Mawar Itu Berguguran saat Simbahku Pergi

Aku terduduk di kamarku, kamar paling depan rumah ayah dan ibuku. Kamar ini mengahadap langsung jalan desa dan halaman sempit depan rumah. Di sebelah kamarku ada kamar simbahku, Mbah Putri , dulu sewaktu simbah masih di sini.

            Kemarin malam pukul 00.30 aku sampai dirumah, setelah sebelumnya mendapat kabar dari kakak sepupuku bahwa simbah telah tiada.

Masih hangat dalam benakku ketika dua bulan lalu, terakhir aku pulang dari Jogja. Malam yang dingin, dari daerah pantai di Jogja menuju Banjarnegara yang pegunungan. Seperti biasa aku selalu pulang dari Jogja sore hari, sampai rumah pun sudah kelewat malam. Entahlah walau sejuta konflik terjadi di rumah ini, tapi rasa rindu tetap membawaku kembali ke sini. Rumah yang belum terisi perabotan, masih kosong, terlalu banyak ruang yang tak terpakai. Walau ala kadarnya tapi bagiku, inilah rumah kami, rumah yang nyaman.

Malam itu terasa berbeda, aku merasa sangat merindukan nenek. Kamarku dan kamar simbah bersebelahan, jadi tak sulit untukku segera merangsek masuk ke kamar beliau. Aku beranjak dari kamarku, melangkah menghampiri nenekku yang tengah terbatuk-batuk karena asmanya yang akut. Beliau memintaku memijit punggungya yang kering, punggung kukuh yang dahulu kuat memikul sebongkok kayu, kini begitu lemah, tinggal tulang dan kulitnya yang keriput. Aku berbaring di sebelahnya, memeluknya erat, kembali terkenang masa-masa kecilku bersamanya. Kenangan masa lalu, masa kanak-kanakku yang nakal, bahagia dan penuh warna. Tak luput dari peran simbah yang membersamai tangis dan ceriaku di padang sawah nan hijau atau tengah sungai yang dingin.  Tak terasa hati ini begitu miris, air mata leleh membasahi wajahku, membuat mata ini semakin sendu.

Ojo nangis tho nduk, simbah iki ancen wes tuo, wes mangsane ngene iki, yo mung ngenteni wae kapan wayahe dijupuk karo sing gawe urip”, kata simbah lirih.

Aku semakin tergugu, semakin terisak mencoba menahan tangis.

Kowe disekolahke karo wong tuo, men iso junjung dhuwur mendem jero jenenge wong tuo, mugo-mugo wae simbah ki iso menangi suksesmu yo nduk, wisudamu….” Kata nenek, penuh harap.

Nggeh mbak, Nggeh simbah kedah enggal mantun, sing sehat mbah, sing manut kaleh mae, nek diken nginum obat nggeh manut mbah”. Kataku ditegar-tegarkan. Simbah memang begitu, sudah seperti anak kecil, kadang lupa kalo baru saja makan, trus minta makan lagi, padahal baru lima menit yang lalu makan bubur. Simbah suka ngeyel, tak mau minum obat, katanya pahit. “ Lha wong jenenge wae obat yo pait tho mbok”, kata Ibuku, menimpali keluhan simbah, dulu.

“ Yo, iyo…., mugo-mugo sesuk aku iso nyeksekke rabimu yo nduk, Goleko wong lanang sing agamane apik yo nduk, sing iso ngaji”. Kata simbah tersenyum.

Amin nggeh mbah, nyuwun pangestune sanget mbah”. Aku malah tertegun mendengar pesan simbah barusan.

Singkat, simbah sepertinya kelelahan, terus-menerus batuk, lalu tertidur. Aku kembali ke kamarku, masih dengan mata sembab, ternyata air mataku belum jenuh mengalir. Malah justru teringat masa yang dulu, 15 tahun yang lalu.

Wes tho, nek ra cocok yo bubar wae BUBAR!!!!!!…” Suara laki-laki yang sedang kalap.

Lha ngopo kowe mbiyen mbojo aku nek kwe ra seneng aku, nglarani wong wedhok ngene iki, aku ki dudu babu kang, aku ki menungso!!!” Suara wanita yang sedikit terbata-bata, dengan tangsi tertahan.

Di susul kemudian bunyi,

“ Prangggg………..” piring yang dibanting. “ JDUARRRRRRRRRRR….!!!!!”

Mbuh, Pancen asu kowe…..JDERRRRRR, blurrrr……” Suara kasar, diikuti tendangan di pintu, dan tungku masak roboh, apinya menjilat-jilat membara, seperti amarah laki-laki dan wanita ini.

“ JEDUARRRRRR………….” Suara pintu yang dibanting keras-keras.

Aku tergugu sendiri, menutup telinga rapat-rapat, di luar rumah, dibawah jendela dapur, di dekat kandang ayam yang kosong aku menangis sesenggukan.

“ Hiks..Simbah…hiks..his..hiks…simbah”, tangisku lirih, begitu lirihnya karena takut terdengar.

Aku masih mendengar suara tangis dan piring-piring pecah di dalam rumah. Laki-laki dan wanita penuh amarah yang bertengkar hebat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah bapak dan ibuku. Entahlah aku tak menahu mengapa mereka begitu arogan satu sama lain, mungkin pernikahan yang terlali dini, mental yang belum matang membuat hubungan rumah tangga yang semakin pelik ditambah lagi dengan berbagai keterbatasan ekonomi yang membuat banyak letupan-letupan kecil menjadi konflik-konflik yang menggunung dan akhirnya meledak, tumpah ruah.

Ono opo nduk? “, ternyata simbahku, baru pulang dari sawah. Simbah masih sangat bugar dan kuat waktu itu. Menyenderkan sebongkok kayu ditembok belakang rumah.

Bapak kaleh Ibu mbah..hiks…hiks…” kataku terbata.

Ngopo? Do tukaran neh…” Tanya simbahku, sambil mengelus kepalaku dan membopongku.

Ngopo tho kowe koq yo ndakan padu ngono kui??? Ora isin karo tonggo teparo? Mesakne anakmu iki lho, nangis nang jobo umah…..” kata simbah sambil masuk ke rumah.

MasyaAlloh, umah wes koyo kapal pecah ngene iki. Oalah nduk-nduk, koq malah do koyo bocah cilik iki pie tho? Wong wes umah-umahan ki nek ono opo-opo mbok ojo do nganggo atos-atosan, ngajari elek karo bocah cilik kui jenenge”. Kata simbahku terus-menerus menggumam sambil menggendongku dan merapikan perabotan rumah yang berantakan. Ibuku masih tergugu di dalam kamarnya, tak peduli dengan apa yang disampaikan simbah, terus saja menangis. Aku malah tertidur digendongan simbah.

Drrrrrt…Drrrrrt…” Suara getar hp.

Suara getar Hp memecah lamunan silamku, masa-masa pahit yang sama sekali tak ingin kuiingat lagi. Aku membaca sms dari kak sepupuku, besok aku harus ke tempat Bu De. Rasa lelah, sedih, haru, kehilangan, semuanya campur aduk jadi satu, membuatku merasa sedikit mengantuk. Masih tersisa bulir-bulir air mata, kubiarkan ia  terbawa kea lam mimpiku, kristal-kristal hati yang rapuh.

Simbah , seorang janda dari simbah kakungku dengan 4 anak. Kini tinggal 3 anak yang masih tersisa dan 1 anaknya telah meninggal waktu duduk dibangku SMP, dan 3 anak dari suami yang terdahulu, sebelum simbahku menikah dengan simbah kakungku. Entahlah aku pun tak paham benar, orang jaman dahulu biasanya menikah lebih dari satu kali, tentu saja setelah bercerai atau ditinggal meinggal suaminya. Mabh putri begitu gigih, menyekolahkan putra-putrinya, yaitu pakdhe-pakdheku dan ibuku. Hingga pakdhe-pakdheku sekarang sudah jadi orang , sudah jadi perangkat desa, tinggal Ibuku dan aku yang sedang diandlakan untuk mebuka pintu mengawali jalan.

 Sejak kecil, sejak berumur 3 tahun aku sering tidur bersama nenek, setelah TK aku jarang tidur dengan  Ibu dan selalu tidur dengan nenek, kemudian kelas 3 SD aku sudah tidur sendiri. Trauma masa lalu membuatku sedikit menjauh dengan bapak dan ibu. Nakal, tidak mau di atur, memberontak dan menbantah.

Rumah kami bersebelahan dengan mushola, Bapak, Ibu, nenek dan aku, sebelum adik-adikku lahir. Dulu waktu pakdheku yang kedua masih tinggal di sini rumah ikut di jadikan sebagi tempat ngaji dan mushola saat tarawih bulan ramadhan. Sekarang sudah tidak lagi, mushola sudah dipugar menjadi lebih baik. Simbahku sangat rajin ke mushola, beliau bangun pagi-pagi sekali. Aku selalu dimarahi nenek jika bangun siang, apalagi sampai tidak sholat subuh. Kadang kuikuti nenekku ke mushola pagi-pagi, sekitar pukul 4.00 WIB, dengan mata yang masih sangat mengantuk dan berat. Setelah subuh, nenek akan menyapu halaman sekitar rumah, dan jalanan depan rumah. Lalu pergi ke sawah, pulangnya dhuhur dan setelah itu ada di rumah untuk istrhat, berangkat ke sawah lagi siang sampe sore. Ya Rabbi, dia begitu kukuh dan perkasa dalam masanya ketika aku masih kanak-kanak. Simbah perokok berat, bau berhenti merokok saat aku sudah mulai SMA, asmanya audah parah. Beranjak lebih dewasa, simbah selalu membangunkanku pagi-pagi. Aku yang malas bangun biasanya tetap meringkuk di bawah selimut tebal, apalagi udara pegunungan yang cukup menusuk kulit, semakin membuatku malas bangun. Simbah tak bosan-bosannya membangunkanku, kadang aku marah, membentak, tapi simbah tetap mebangunkanku lagi keesokan paginya. Kini aku sudah di Jogja, kini simbah sudah tiada, taka da lagi simbahku yang cerewet dan membangunkanku pagi-pagi buta untuk sholat malam atau menyruhku madni sore-sore.

            Kini tak lagi bisa ku temui keperkasaan itu, tinggal sisa-sisanya yang membuatnya masih mampu bertahan. Banyak terserang penyakit tua, asma dan ginjal. Ringkih, rapuh tapi tetap berjuang, penuh semangat untuk hidup, hingga bisa melihat cucu-cucunya sukses dan menikmati kehidupan yang lebih baik.

            Simbah, seperti Ibuku yang kedua, simbah selalu menjadi penengah saat bapak dan Ibu cekcok. Menangis dipangkuannya dan mencurahkan segala isi hati, ketika di marahi Ibu, ketika di marahi Bapak, ketika bapak dan ibu tak sependapat denganku maka kepada simbahlah aku berlari.

            Rumah ini sepi sekali, aku hanya sendirian di kamar. Bapak, Ibu, dan Adik-adikku sedang di rumah Bu De, persiapan pengajian “ketujuh hari kepergian simbah”. Di dalam kamar bertirai merah, sprei merah muda, sedikit tersibak kelambu jendela depan kamarku, menampakkan halaman depan, ternyata pohon mawar itu sudah berkembang, bahkan telah berguguran lembar-lembar kelopaknya, tampaknya baru mekar kemarin, dan langsung berguguran mebersamai kepergian simbahku.

Dengan segenap hatiku, aku berdoa untuk simbah semoga simbah Mendapat tempat terbaik di SisiNya. Simbahku dengan kerendahan hatinya, kerajinannya, kerja kerasnya.  Semoga doamu masih terus membersamaiku menapaki jalan-jalan menuju tangga kesuksesan yang kau damba mbah. Amin Ya Rabb.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s