Ketemu Rangkong? Rangkong, Enggang, Julang atau Kangkareng?!

Sudah lama tidak ada semangat untuk menulis, rasa malas dan memeng menjadi masalah utama untuk menorehkan segurat pena pada secari lembar putih untuk menguraikan sedikit cerita. Hari selasa yang cukup berat, laporan Biomanzi, Responsi Biomanzi, urusan proposal, dan lain-lain, kuliah sampai sore, sudah terbayang malam ini akan langsung beristirahat, tapi ternyta teman sejawat satu profesi sebagai operator warnet meminta tolong saya untuk menggantikannya jaga malam ini. Alih-alih hendak beristirhat, malah justru begadang lagi. Jam dinding yang terlambat 12 menit diatas computer nomor 3 itu baru menunjukan pukul 23.00 WIB, tidak biasanya jam segini saya sudah merasa sangat mengantuk, mungkin ini krena efek hari-hari kemarin yang belum puas menghabiskan satu hari penuh untuk tidur-tiduran.
dengan mata terkantuk, melihat computer rasanya pun sudah tak sanggup, berkali-kali bolak-balik dari kursi OP, jalan keluar, masuk lagi, chatting di facebook, update status, chatting di ym, lihat berita, cari bahan dan materi.

Bersamaan dengan mas Uyak yang sedang tugas di Kalimantan, ternyata si abang berputri satu itus edang online, jadilah kita ngobrol-ngobrol, seputar kuliah, dan bionic. Saya bertanya kepada beliau “ Mas, ketemu rangkong ra neng kono?”
Ma suyak menjawab “ hah, rangkong? Julang, enggang po kangkareng?”,

“ Hemm, bukane rangkong ki podho karo enggang yo mas?” Kataku
“ Wah ki, ketero ra tau moco buku iki” Tebak Mas Uyak
“ Hehehe, hooh. Wah keconangan iki” Jawabku singkat

Akhirnya mas Uyak mengirimkan file DBI ( Daftar Burung Indonesia ) lewat email dan menyuruh saya untuk membaca Mckinnon. Seumur-umur mung emak lan

Bapakku. Jadi saya akui jiwa kebapakannya Mas Uyak, memang Bapak sejati ( cetho,sudah terbukti koq,,hehe).

Setelah saling berdiskusi tentang pilihan belajar dan mau mempelajari apa, akhirnya saya pun di tangting oleh si Abang ini

“ Ki tak kei DBI, karo Buku, kono di Download, tapi dengan satu syarat, sesuk kwe kudu ngirimke  tulisan tentang perbedaan Enggang, Rangkong, Julang dan kangkareng neng emailku.” “

“ Oke mas, insyaalloh”

Mas Uyak membuat saya belajar. Memang semenjak kuliah justru intensitas membaca dan belajar saya sangat kurang, huhuhu. “ Mumpung ada kesempatan gunakan waktu semaksimal mungkin untuk belajar” ,,,eitsss belajar tidak hanya di bangku kuliah dan di dalam kelas tapi di mana pun dan kapan pun.

Kembali ke bahasan rangkong, burung yang khas tanah Borneo ini memang sangat menarik dan unik. Walau sudah pernah bertandang ke Borneo tapi saya belum bisa bersua dengan si cantik berparuh panjang dan besar ini.

Rangkong adalah burung berukuran besar, berwarna hitam atau coklat dan putih. Merupakan burung arboreal, dengan paruh panjang dan besar. Beberapa jenis mempunyai tanduk ( casque ) yang menonjol di atas paruh yang kadang-kadang berwarna mencolok. Rangkong terdapat di seluruh Afrika dan Asia tropis serta di seluruh Indonesia sampai Papua nugini. Memakan buah-buahan dan serangga. Suaranya  kasar dan menusuk.

Burung ini memiliki cara bersarang yang sangat menarik. Burung betina yang sedang mengerami telur biasanya dikurung di dalam lubang pohon yang ditutup dengan lumpur, hanya disisakan sedikit lubang yang cukup untuk melewatkan makanan oleh si pejantan. Sewaktu telur menetas, betina memecahkan penutup sarang, lalu menutupnya sampai saat burung muda siap untuk terbang. Sepuluh jenis rangkong terdapat di Sumatera dan Kalimantan, tetapi hanya ada tiga jenis terdapat di Jawa. Kesepuluh jenis tersebut yaitu 3 jenis enggang, 2 jenis julang, 2 jenis kangkareng dan 3 jenis rangkong.

Enggang, ada dua jenis enggang yaitu Enggang Klihingan ( Anorrhinus galeritus ) dan Enggang Jambul ( Aceros comatus ). Enggang Klihingan berukuran sekitar 7 cm, dengan jambul terkulai tidak ada warna bulu putih pada ekor. Ekornya coklat keabu-abuan, dengan garis hitam pada ujungnya. Kulit tidak berbulu di sekitar mata dan tenggorokan berwarna biru. Iris merah (jantan), atau hitam (betina) dan biru (remaja), paruh hitam (jantan) atau keputih-putihan (betina), dan kaki hitam. Sedikit berbeda dengan Enggang Jambul ( Aceros comatus ), yang berukuruan lebih besar yaitu sekitar 85 cm, berwarna hitam dan putih. Ekor panjang, mahkota berbulu putih halus. Baik jantan maupun betina memiliki mahkota, ekor, dan pinggiran belakang sayap yang berwarna putih.  Tenggorokan dan leher putih pada jantan, dan hitam pada betina. Iris kuning, paruh abu-abu, dan kaki hitam.

Selanjutnya yaitu Julang, ada 3 jenis Julang yaitu Julang Jambul Hitam ( Aceros corrugatus ), Julang Emas ( Aceros undulatus ) ,dan Julang Dompet ( Aceros subruficollis). Ketiga jenis julang ini berbeda satu sama lain. Julang Jambul Hitam berukuran 75 cm, berwarna hitam dan putih. Tanduk pendek, merah kerenyut, dan melengkung. Jantan berwarna hitam pada sisi kepala, leher dan dua pertiga ujung ekornya berwarna putih. Yang betina mirip dengan jantan, tetapi leher dan kepalanya berwarna hitam, kulit tidak berbulu pada tenggorokan, dan kebiruan. Iris merah, kulit di sekitar mata biru, paruh kuning dan merah, kaki sewarna dengan tanduk. Sementara Julang Emas ( Aceros undulatus ) berukuran besar sekitar 100 cm, berekor putih, baik jantan maupun betina memiliki warna punggung, sayap, dan perut yang hitam. Sedangkan jantan memiliki kepala yang krem, bulu halus kemerahan bergantung dari tengkuk, kantung leher kuning tidak berbulu dengan strip hitam khas. Sementara betina memiliki kepala dan leher hitam, dan kantung leher biru. Julang dompet ( Aceros subruficollis), berukuran besar sekitar 90 cm, berekor putih. Baik yang jantan maupun betina mirip dengan Julang Emas. Perbedaanya terletak pada  ukurannya yang lebih kecil, tanpa garis gelap pada kantung leher, dan tanpa kerenyut pada paruh bawah. Iris berwarna merah, paruh coklat tersapu krem pada pangkal dengan penonjolan tanduk yang datar, kaki kehitaman.

Kemudian Kangkareng. Ada dua jenis Kangkareng yaitu Kangkareng Hitam dan Kangkareng Perut Putih. Kangkareng Hitam ( Anthracoceros malayanus ) berukuran sedang kira-kira 75 cm, berwarna hitam, bulu ekor terluar berujung putih, tanduk besar secara proporsional. Yang jantan kadang-kadang memiliki setrip putih yang melewati mata sampai tengkuk. Iris berwarna coklat kehitaman, paruh dan tanduk putih ( jantan) atau kehitaman ( betina), kaki hitam. Kangkareng Perut Putih ( Anthracoceros albirostris)  berukuran kecil sekitar 45 cm, berwarna hitam dan putih. Tanduk besar, berwarna putih-kuning. Bulu hitam seluruhnya, kecuali bercak di bawah mata, perut bawah, paha, dan penutup ekor bawah putih, serta ujung putih pada bulu terbang dan bulu ekor terluar.  Iris coklat tua, kulit tidak berbulu di sekitar mata dan tenggorokan berwarn aputih., paruh dan tanduk putih-kuning dengan bintik putih pada pangkal rahang bawah dan tanduk bagian depan, kaki hitam.

Yang terakhir adalah Rangkong. Rangkong Badak ( Buceros rhinoceros ) berukuran sangat besar ( 110 cm), berwarna hitam dan putih. Paruh dan tanduk besar di atas paruh berwarna merah-kuning. Ekor putih mencolok, dengan garis hitam lebar melintang. Kepala, punggung, sayap, dan dada hitam, perut putih, dan paha putih. Iris putih sampai biru ( betina) atau merah ( jantan), kulit di sekitar mata abu-abu gelap, paruh kuning berpangkal merah dengan tanduk melengkung ke atas, kaki abu-abu kehijauan. Rangkong papan ( Buceros bicornis), berukuran sangat besar 125 cm, berwarna hitam dan krem. Ada garis hitam lebar melintang pada ekor yang putih dan garis putih kekuningan pada sayap yang hitam. Paruh dan tanduk kuning, tanduk gepeng dan cekung ke atas. Muka hitam, leher dan dada yang berbulu putih kadang-kadang dikotori warna kuning. Enggang berleher hitam dan bertanduk lebih besar, dengan asal-usul yang tidak diketahui, kadang-kadang muncul dalam koleksi burung sangkar, ( diduga kuat merupakan hasil persilangan antar jenis ini dan rangkong badak). Iris merah ( jantan) atau keputih-putihan ( betina), paruh kuning dan kaki hitam. Rangkong Gading ( Buceros vigil )

Enggang yang mudah dikenali, berukuran  sangat besar ( 120 cm, ditambah 50 cm pita pada ekor tengah), berwarna coklat dan putih. Ada pita yang sangat panjang pada ekor. Cirri khasnya : ekor putih dengan garis hitam melintang dan garis putih lebar pada sayap. Tanduk, kuning merah padam, tinggi, berbentuk kotak ( digunakan sebagai “ gading enggang” untuk membuat ukiran). Leher : kulit merah tanpa bulu pada jantan, biru pucat pada betina.

Penjabaran panjang lebar di atas merupakan salinan dari deskripsi burung-burung arboreal sebangsa rangkong, yang ada pada McKinnon. Sepertinya saya pun belum paham benar dengan apa yang telah saya tulis di atas, eh maksudnya apa yang telah saya salin di atas. So, saya mesti membuat kesimpulan sendiri, membaca lebih banyak, dan memahami lebih banyak tentang deskripsinya. Hemmm, syukur-syukur saya bisa melihatnya secara langsung suatu saat nanti. Atau mungkin tahun depan, sesuai dengan rencana ehmm, lebih tepatnya target yang saya buat untuk bisa melanglang buana ke pulau seberang, mengabdi ke dunia pendidikan sembari menimba ilmu perburungan dan ilmu-ilmu biologi yang tak ada habisnya dipelajari.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ketemu Rangkong? Rangkong, Enggang, Julang atau Kangkareng?!

  1. belajarkehati berkata:

    Woy….mana ada Enggang Klihingan kok 7 cm???????
    Cuilik tenan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s