebih lama lagi…
Sembab, Saya menghadapMu
jatuh tersungkur
Pilu memakui merah jambu hati saya
Pilu, saya mengadu
Berhari-hari bahkan berbilangan tahun
Saya masih menangisinya…
Yang memilih orang lain
Yang mengabaikan saya
Yang meninggalkan saya

Duh Gandrung…, gandrung…

Saya malu,

Akan perasaan cinta saya padanya yang menggebu-gebu
Padahal
Rasa cinta saya padaMu justru seperti nyala sentir
Sebentar nyala benderang, lalu mak pet
Seketika peteng dedet, gelap gulita

Duh Gusti…
Saya lupa, atau malah melupa
Pada nikmat kenyang selama ini
Pada setiap helaan nafas,
Pada rasa kantuk yang membuat saya lelap, melepas lelah
Pada segala nikmat dari Mu
pada CintaMu,

Saya bangga pada perasaan cinta saya, tapi melupa pada perasaan CintaMu
Menggandrungi makhlukMu
namun justru mengabaikanMu
Duhai, Tangis itu…
Atas bentuk kegandrungan yang keliru
seperti peluh, seperti keringat
Hasil gojlogan dariMu
Agar saya semakin kuat
semakin bersyukur
dan kembali kepada Gandrung yang benar
Duh Pangeran Kulo, ngapunten Gusti…
Jangan biarkan saya menyia-nyiakan titipan cinta dariMu
Jangan Kau biarkan gandrung itu sirna tanpa makna

Terinspirasi dari diskusi kami, Nizar, Mas Helmy dan Saya, tentang puisi-puisi Gus Mus (Mustofa Bisri) dalam bukunga Gandrung. Juga, terinspirasi dari sahabat-sahabat saya, pengalaman pribadi, pengalaman kita, rasa cinta yang pernah kita miliki, atau malah kini sedang menggerogoti hati. Jika itu benar cinta, pasti lah takkan menyakiti, pastilah akan menjaga, hanya perlu bersabar, hanya perlu menanti “sebentar” hingga pada saat yang tepat, gandrung itu diridhoiNya, bukan dilarang malah justru diperintahkanNya.
Siapapun, yang tengah gandrung pada seseorang, jangan sampai kita salah paham mengartikannya. Perasaan itu datang dariNya, dan kembali lagi padaNya, jika suatu waktu Ia mengambil rasa itu maka betapa pun sulitnya, meski diikhlaskan. Menggandrunginya berarti mendoakan yang terbaik untuknya, menjaganya, mengirimi Fatehah ketika merindunya, bukan mengikatnya untuk diri sendiri, untuk ego atau sekedar nafsu.
Menggandrunginya berarti juga semakin MenggandrungiNya pula, semakin ingat padaNya, dan semakin dekat padaNya, memohon, berdoa, tanpa melalaikan usaha dan kerja keras kita secara nyata di dunia.
Mari belajar memaknai Gandrung, ^_^

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Coffee Story Part2~ I Wanna Be Like Coffee

Part 2- I Wanna be Like Coffe

       “ Hai,” seorang gadis manis berambut panjang tergerai menyapa Rico.

“ Eh, hai. “ Rico membuka headsetnya dan membalas singkat, melanjutkan kesibukannya mendengarkan musik.

“ Rik, bisa bicara sebentar.” Si gadis cantik membuka satu headset dari telinga Rico. Lalu duduk disampingnya.

“ Oh, Sorry, ada apa Sint?” Rico membuka headsetnya.

“ Aku, emm, maksudku, emmm, kita gak bisa balikan lagi ya Rik?” Sinta bertanya ragu-ragu.

“ Balik? Haha, balik ke mana? Gak ada lorong waktu buat balik ke masa lalu Sint.” Rico menjawab dingin.

“ Aku udah putus dari Rizal. Aku, aku… masih sayang kamu, Rik.” Sinta memegang tangan Riko.

“ Maaf Sint.” Riko melepas tangan Sinta.

“ Sudah sejak lama aku melupakan kamu Sint. Lama, lama sekali.” Riko menatap mata Sinta dengan tatapan benci, marah, dan entahlah, tatapan yang sulit diartikan.

“ Maafin aku Rik.” Sinta memasang wajah memelas.

“ Tentu, aku juga udah maafin kamu, sudak sejak lama Sinta. “ Riko tersenyum tegas.

“ Dan tolong, dengan penuh hormat aku mohon jangan ganggu aku, kamu cantik dan bisa dapat cowok mana aja yang kamu suka. Dan aku juga udah punya orang aku sayang. Jadi please, jangan datang lagi.” Riko, jelas.

“ Kamu, suka sama Endah?” Sinta bertanya pelan.

“ Kalaupun iya, “ Riko berhenti pada kata Iyanya.

“ ..atau tidak itu bukan urusan kamu.” Riko memasang headsetnya kembali dan pergi meninggalkan Sinta yang nampak malu dan kesal.

***

“ Aku mau mencoba lagi.” Endah berbicara pelan, mengaduk kopi susu didepannya.

“ Mencoba untuk?” Riko masih bingung.

“ Untuk kembali ke alam, kembali mencintai alam, mengambil kembali cintaku yang tertinggal di alam.” Kata Endah masih menunduk.

“ Serius? Terima kasih Ndah, aku yakin kamu pasti bisa.” Kata Riko senang.

“ Kok kamu yang terima kasih? Emang aku ngelakuin ini buat kamu?” Endah mengernyitkan keningnya.

“ Hehe, untuk siapapun Ndah, aku mewakilinya menyampaikan terima kasih itu.” Kata Riko sumringah.

“ Haha, ya ya ya, sama-sama. Semoga ucapan terima kasih mu itu tidak sia-sia.” Endah menatap Riko.

***

“ Ayo ndah, terus ndah, jangan liat bawah!” Riko menyemangati Endah yang sedang memanjat dinding buatan di belakang kampus. Pemanjatan pertama setelah tragedi 4 tahun yang lalu.

Tragedi yang membuat Endah kehilangan orang yang ia cintai, sekaligus kehilangan kecintaannya pada alam, hobinya, dan kepercayaan dirinya. Dan kini ia memulai kembali.

“ Arghhh, “ Endah terpeleset, ia bergelantungan di atas tali.

“ Kamu gak papa Ndah?” Riko membantu Endah, setelah turun.

“ Gak papa Ko, mungkin kurang pemanasan.” Endah menyeka keringat yang mengucur deras.

“ Besok lagi latihannya, sekarang cukup dulu.” Kata Rico menyodorkan sebotol air miner dingin kepada Endah.

“ Makasih.” Endah menenggak setengah isi botol.

“ Enggak, targetnya hari ini bisa.” Endah meletakkan botol air mineralnya dan melaju kembali ke dinding panjat.

Riko masih setia melihat dari bawah. Ia menunggui Endah sembari melakukan pemanasan. Menyaksikan Endah pelan-pelan menuju puncak dinding. Riko pun memasang peralatan panjatnya. Dan menyusul Endah.

“ Ayo, Ndah! Tunjukkin kalau kamu bukan sekedar kutu buku, tapi juga kutu tebing, Hehe.” Riko membuntuti Endah, dan kini sudah berada di samping Endah.

“ Sialan! Emang aku mirip kutu buku Apa. Huh. “ Endah memasukkan tangan kanannya ke saku bedak dibelakang punggungya.

“ Yuk, naik bareng.” Riko melaju mendahului Endah.

“ Hah, sampai.” Endah sedikit bernapas lega. Sampai di puncak dinding.

“ Yey, finally you got it!” Riko menepuk pundak Endah, setelah mereka turun.

“ Huft, aku tak pernah berpikir aku bisa kembali ke dunia seperti ini.” Endah masih terduduk lemas, keringat dingin mengucur dari seluruh badannya.

“ Kamu baik-baik aja?” Tanya Riko.

“ Aku seperti melihat Alex, Ko. Dan bodohnya aku hanya membiarkan ia jatuh begitu saja.” Endah menunduk.

“ Itu keputusan Alex, dan Alex me minta kamu untuk tidak membenci tebing.” Riko memegang kedua pundak Endah.

“ Aku gak yakin Ko!” Air mata itu pelan menyusuri pipi Endah yang kemerahan.

“ Kamu bisa Ndah.” Riko tak kuasa untuk tak memeluk Endah. Membiarkan Endah menangis di dadanya. Tapi ia hanya memegang kepala Endah, membiarkan Endah menunduk, merangkul erat lututnya, seperti ketika ia merangkul mayat Alex kala itu. Badannya bergetar hebat, air mata tak kuasa untuk berhenti, mulus saja membasahi celana panjangnya, mencoba menahan tangis itu tapi justru tergugu tak kuasa tegar setegar tebing karang, tak kuasa untuk tak membenci tebing dan tak kuasa untuk tak menyesali dirinya.

Perih, perasaan Rico terasa ngilu melihat gadisnya yang sedingin batu es kini meluruh begitu saja, akan kenangan masa lalunya. Masa lalu yang hingga sekarang masih menjadi saingan Rico. Saingan untuk menempati ruang terdalam hati Endah. Rico hanya bisa termenung, menepuk pundak Endah dan membelai kepalanya. Mencoba memberikan penguatan pada sahabat yang begitu ia sayangi, lebih dari sekedar sahabat.

***

“ Kamu yakin Ndah?” Riko memandang Endah ragu.

“ Kamu sendiri yang meyakinkanku Ko, dan sekarang kamu justru meragukanku?” Endah menatap tajam.

“ Kamu gak perlu maksain diri kalau memang kamu belum siap.” Kata Riko pelan.

“ Terlambat, aku sudah memulai, tak bisa berhenti sekarang, maju atau tidak sama sekali.” Endah menatap tebing karang di depannya.

Debur ombak pantai selatan Jogjakarta membuat riuh suasana sabtu itu. Hanya ada Endah , Riko dan 3 teman laki-laki Riko dari Komunitas panjat tebing di kampusnya.

“ Yok” Endah mengajak Riko dan satu teman Riko untuk mulai memanjat. Sedangkan dua teman Riko yang lain menunggu di bawah.

“ Siap?” Tanya Riko.

“ Ok, semuanya siap.” Kata Robi, teman Riko.

Endah meregangkan kedua tangannya. Menatap tebing karang di depannya. Robi telah memanjat terlebih dahulu. Sementara Riko menunggu Endah memanjat. Endah memanjat pelan-pelan, memilih jalur aman yang biasa di pakai pemula panjat, berbeda dengan Robi dan Riko yang mengambil jalur sulit, jalur yang memang untuk pemanjat profesional. Setengah perjalanan, semuanya berjalan lancar. Riko nampak lega, menikamti pemanjatannya hari itu.

Endah sesekali melihat ke bawah, keringat dingin mengucur deras. Tangannya menggapai-gapai karang untuk berpegangan. Sesekali menggelengkan kepala atau menyeka keringat dingin. Ia masih merangkak naik. Lagi-lagi ia berhenti, seperi mendengar suara, antara suara seseorang yang berteriak ataukah hanya suara ombak yang menabrak karang. Endah mulai kehilangan konsentrasinya, kepalanya serasa berputar. Wajah Alex kembali terbayang dibenaknya. Mengingat Alex yang melepaskan tangannya, lalu jatuh ke dasar bebatuan tebing. Pandangan Endah mulai kabur. Ia mencoba melebarkan matanya. Mulai mencari-cari pegangan lain. Melangkah lebih lebar untuk mendapatkan pijakan. Alih-alih mendapat pijakan, Endah justru menginjak batu karang yang rapuh, batu terjatuh ke laut, debur ombak segera menelan batu tersebut. Kering, ia mencoba menelan ludahnya. Ia melangkah kembali, mencoba untuk benar-benar berhati-hati. Naas, kali ini pandangannya justru semakin kabur, bayangan Alex kembali ke pikirannya, ia seperti melihat Alex.

“ Alex, Argghh,” Endah terpeleset.

“ Endah!” Riko yang sudah berada di atas terlonjak kaget. Pelan-pelan menurunkan talinya.

“ Endah!” Riko berteriak.

Badan Endah terayun, kali ini tali panjat benar-benar kuat menopang tubuh Endah. Namun tetap saja tidak bisa menahannya untuk tidak terbentur. Kepala dan kaki Endah beberapa kali membentur tebing karang. Endah Pingsan. Riko dan Robi menurunkan Endah dari atas tebing, sedangkan dua teman Riko menerima Endah dari bawah.

“ Ndah, Ndah, bangun ndah?” Kecemasan terlihat benar di wajah Rico.

“ Ayo langsung balik.” Robi mengemasi peralatan panjat dan memasukkannya ke dalam mobil Jipnya.

“ Pelan-pelan, “ Anton mengomando Rico dan Ferdi, membopong Endah ke dalam mobil.

Perjalanan ke kota tak terlampau lama, 40 menit. Dengan kecepatan penuh, Robi membawa mobilnya menerobos jalan Wonosari-Jogja yang ramai di hari sabtu.

***

                   Endah membuka matanya, pelan. Putih, semua di sekelilingnya berwarna putih. Apakah ia telah mati, apa ia telah menyusul Alex. Endah terbaring lemah. Ia melihat kepala seseorang, Riko. Ya, itu Riko, tengah tertidur di sampingnya.

“ Ko,” Endah mencoba meraih kepala Riko.

“ Hemmm, Ndah, kamu udah bangun? Dokter, dokter, Tante,Om, Mas Rendi, Endah udah Bangun.” Riko terlonjak dari tidurnya setelah 3 ahri berada di samping Endah. Ia berlari keluar ruangan.

“ Maaf permisi, sebentar ya, silahkan keluar dulu.” Seorang dokter meminta Riko dan keluarga Endah untuk keluar ruangan. Beberapa menit kemudian dokterpun keluar ruangan.

“ Maaf bisa saya bicara dengan keluarga Mbak Endah. “ Dokter memandang empat orang yang nampak pucat namun tersenyum cerah di depannya.

“ Iya dokter,” Bapak dan Ibu Endah pergi bersama dokter ke ruangannya.

“ Suster kami boleh masuk?” Mas Rendi mencegat suster yang baru keluar ruangan.

“ Silahkan masuk, mohon jangan terlalu lama, biarkan pasien beristirahat, ajaklah untuk mebicarakan hal-hal ringan saja” Kata suster cantik yang baru keluar tersebut.

“ Iya mbak suster, cantik.” Mas Rendi mengedipkan satu matanya, dan si suster hanya mampu tersenyum malu, tak kuasa menahan godaan Mas Rendi yang tidak bisa dibilang tidak tampan, karena kulitnya yang putih, badannya tinggi tegap, dan tatapan manisnya dari matanya tajamnya yang sipit.

“ Hey, gendut, kamu tidurnya lama banget. Ngalah-ngalahin Mas.” Mas Rendi mengelus kepala adik satu-satunya itu.

“ Hehe, emang berapa lama, mas?” Endah hanya nyengir.

“ 3 hari Ndah, rekor ya? Hehe.” Riko yang menyahut.

“ Lama ya, aduh, pusing, pengen keluar boleh gak?” Endah hendak beranjak duduk.

“ E, bentar, kamu belum boleh kemana-mana, nikmatin dulu istirhatmu di sini.” Mas Rendi dan Rico membantu Endah duduk, bersandar pada bantal.

“ Nduk, kamu ndak papa?” Bapak dan Ibu Endah masuk ke dalam ruangan.

“ Bue, Pake, …” Endah sumringah, memeluk ibunya erat-erat.

“ Pripun pak?(Gimana Pak?)” Mas Rendi bertanya kepada Bapak.

“ Ndak papa, ada gegar otak ringan, tapi ndak papa kok, hanya belum boleh banyak berkegiatan di luar.” Kata Bapak menepuk punggung Endah.

“ Maaf, om, tante, ini salah Rico. Rico yang…salah.” Rico merasa bersalah.

“ Tidak apa-apa nak Rico, ini kan kecelakaan, untung saja Endah bersama nak Rico. Jangan merasa bersalah begitu.” Bapak Harjo menepuk pundak Rico.

“ Iya ndak papa nak Rico.” Ibu Harjo tersenyum mendukung suaminya.

“ Hemmm, kamu telah membuat Endah celaka, jadi kamu harus bertanggung jawab.” Kata Mas Rendi tersenyum jahil.

“ Mas rendi,” Endah merengut.

“ Kamu, harus jadi pacarnya Endah. Hahaha.” Mas Rendi merangkul bahu Rico.

“ Wah, mas, saya si tidak menolak, tinggal anaknya mau apa tidak. Hehe.” Rico justru ikut menggoda Endah.

“ Apaan si, orang lagi sakit malah dikerjain.” Endah menunjuk kakaknya dan Rico.

“ Hush-hush, kuliah dulu yang bener, tidak usah pacar-pacaran, besok kalau sudah pada kerja nikah saja.” Kata Bu Harjo yang kalem, sok berlagak galak namun masih dengan tersenyum.

“ Hahaha, wuekkk.” Endah menjulurkan lidahnya.

“ Wah gagal Ko, sepertinya kamu mesti usaha sendiri.” Mas Rendi berpura-pura menyesal.

“ Hahaha, bantu aku mas.” Riko berpura-pura memohon kepada mas Rendi.

“ Wani piro?” Bapak nyeletuk, bergaya seperti jin yang ada di iklan di Televisi.

“ …” Sejenak terdiam.

“ Hahahahaha.” Derai tawapun pecah menghiasi ruang putih yang beraroma obat-obatan di lantai 2 Rumah sakit di Kota Jogja.

***

                   Tiga bulan telah berlalu, sejak kecelakaan yang menimpa Endah. Musim kini telah berganti. Bukan lagi sengat matahari, melainkan rinai hujan. Apakah ada hal lain yang juga silih berganti, pastinya ia. Apakah kalian juga merasa yang sama, banyak hal yang silih berganti dalam hidup kita, bahkan dalam perasaan kita? Benarkah? Pastinya hanya kalian sendiri yang tahu.

Lalu, bagaiamana  dengan perasaan Endah, sudahkah berganti musim, masihkah meranggas jati, ataukah tengah menyemi hijau? Entahlah, hanya Endah sendiri yang tahu.

“ Hoy, jangan melamun, ini materi buat presentasi besok belum selesai, sayang.” Retno, masih menekuni materi untuk presentasinya esok.

“ Seneng ya liat hujan, denger suaranya aja udah bikin seneng,jadi merasa gak sendiri,” Endah memandang keluar jendela gedung kuliah di lantai 2 kampusnya, hujan tengah turun deras di luar sana.

“ Hemmm, kalau hujan jalanan jadi becek kali Ndah, mana biasanya banjir pula, gak bisa lihat matahari yang cerah ceria. Huft.” Retno hanya memandang derai hujan sekilas.

“ Duh, kamu tu ya Ret, gak puitis deh, gak bisa ngerasain romantisnya hujan.” Endah malah senyam-senyum sendiri. Netbook di depannya masih hidup setia menanti kapan yang empunya menyentuhnya lagi.

“ Ndah, kamu kenapa? Sakit? Hemmm.” Retno menyentuhkan punggung tangannya dikening Endah.

“ Enggak panas. “ Lalu dia hanya menggumam sendiri.

“ Aku, enggak lah. “ Endah mengerutkan kening dan melirik sebentar pada presentasi yang sedang dikerjakan Retno. Lalu ia pun sedikit tergerak, memulai pekerjaannya, membuka kembali materi yang harus ia buat untuk presentasinya. Andai netbooknya bisa bicara, mungkin dia akan bilang.

“Akhirnya, aku gak cuma dianggurin.” Hehe, ini hanya imajinasi penulis saja, andai pun ia, malah justru menakutkan ya. Dunia robot benar-benar terealisasi. Ok, stop. Back to the story.

Baru 5 menit Endah membuka materi presentasinya. Getar Handphone mengalihkan kembali perhatiannya.

Dingin-dingin enaknya Ngopi ya.” Pesan dari Riko.

Huum, hujan-hujanan dulu baru ngopi, hehe.” Endah membalas, tersenyum.

Ogah, ntar masuk angin, wuekkk.” Rico membalas singkat.

Ntar malam ngopi yuk?” Endah mengajak Riko.

Dengan senang hati, nona.” Riko menyambut gembira.

Endah memasukkan Handphonenya ke dalam saku celana.

“ Kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Retno.

“ Loh, kan ada kamu?Aku gak sendiri.” Endah nyengir.

“ Siapa Hayoo?” Retno penasaran.

“ Biasa, Rico.” Endah menjawab singkat, kembali menekuni presentasinya.

“ Jadi beneran?” Tanya Retno.

“ Apanya yang beneran? Kamu itu ngomong kok dipotong-potong.” Endah melotot.

“ Kalian, jadian?” Retno pelan.

“ Hahaha, belum, eh enggak, nggak tau.” Endah terdiam, kali ini dia kembali bergaya sok cool.

“ Tuh kan, pasti ada apa-apanya. Hemmm, pantesan Sinta frustasi,  ternyata…” Jiwa penggosip Retno muncul spontan.

“ Loh, kok?” Endah mengernyit tak mengerti.

“ Iya, Sinta itu minta balikan sama Rico, tapi Riconya gak mau. Buktinya dia malah smsan melulu sama kamu.” Retno menyenggol siku Endah.

“ Weh, apa hubungannya Rico nolak Sinta dan Rico smsan sama aku. Ora cetho kowe (Gak jelas kamu).” Endah kembali memandang hujan yang mulai reda.

“ Ah, pokoknya gitu, Riko itu kurang apa to Ndah kok kamu gak mau sama dia?” Retno malah menasehati Endah.

“ Lho, kok malah mbahas itu. Emang dia pernah bilang suka sama aku, enggak tho. “ Endah merapikan buku-buku dan netbooknya.

“ Masa kamu gak sadar Ndah, dari cara Rico memandang kamu aja orang bisa tahu kalau dia sayang sama kamu.” Retno turut merapikan barang-barangnya.

“ Hemmm, gak taulah. Yuk pulang.” Endah bergegas keluar ruangan meninggalkan Retno yang masih merapikan barang bawaannya.

***

          “ Hemmm, apanya yang salah? Gak ada yang salah.  Mungkin aku yang selama ini mengabaikan perasaan Rico, dan…” Endah berhenti menuliskan kata-kata di Buku diary kecilnya.

“ Perasaanku…, Benarkah?” Endah menggigit bolpoint di tangannya.

“ Dok-dok-dok.” Seseorang mengetuk pintuk kamar Endah.

“ Iya, “ Endah menjawab dari dalam kamarnya.

“ Mbak Endah, di cariin sama cowoknya.” Suara Anita, adik angkatan yang tinggal satu kos dengannya.

“ Oh, iya, makasih Nit. Itu bukan cowokku, temenku.” Endah bergegas bangkit dari posisinya tidur-tiduran.

“ Hemmm, bukan cowokku, atau belum jadi cowokku, atau…Argh, , gak tau.” Endah malah bergumam sendiri.

“ Lama banget, kaya cewek aja.” Protes Rico, setelah berada di luar kos Endah.

“ Loh, kan emang cewek, lupa ya? Hehe.” Endah nyengir. Yang diajak nyengir justru mengernyitkan satu alisnya.

“ Kemana? “ Tanya Endah setelah berada di boncengan Rico.

“ Masa gak tahu?” Riko sok cool.

“ Tempat biasa?” Tanya Endah.

“ Yoa.” Rico serius mengendarai motornya.

***

“ Tadi di jalan masih cerewet, kok sekarang diam aja?” Rico menenggak es tapenya.

“ Hemmm, hehe, gak papa.” Endah menggelengkan kepala. Kembali mengaduk-ngaduk es tape yang baru saja diantarkan oleh Bu Angkringan.

“ Harum banget, “ Riko mencium secangkir kopinya yang baru datang.

“ Huum, “ Endah pun turut memejamkan mata, mencium aroma kopi yang menenangkan.

“ Bahkan mencium aromanya saja udah bikin tenang ya.” Rico seperti bisa membaca apa yang ada dipikiran Endah.

“ Baru aja aku mikir gitu.” Endah menoleh Rico disampingnya.

“ Gawat,” Rico mendelik.

“ Kenapa?” Endah terkejut.

“ Aku bisa membaca pikiranmu, hehe.” Lalu ia tersenyum jenaka.

“ Haha, iya aku bisa mati kutu kalau kamu bisa baca pikiranku Ko.” Endah memanyunkan bibirnya.

“ Ko,…” Endah melirik Riko yang tengah menikmati ceker ayam.

“ Hemmm, “ Riko masih khusyuk dengan sajiannya.

“ Aku, mau manjat lagi.” Endah pelan.

“ Hah, apa?” Hampir saja ceker ayam itu tertelan semua.

“ Aku mau manjat lagi.” Endah memperjelas kata-katanya.

“ Ndah,Kok? Apa yang membuat kamu berubah pikiran?” Rico meletakkan belulang sisa gigitannya.

“ Aku gak bisa selamanya sembunyi, merutuki diriku, dan menyesali apa yang telah terjadi…” Endah menerawang.

“ Meski seribu tahun kuhabiskan untuk bersembunyi, Alex takkan kembali, dan aku hanya akan semakin terkurung dalam rasa bersalahku.” Endah mengaduk-aduk kopinya yang sudah lama dingin.

“ Kamu baru saja sembuh Ndah.” Rico mencoba memastikan keyakinan Endah.

“ Itu bukan alasan untuk berhenti manjat, berhenti mencintai apa yang sesungguhnya aku cintai.” Endah menoleh Rico, menatap tepat di mata hitam Rico.

“ Kamu yang paling tahu dirimu sendiri Ndah.” Rico balas menatap mata bulat Endah.

“ Aku tak ingin selamanya hanya mengenang Alex, terbayang-bayang Alex dan jatuh hanya karena bayangannya.” Endah beralih ke belakang, melihat kerata yang berjajar rapi di stasiun tugu di belakang Angkringan tempat mereka duduk.

“ Justru aku harus bangkit, mewujudkan apa yang belum diwujudkan Alex. Aku ingin seperti kopi, justru semakin harum saat diseduh dengan air panas 1000C, justru semakin kuat dan tangguh saat didera berbagai coba dan ujian.” Endah memandangi kopinya lagi.

“ Aku selalu mendukung kamu Ndah, tapi kamu yang memutuskan, jangan sampai keputusan kamu ini hanya emosi sesaatmu. Pikirkan kembali matang-matang Ndah.” Rico menatap Endah dari samping. Wajah oval, mata bulat, rambut lurus sebahu yang selalu ia kuncir di belakang, beberapa helainya berkibar tertiup angin dan poni yang selalu ia sisir ke samping kiri.

Lalu tiba-tiba Endah menoleh kepada Rico.

“ Terima kasih Ko, kamu adalah sahabat terbaikku.” Endah tersenyum lebar kepada Rico.

Rico masih menatap Endah, tak berkedip 1 detik, 2 detik, 3 detik, senyum itu seperti kopi didepannya, berhasil menghipnotisnya bukan untuk terjaga melainkan untuk melayang ke puncak tertinggi gunung yang hendak didakinya, bahkan lebih dari itu.

“ Heh, duh, ini pipi kok kaya bakpao, gemesssss.” Rico menahan nervousnya,  dengan mencubit pipi Endah.

“ Enak aja bakpao, huh, aw, lepas!” Endah menepuk tangan Rico mencoba melepaskan cubitannya yang sebenarnya tak menyakiti. Justru hangat tangan Rico membuat pipi Endah bersemu merah. Untunglah lampu angkringan hanya remang-remang, sehingga Rico pun tak menyadari perubahan rona wajah Endah. Seperti itu pula Endah yang tak menyadari rona wajah Rico yang bersemu, andai saja kulit Rico sedikit lebih cerah pastilah kentara perubahan rona wajahnya saat tak mampu berkedip menatap senyum lebar Endah tepat di depannya. Senyum yang selama ini ia jumpai hampir 3 tahun bersama. Tak ada yang berubah, justru semakin mempesona, semakin membuatnya terperosok dalam candu kafein senyum itu.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar