KARIMUNJAWA: BUTTERFLY SESSION

KARIMUNJAWA: BUTTERFLY SESSION

Bertandang ke pulau Karimunjawa, masih seperti mimpi, tapi ini memang kenyataan. Kunjungan saya di pulau ini dikarenakan ketercantuman nama saya dalam tim PKM mengenai betet biasa ras karimunjawa bersama dengan nidhi, huta, adin dan shoim. Bersama dengan tim junai, kukuh, juki, nungki, ayu dan raden. Kedua tim ini melakukan penelitian yang lokasinya sama yaitu di pulau Karimunjawa,sebenarnya tidak hanya anggota tim PKM saja yang ikut berkunjung di pulau cantik ini, ada kholil, mas zul aza, dan awe yang dengan ikhlas dan senang hati meramaikan dan bersusah-payah mengorbankan waktu mereka untuk menikmati surga dunia, hawainya indonesia, di pulau karimunjawa ini. Keberadaan burung-burung di pulau ini tidaklah terlalu melimpah jika dibandingkan dengan keberadaan burng-burung yang ada pulau-pulau besar, di Jawa, sehingga memang agak membosankan jika tidak pandai-pandai menghibur diri dan hanya terfokus dengan burung saja. Begitu juga saya. Selain penikmat keindahan burung saya sangat menyukai hal-hal lain, salah satunya adalah kupu-kupu, saya adalah penggemar berat kupu-kupu. Sungguh benar-benar indah dan kagum menyaksikan kupu-kupu baik di fase larva, ulat apalagi dewasanya. Jalan hidup dan proses metamorfosa kupu-kupu seperti menyimpan sejuta makna mengenai kehidupan yang harus di hadapi oleh manusia, itu menurut saya.

Bermula dari kunjungan ke Balai Taman nasional Karimunjawa di Semarang untuk presentasi, dan niatan survey yang gagal terlaksana. Sembari menanti waktu presentasi, saya, mas zul, kukuh dan juki melihat-lihat areal BTNKJ di lantai dua. Di ruang yang sepertinya merupakan ruang presentasi tersebut terpampang foto-foto fauna dan flora khas karimunjawa, banyak foto yang menarik, dan yang menarik sekali selain yang lain adalah foto kupu-kupu ras karimunjuawa Idea Leuconoe Karimundjawe dan Ideopsis juventa. Dua kupu-kupu cantik merupakan kupu-kupu ras karimunjawa yang hanya ada di pulau tersebut. Naasnya saya tidak memiliki peralatan fotografi yang bisa mengabadikan sicantik itu. tak tak mengapa karena teman-teman saya telah saya pesen untuk memfotonya dalam beraneka pose yang semakin membuat si cantik itu mempesona mata.

Ini dia si cantik berbintik Idea leuconoe karimundjawe.

Untuk yang satu ini adalah Ideopsis juventa, kupu-kupu yang masuk dalam famili Nymphalidae ini tidak hanya bisa dijumpai di karimunjawa. Di jawa tepatnya di Gunung kidul saya pernah mendokumentasikan kupu yang serupa, mirip dan sampai saat ini saya masih menganggapnya sama jenisnya yaitu Ideopsis juventa. Let’s Check it out!

Ayo dilihat persamaan dan perbedaannya, kira-kira ini satu jenis bukan ya?

Ini adalah Ideopsis juventa yang di dokumentasikan di karimunjawa, warnanya dominan hitam dan putih kebirumudaan, tapi di foto ini tidak nampak biru muda, justru nampak warna putih. Si cantik tengah menghisap nektar dari sebuah bunga berwarna orange yang seringkali dijumpai di derah hutan dataran tinggi, maupun hutan pantai. Saya sajikan pula tumbuhan bunga yang dihinggapi oleh kupu-kupu tersebut.  Sedangkan ini adalah Ideopsis juventa yang saya dokumentasikan sewaktu berada di daerah bunder, gunung kidul, yogyakarta. Di foto ini warna yang nampak dari venasi tubuh kupu-kupu ini adalah hitam dengan biru muda yang tidak kentara. Biru mudanya justru lebih nampak jika dibandingkan dengan foto yang ada disebelah kiri. Ketika memotretnya, kupu-kupu cantik ini pun tengah menghisap nektar sebuah bunga, nampak di situ dia terganggu dengan keberadaan saya dan hinggap di daun pohon berbunga tersebut. Tumbuhan yang tengah dihinggapi oleh kupu ini sama dengan tumbuhan yang dihinggapi oleh kupu yang ada di gambar samping, bila berbeda setidaknya sefamili atau segenus. Demikian adalah dokumentasi tumbuhan tersebut. 

Tumbuhan jenis apakah yang dihinggapi oleh kupu Ideopsis juventa ini? Apakah tumbuhan ini merupakan inang dari kupu-kupu Ideopsis juventa? Mari kita bahas selanjutnya!

Lantana camara (Source: By Edoes Humanus Sarsim)

Bunga hutan ini merupakan tanaman perdu dengan tinggi 0,5 -1,5 meter. Tanaman ini berasal dari Amerika tropis dan tumbuh baik di daerah tropis. Tanaman ini tumbuh tersebar di daerah tropis hampir seluruh benua. Dapat tumbuh hingga ketinggian 1700 m dpl. Lantana camara ini merupakan tanaman tahunan dengan ciri : kulit batang berwarna coklat dengan permukaan kasar. Daun berwarna hijau berbentuk oval dengan pinggir bergerigi. Permukaan daun kasar karena terdapat bulu. Kedudukan daun berhadapan dan tulang daun menyirip. Lantana camara memiliki bunga yang bersifat rasemos dan memiliki warna yang beraneka ragam putih, merah muda, jingga, kuning . dengan demikian tanaman ini memiliki nilai estetika yang dapat digunakan sebagai tanaman hias. Tanaman ini memiliki buah seperti buah buni. Berwarna hijau dan bila matang berwarna hitam tanaman ini dapat dikembangbiakan dengan stek maupun biji.

Selain itu ada kupu-kupu lain yang berhasil didokumentasikan adalah Danaus melanipus dan Euploea sp.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Coffe, Night and We were Together. Comeback!

Malam telah cukup larut bagi bistro dan cafe coffe yang biasa buka hingga pukul 22.00, tapi lain dengan yang satu ini langganan tempat kami menghabiskan malam dengan bergelas-gelas kafein ini buka hingga pukul 02.00 dini hari. Dan hanya mata-mata kalong saja yang masih bertahan dengan gadgetnya, dengan bukunya, tugasnya atau kerinduan akan suasana senyap di tengah kota.
Tempat ini tak begitu terkenal, mungkin hanya kalangan tertentu saja yang tahu, di tengah kota tetapi kita perlu masuk ke gang-gang sedikit sempit, dua kali berbelok dari jalan utama, masuk ke tengah hutan jati seluas 300 m2 , pada bangungan yang cukup luas, berdinding batu bata, banyak buku-buku tertata rapi, musik merdu yang mengalun pelan, dipilih dengan cita rasa musik yang tidak main-main, dan tentu dengan sajian espressonya yang begitu menggoda bagi penikmat kopi.
3 gelas espresso telah membuatmu sedikit gemetar, kamu masih berdiri untuk menenangkan tanganmu yang sedikit gemetar, benarkah hanya karena espresso atau ada hal lain yang kau sembunyikan dari kita.
Aku masih mencoba fokus pada novel yang baru saja ku beli, meskipun penerangan di sini tak cukup untuk ku membaca, tapi karena ceritanya yang begitu misterius aku pun tak kuat melepas satu halaman pun. Apalagi Riko masih saja sibuk dengan badannya yang dia pikir gemetaran.
“ sepertinya aku terlalu banyak menghabiskan kopi malam ini “, Riko kembali menenangkan diri dan duduk di depanku.
“ Hemmm, ku rasa 2 bulan kita tak bertemu ukuran kopi mu mulai berkurang ko, “ aku hanya menanggapinya dengan santai.
“ Ehemmm, sepertinya ada yang melupakan bahwa aku di sini diundang..ehem” Riko bedehem, mengembalikanku pada kenyataan bahwa dia di depanku, menantiku berbicara, mungkin.
“ hehe…” aku menutup novelku, dan mengalilhkan tatapanku padanya yang juga menatapku tajam.
“ aku berpikir banyak sekali selama aku tak di sini…” aku menatap sampul novelku yang bersimbol, riko masih diam.
“ aku merindukan tebing gunung yang menggoresku perih, melukai ku tapi tak melukaiku. Aku melupakannya, melupakan cintaku pada alam, pada keinginanku menaklukkan gunung dan menjelajahi negri indah ini.” Aku menahan napas, dalam…
“ aku masih mencintainya ko, aku masih mencintainya…” mataku mulai kabur. Riko masih khusyuk mendengarkanku. Tak ada sedikitpun iterupsi darinya.
“ aku bersalah pada dia, alex yang ku sayangi sepenuh hati, alex yang meminjamkan tali kehidupannya padaku, aku ingin kembali Ko, aku tak ingin berhenti lagi, aku tak ingin menyia-nyiakan kepercaan alex…” Mataku mula berair, pelan, aku menunduk, tak terasa ada bulir being yang membasahi sampul novelku.
“ alex, bagaimana bisa aku tak mengingatnya …wajahnya tersenyum meski sudah tak jelas, dia begitu tenang dan tersenyum melepas tanganku, aku menggenggamnya erat, aku tak mau melepasnya ko. “ air mataku semakin mengalir deras.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang kepalaku, mengambilnya ke pelukannya, dadanya yang berdebar hangat menjalari wajahku yang basah, Riko hanya diam.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Kata, Cinta

Tak menjemput pena
Purnama berlalu dari kata

Berpijak kukuh pada aman
nyaman
Hati meruntuh, merupa rapuh
Melupa waktu
Tak lagi lirih saja berkata
Tak pula berdiam tak bicara
tapi sunyi, sepenuhnya melupa

Oh, hay….

Cinta lamaku yang sendiri
Lama nian tak kusapa dikau

Adakah rindu menyaput sendu kalbu?

Bilakah tak sampai, maafkan daku …

Lena…

Lelah berkutat pada nyata
sehingga melupa pada rasa

Pada cintaku untukmu

Kata…
Jiwa…

Baris sajak
Rumpun Cerita
Gundah gulana yang dulu ku ramu bahagia
kupintal payah-payah obati luka

kini…Aku, saja

Ya Begini, ini…

Aku merindu
Tapi tak ada waktu

Oh sajak-sajakku berdebu

aku berdaya, tapi tak mengupaya

kini aku membuka pagi
menyibak malam
mengawali waktu

Bilakah engkau berkenan
kembali di rerasaku …
hadir kembali

pada bait-bait hari yang kugilas oleh sama

senja hingga senja lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sungai Sekonyer, Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah

Sungai Sekonyer, Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Caving moment, When I was in Meratus and Batu Hapu

Caving moment, When I was in Meratus and Batu Hapu

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

Enjoy The Dark side of Indonesia

Terlahir di negri “sekaya” Indonesia, seharusnya menjadi kebanggaan bagi kita, bagi saya, anda dan semua manusia yang lahir di tanah ini. Indonesia adalah salah satu negara dengan biodiversitas yang sangat tinggi dahulu, bahkan saat ini pun masih, meskipun telah berkurang lebih dari 50 %. Namun ke karena bencana, ilegal loging, dan aktivitas manusia yang semakin pesat. Kenyataannya kebanggaan itu tak disertai dengan kemampuan dan kemauan untuk menjaga kekayaannya. Sederhana saja, membuang sampah di tempat yang semestinya itu pun sulit dilakukan, saya masih sering menyaksikan mengalami kena lemparan sampah dari orang yang membuang plastik atau bungkus makanan ringan dari dalam mobil. Seorang sahabat saya pernah menngatakan seperti ini, “ Kalau tidak mampu membuang sampah pada tempatnya, makan sekaligus bungkusnya!”. Duhai seperti itukah negri indah ini harus “hancur” oleh ulah sendiri.P1020857

Satu tahun berlalu dengan aktif di kegiatan kampus, kerja part time, kuliah di jurusan pendidikan Biologi yang luar biasa padat menjadi aktivitas keseharian yang tidak pelak membuat saya penat. Suatu saat di tahun 2011 saya mendapat tawaran untuk mengikuti ekspedisi di kilamantan selatan, bukan ekspedisi hutan atau satwanya. Tetapi ekspedisi ke gua-gua yang ada di kalimantan selatan, tepatnya di Meratus dan Batu Hapu. Tanpa berbekal pengalaman caving sebelumnya, saya nekad turut serta. Menjadi satu-satunya perempuan diantara rekan-rekan pria yang luar biasa tangguh sungguh merasa terhormat, dihormati, dilindungi dan tidak dibedakan berdasarkan keberadaan saya sebagai perempuan. Saya tetap turut serta menaiki medan pegunungan meratus yang cukup rapat, masuk kegua-gua yang baru saya temui sehari 3 sampi 4 gua kami kunjungi. Mencoba menelaah keberadaan gua dan melihat keanekaragaman kelelawarnya. Namun sayangnya meskipun gua-gua itu cukup jauh dari peradaban, tetap saja banyak dijumpai coretan-coretan yang menghiasi dinding gua, sampah-sampah dan beberapa “jejak peninggalan” para penjelajah terdahulu. Ternyata demikian juga ya, yang dilakukan oleh pemuda Indonesia yang menyatakan dirinya pecinta alam, justru kegagahannyaberpetualang meninggalkan jejak vandalisme terhadap bumi pertiwinya.

 

Menikmati keindahan stalagmit, stalagtit dan aneka bebatuan nan unik membuat saya terkagum-kagum, airnya yang dingin, medannya yang menanjak, kadang begitu sempit, kadang harus merayap, membuat saya tak peduli lagi dengan lumpur dan mungkin aneka macam cacing yang biasanya membuat saya bergidik ngeri. Ada sekitar 18 gua yang berhasil kami kunjungi,dan sebenarnya lebih dari itu, namun karena perlengakapan dan waktu yang terbatas maka cukup 18 gua itu di Kalimantan Selatan. Meskipun demikian, 18 gua tersebut telah membuat saya jatuh cinta dengan gua, dengan caving, meskipun saya belum pernah mencoba vertical caving, mungkin suatu saat akan ada kesempatan itu datang. Gua, tidak bisa terlepas dari kelelawar di dalamnya, dan bau guano. Guano adalah veses kelelawar yang baunya begitu menyengat, namun menyimpan misteri sebagai obat atau antibiotik. Di salah satu gua di meratus, telaga langsat, nama guanya adalah gua haruk, haruk yang artinya bau. Ya gua haruk memang memili bau yang sangat khas, bau guano yang sangat menyengat karena kelelawarnya yang sangat banyak di dalam gua. Untuk masuk ke gua tersebut kita harus melewati jalan setapak diantara perkebunan karet, lahan bekas penebangan hutan, dan menaiki lereng yang cukup curam yang sudah tidak ada pepohonannya sama sekali. Lalu masuk lewat mulut gua yang cukup lebar, menuruni dinding gua yang basah dan penuh dengan gua, kita harus sangat berhati-hati karena tidak mungkin kita tidak tergelincir. Terpeleset, berlumpuran guano, atau masuk ke aliran air adalah hal biasa yang pasti kita jumpai saat menikmati pesona wisata tanpa lampu di dalam gua. Belum pernah mencoba? Mengapa tidak mencoba. Namun seperti seringkali tertulis di banyak tempat, jangan mengambil apapun selain udara ( foto juga boleh), dan jangan meninggalkan apapun selain jejak.

 Segelap gua, sehitam gelap, lebih dalam lagi ilmu dan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

PUISI, GANDRUNG

GANDRUNG

Layaknya lampu neon kualitas terbaik
Perasaan saya menyinar terang, menyeruak kemana-mana
Terang sekali,
Turut menjangkit bahkan galau jaman sekarang itu
Senyum menyungging,
Aduhai, Manis sekali…
Duh gusti
Gegap gempita, bahagia bukan main
Atas ungkapan cintanya pada saya,
Atau hanya sekedar senyum manisnya saja
Atau sekedar kerlingan matanya, yang sebenarnya kelilipan
Saya pun anggapnya godaan, aih-aih…
Indahnya…

Lalu
Lama-lama , lebih lama lagi…
Sembab, Saya menghadapMu
jatuh tersungkur
Pilu memakui merah jambu hati saya
Pilu, saya mengadu
Berhari-hari bahkan berbilangan tahun
Saya masih menangisinya…
Yang memilih orang lain
Yang mengabaikan saya
Yang meninggalkan saya

Duh Gandrung…, gandrung…

Saya malu,

Akan perasaan cinta saya padanya yang menggebu-gebu
Padahal
Rasa cinta saya padaMu justru seperti nyala sentir
Sebentar nyala benderang, lalu mak pet
Seketika peteng dedet, gelap gulita

Duh Gusti…
Saya lupa, atau malah melupa
Pada nikmat kenyang selama ini
Pada setiap helaan nafas,
Pada rasa kantuk yang membuat saya lelap, melepas lelah
Pada segala nikmat dari Mu
pada CintaMu,

Saya bangga pada perasaan cinta saya, tapi melupa pada perasaan CintaMu
Menggandrungi makhlukMu
namun justru mengabaikanMu
Duhai, Tangis itu…
Atas bentuk kegandrungan yang keliru
seperti peluh, seperti keringat
Hasil gojlogan dariMu
Agar saya semakin kuat
semakin bersyukur
dan kembali kepada Gandrung yang benar
Duh Pangeran Kulo, ngapunten Gusti…
Jangan biarkan saya menyia-nyiakan titipan cinta dariMu
Jangan Kau biarkan gandrung itu sirna tanpa makna

Terinspirasi dari diskusi kami, Nizar, Mas Helmy dan Saya, tentang puisi-puisi Gus Mus (Mustofa Bisri) dalam bukunga Gandrung. Juga, terinspirasi dari sahabat-sahabat saya, pengalaman pribadi, pengalaman kita, rasa cinta yang pernah kita miliki, atau malah kini sedang menggerogoti hati. Jika itu benar cinta, pasti lah takkan menyakiti, pastilah akan menjaga, hanya perlu bersabar, hanya perlu menanti “sebentar” hingga pada saat yang tepat, gandrung itu diridhoiNya, bukan dilarang malah justru diperintahkanNya.
Siapapun, yang tengah gandrung pada seseorang, jangan sampai kita salah paham mengartikannya. Perasaan itu datang dariNya, dan kembali lagi padaNya, jika suatu waktu Ia mengambil rasa itu maka betapa pun sulitnya, meski diikhlaskan. Menggandrunginya berarti mendoakan yang terbaik untuknya, menjaganya, mengirimi Fatehah ketika merindunya, bukan mengikatnya untuk diri sendiri, untuk ego atau sekedar nafsu.
Menggandrunginya berarti juga semakin MenggandrungiNya pula, semakin ingat padaNya, dan semakin dekat padaNya, memohon, berdoa, tanpa melalaikan usaha dan kerja keras kita secara nyata di dunia.
Mari belajar memaknai Gandrung, ^_^

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar