Tembang Suka Cita Semesta

Mendaki bersama teman-teman ARWANA ( Arga Wahana Setya buwana ) HIMABIO FMIPA UNY ( 27-28 Februari 2011) , kumpulan makhluk bio yang mengaku mencoba mencintai alam yang menghidupinya. Naik ke Suroloyo, Sekitar Sabtu  Senja Hari, pukul 17.00-18.00 sampai di Rumah tempat kami menginap. Sembari ditemani reruntuhan pelepas dahaga bumi, kadang hanya rintik-rintik, kadang terlalu deras, sehingga mantol pun tetap membuat kami basah. Jalanan yang licin, membuat kami berkali-kali terpeleset, tapi itu tak berarti apa-apa. Dahaga letih kami terlepas begitu saja, ketika di tengah jalan menyaksikan awan putih, kabut yang menutupi areal di sekitar Wates, Kulonprogo, dan Magelang. Sesaat seperti berada di lain dunia, negri di atas awan, dunianya Kera sakti ( hehe ), kata salah seorang sahabat saya ( Eko S.) ” wah, serasa jadi Jendral Tien Fang , haha”, wedew, imajinasi tingkat kahyangan neh.

Rencana untuk sembari melakukan eksplorasi vegetasi Pterydophyta areal sekitar dan fenomena-fenomena menarik lainnya pun tetap bisa berjalan dengan ramai, dan lancar.

Setelah beristirhat, sholat, bersih-bersih, dan makan, acara dilanjutkan dengan perkenalan dan makan malam. Sebenarnya yang mengikuti kegiatan ini adalah orang-orang yang sama di tahun sebelumnya, tapi ada satu pendatang baru dari angkatan 2010 dan beberapa anggota baru dari angkatan 2008. Selain itu kami juga dibersamai oleh teman-teman dari BIOLASKA UIN ( aduh bener gak ya namanya lupa neh, hehehe).
Banyak hal-hal yang kami sharingkan bareng-bareng, berkaitan dengan penemuan ( ciee penemuan….^_^), maksudnya perolehan tanaman yang kami sebut dengan tanaman “jinten” yang mempunyai khasiat sebagai obat nyamuk, ternyata tanaman ini memiliki nama latin Eryngium foetidum, dan memang bisa digunakan sebagai penangkal nyamuk, mungkin karena aromanya yang sedikit menyengat dan kurang sedap dihirup. Kemudian, dari teman-teman UIN juga sharing tentang 5 anggota  species Cyperaceae, kemudian 2 jenis Rubiceae, dan Malastomaceae. Nah salah satu spesies Malastomaceae inis ering disevut dengan Arbei gunung (Dhini dan Eko). Buah Arbei gunung ini berwarna biru keunguan, sedikit berbulu dan bisa dimakan, rasanya manis. hemmmm enyak-enyak ( hehe). Ternyata setelah saya cari-cari informasi ternyata saya temukan dokumentasi foto ini di situs FOBI ( Foto biodiversitas Indonesia), tanaman ini memiliki nama ilmiah Clidemia hirta. Ada juga tanaman pacar air /pacar gunung, nama ilmiahnya adalah Impatiens balsamina, di mana tumbuhan ini memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi, sehingga kita bisa menjumpainya dengan mudah di aderah sekitar kita.
Sharing hasil investigasi itu pun masih berlanjut, karena kami juga mengambil beraneka sampel Pterydophyta yang ada sebagian bisa diidentifikasi dan sebagian lain belum bisa diidentifikasi. Tanaman paku-pakuan yang kami peroleh antara lain adalah Pteris ensiformis, Lycopodium cernuum, Selaginella caudata, Glechenia linearis, Lyndsaya cultrata, Adiantum cunneatum, Cyclophorus varius, Cyclophorus nummularifolius, Lindsaya davalloides, Dryopteris rufescens, Blechnum patersonii, Nephrolepis sp, dan spesies Davaliaceae yang lain yang belum bisa diident secara lebih lanjut. Tumbuhan paku-pakuan ini memiliki ciri-ciri tersendiri, dengan karakter morfologisnya serta tempat hidupnya. Ada yang menempel  pada tumbuh-tumbuhan tertentu dan ada pula yang tumbuhs secara liar di tanah. Tumbuhan paku-pakuan ini memiliki kemampuan untuk hidup di daerah yang kelembapannya tinggi  , yaitu di daerah dataran tinggi. Namun kita juga bisa menemuinya di daerah dataran sedang dengan kondisi suhu dan kelembapan yang mencukupi kebutuhannya untuk terus hidup. Tentu saja, tumbuhan paku-pakuan yang ada di daerah dataran sedang dengan yang ada di daerah dataran tinggi memiliki perbedaan yang cukup siginifikan, antara lain adalah keanekaragam jenisnya yang jauh lebih melimpah di dataran tinggi, habitus ( perawakan ) dari tumbuhan pepakuan tersebut juga jauh lebih besar yang ada di daerah pegunungan yang masih asri dan minim polusi.
Mendekati tengah malam acara pun diakhiri, dan dilanjutkan dengan istirahat bersama-sama.

Acara muncak Surolo dilakukan pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB. Udara yang sangat dingin membuat kami mengundur acara yang renacanya akan dilaksanakan pukul 04.30 ini mundur sekitar 1 jam. Mendaki ratusan tangga ( entahlah berapa jumlahnya ) , membuat sedikit terengah-engah dan kehabisan nafas. Namun rasa lelah itu terbayar, berdiri di atas ketinggian yang sejajar dengan Merapi sekitar 1.000 dpl membuat kita dapat melihat sekeliling kita dari Jogjakarta, Magelang, Borobudur. Indah dan benar-benar membuat mata tak hendak dipejamnkan, nafaspun tak hendak dilepaskan, karena sejuknya udara di atas sana.
Aktivitas di atas sana adalah foto-foto, kemudian pelantikan, ada yang memoto ulat, kelabang, dan hewan-hewan kecil lainnya. Ada juga yang tetap di tangga bawah ( tidak mencapai puncak), untuk melihat burung-burung yang ada di antara rerimbunan tajuk pohon.

Setelah puas menikmati indahnya lukisan Tuhan dari atas Puncak Suroloyo kami pun turun ke tempat menginap untuk sarapan, istirahat sebentar dan packing.
Kemudian turun ( ke tempat penitipan motor, cukup jauh sekitar perjalanan 1 jam untuk pemula dan setengah jam untuk yang sudah ahli). Di perjalanan turun itu, sekitar pukul 10.00, beraneka ragam kupu-kupu beterbangan. Sungguh indah, ada beraneka ragam jenis kupu, dari Famili Papilionidae ( Papilio memnon, dan aneka jenis papilio yang lain), Nymphalidae, dan yang lainnya.
Dibagian akhir perjalanan tersisa kami berenam, Eko dan Retno di depan, saya dan Dian di tengah, mas Zul dan Dini di belakang. Saat saya dan sahabat saya Dian mengejar kupu-kupu untuk mengambil dokumentasinya, terdengarlah suara raptor ( burung elang ) yang terbang di atas tebing, ada tiga ekor Elang ular bido mengitari kawasan di atas kami berjalan, seketika itu mas Zul dan Dini ( yang membawa binokuler ) langsung mengarahkan binonya ke atas untuk melihat lebih jelas tiga ekor raptor yang swaring di atas sana.

Subhanalloh, benar-benar kekayaan hayati yang harus di jaga dan dilestarikan keberadaannya.
Keberadaan kita di dunia ini sia-sia jika hanya bisa mengagumi keindahan mereka, makhluk-makhluk Tuhan yang diciptakan untuk menyeimbangkan ekosistem di Bumi, tanpa ada laku untuk mengenal dan mempelajarinya sehingga keberadaannya tidak begitu saja sirna sebelum kita tahu bahwa kelestariannya tergantung perilaku kita di masa kini.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s