Kusambut panggilan Logika, dan Kuabaikan Panggilan Hati

Deadline tugas menumpuk, kerjaan belum kelar, semuanya menjadi satu, harus diselesaikan.

Di sela-sela aktivitas yang padat, seringkali hati berbsisik, sampaikan rindu, sejenak meminta diri untuk berdiam menenangkan hati dan mengingatnya. Tapi kali ini ku abaikan, ku habiskan waktuku untuk mengabaikan gejolak hati yang tak logis.

24 jam, seharusnya menjadi waktu yang panjang untuk berkutat dengan tugas, pekerjaan, urusan rumah tetek bengek cucian maupun setrikaan, dan aneka keinginan pribadi, apakah itu belajar, mengerjakan hobi, istrahat, everything….
Tapi sepertinya, 24 jam sangat singkat, berdetak pasti, tiap detiknya berlalu
melalukan siang yang benderang….lalu kelam malam…

Hidup itu penuh dengan aneka macam rasa, seringkali dikecap manis yang membahagiakan, gurih yang mengenyangkan, atau kadang kala pahit yang menyesakkan.

Setiap orang menjadi lakon hidupnya masing-masing, menjadi tokoh utama bagi kehidupannya dan menjadi peran pembantu dalam cerita hidup orang lain. Hidup yang penuh dengan perjuangan, tidak semudah hidup yang kubayangkan, justru lebih seperti novel-novel yang biasa ku baca, penuh masalah, penuh tangis dan derai tawa.
Kadang masalah keluarga, masalah financial, masalah persahabatan, masalah organisasi, atau masalah kuliah. Banyak masalah yang di alami, menyita waktu dan perhatian, sesekali malam pun tak terasa telah berlalu karena habis hanya untuk melamunkan atau menangisi sesuatu yang tak perlu ditangisi.

Dengan Begitu banyak problema yang menumpuk, kenapa pula masih sempat memikirkan tentang cinta, tentang perasaan, sesuatu hal yang sangat riskan untuk di mengerti karena penuh subyektivitas.
Berkali-kali jatuh bangun, tentang masa lalu yang kelam, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Entahlah, sebenarnya tak hendak kusampaikan….
cerita cinta Delisa yang malang, yang mencintai sahabatnya sendiri yang kemudian harus patah hati karena sang pujaan hati memilih orang lain. Lalu Anggita yang bernasib sama.

hidup yang sumpek penuh sesak, beraneka macam cerita
tapi yang paling sering di bhas dan dikupas lebih dalam justru hal remeh temeh yan tak seberapa tentang apa lagi kalau bukan cerita cinta.

Delisa menatap diam layar komputer didepannya, sedikit mengantuk tapi tetap diusahakannya membuka mata lebar-lebar, deadline laporan tugas studi lapangan harus dikumpulkan dua hari lagi dan belum sadikitpun ia menyentuhnya. Ia baru mebuka-buka map laporan SL 2 minggu yang lalu itu. Sembari bertfikir dan terkantuk-kantuk, lampu kelap-kelip modem yang ia pinjam dari temannya menyertai malam panjang lembur kala itu, tak lupa secangkir kopi yang diisi dua bungkus kopi Good Day menemani perjalanan tengah malamnya.

Sigit: Hay, Pa kabar?

Delisa: Baik git. Kamu?

Sigit: baik juga. gmna kulnya? Lancar

Delisa: Alhamdulillah lancar. Kamu gimna? sibuk ngapain ini?

Sigit: sukur deh, hemm, aku cuma jadi kacung di Jakarta.

Delisa: maksdunya? kacung gimana neh?Kacungny orang kaya neh? di Perusahaan mana neh?

Sigit: haha, bisa aja. Ya gitu deh, bolak-balik ngurusin kerjaan diluar kota yang gak kelar, ngurus tender ini itu. Capek.

Delisa : kok malah ngeluh sih, bersyukur dong, bnyak yang pengangguran noh diluar sana!

Sigit: iya neng iya, kamu masih sama aja kaya dulu.

Delisa: Konsisten dong git.😀

Sigit : Nyindir neh😥

Delisa : Gak kok, kamu itu negtaive thinking aja. just kidding🙂

Sigit: haha, ya ya. Gimana neh, dah punya gandengan lagi?

Delisa: haha, gandengan apa? gandengan truk….

Sigit: Serius?

Delisa: serius, tidak semudah itu mempercayai seorang pria dan  mendapatkan pria yang dapat dipercaya.

Sigit: hemm, masih mengingat masa lalukah? Maaf.

Delisa: kenapa minta maaf. Gak perlu.

Sigit: kamu masih marah?

Delisa: marah? Naif kalau aku bilang aku gak marah. Mungkin lebih dari sekedar marah. Ah sudahlah, aku banyak pekerjaan. Tak seharusnya percakapan kita ini membuat konsentrasiku terganggu.

Sigit: Maaf del, aku tak bermaksud menyakitimu. kau tahu, aku masih mencintaimu,

Delisa: stop, maaf git, aku offline, sudahlah, itu masalalu dan takkan terulang lagi, kesempatan itu sudah habis untukmu. Selamat malam.

Sigit: Del, …………….

Delisa : Offline..

Kepalanya kembali kemat-kemut, migrain kambuh lagi. Kenapa harus ada orang itu lagi, muncul tiba-tiba dan sekonyong-konyong menghapuskan semua memori tentang laporan SL yang harus dituntaskannya. Delisa, gadis manis kecil itu pernah menjalin cinta dengan sigit. Sigit, seorang pria dewasa yang matang, mapan dan menarik. Mulanya hubungan mereka baik-baik saja, masalah itu muncul tiba-tiba tak terduga, Lambat laun sigit mulai mengungkapkan masa silamnya dengan mantan-mantannya terdahulu, cerita yang seharusnya membuat hati seorang wanita luluh lantak. Tapi Delisa bersikeras menerima sigit apa adanya. memang hubungan keduanya sudah tak direstui oleh kuda orang tua mereka, tapi keduanya sama-sama saling mencintai. Tiba pada suatu waktu yang sangat penting di mana Delisa harus pergi ke Luar kota untuk melanjutkan studinya, pada saat itu jugalah Sigit melukai hati Delisa. Sigit menyampaikan permohonan maafnya untuk meninggalkan delisa karena ia akan bertunangan dengan gadis lain. Betapa hancurnya hati Seorang gadis ketika itu, tangis tak tertumpahkan tapi justru menyayat di dalam kalbu. Maka ia tinggalkan kampung halamannya itu dengan hati yang mantab, melupakan masa lalu dan memulai cerita hidup yang baru.

Bermula dari itu, percik-percik ketidakpercayaan pada sosok “pria” sangat melekat padanya. Sulit sekali membuka hati, ada sulit sekali percaya dan sulit menemukan sesorang yang kiranya bisa dipercaya.

Suatu waktu Delisa mempunyai seorang sahabat yang sangat baik. Namanya,Handoko. Mungkin kedekatan dan kebiasaan mereka jalan berdua membuat terbersit rasa dalam hati Delisa, tapi Handoko menganggap Delisa hanya sebagai teman, tepatnya sahabat dekat. Tak disangka tak di nyana, handoko berkisah bahwa ia menyukai seorang gadis yang baru pertama kali ia temui, Fallin in love yang kemudian berakhir dengan kebahagiaan. Satu sisi kebahagiaan dan di sisi lain patah hati. 3 tahun Delisa memendam rasa kepada Handoko dan berakhir dengan sebuah cerita yang mengharukan. Tapi tak apalah, Delisa masih punya 1000 nyawa untuk jatuh bangun dan sellau bangkit atas setiap kegalalan yang dihadapinya, salah satunya dalam hal cinta.

Delisa, …..
Masih ada kisah tentang gadis ini.
Gadis putih kecil, berwajah Chinnese yang entah didapatkannya dari siapa, karena memang tak ada keturunan chinnese sama sekali.
Terus simak kelanjutan ceritanya.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s