Inspirasi Selembar Foto lusuh itu

Berkali-kali merasa bosan tak bisa mengakses info-info yang kuinginkan. Bosan menatap layar monitor yang itu-itu saja, tak bisa ku ajak bicara, tertawa dan menangis. Cukup lama ku bolak-balik lembar foto-foto di facebookku, foto-foto keluargaku. Menatap wajah Pake, Mae, Olid dan Abel ( * waktu itu si kecil riyan belum lahir ), membuatku semakin merindukan kampung halaman. Baru sekitar 2 bulan tak pulang tapi rindu sudah menyayat-nyayat hati. Entahlah, ada yang pernah bilang ” bahagiamu memang bersama keluargamu, di sana di kampung halamanmu”, dan sepertinya memang benar. Seberat dan sesulit apapun problem yang ada di rumah terasa lebih ringan dari pada di sini, sendiri di tengah perantauan.

Dini hari yang dingin, masih terpaku didepan layar monitor entah apa yang tengah ku baca. Tiba-tiba ku temukan sebuah gambar yang benar-benar membuatku miris, menangis….
Dua orang anak jalanan berpakaian lusuh, tertidur, bersandar di undak tangga, mungkin tangga jembatan penyebrangan. Seorang anak laki-laki berumur sekitar 12 tahun berkaos oblong dan lusuh, memeluk adik laki-lakinya mungkin umurnya sekitar 4 tahun, sama, berkaos oblong lusuh, tertidur pulas dipangkuan kakaknya. Bersandar di tepian tangga, saat malam kelam, hanya berdua, kedinginan.
Tak ada selimut
Tak ada Bantal
Tak ada Kasur

Bahkan mereka tak beralas kaki

Hanya berdua

Mungkin mereka adalah anak yatim piatu, orang tuanya meninggal, atau meninggalkan mereka di jalanan.

Tak ada prasangka negatif yang ada dalam benakku, yang kulihat adalah mereka ( seperti kedua adikku yang memang seumuran ).
Dua anak manusia, terlantar di jalanan, mungkin belum makan, kelaparan, kehausan, lari dari kejaran petugas SatpolPP, atau justru preman-preman yang hendak mengambil uang kerja kerasnya dari mengamen seharian penuh.
Tidakkah kau sedikit iba melihat wajah polos mereka,
Tidakkah kau merasa kasian
Harusnya mereka tertidur lelap di kamar hangat yang berkasur empuk, seperti milik kita.
Harrusnya mereka tengah belajar di kamar nyaman yang lampunya benderang
Meskinya esok mereka bersekolah, dengan baju rapi, sepatu dan tas

bukan di sana
di lorong sempit
Ditepi tangga jembatan penyebarangan
dengan nyala lampu jalan yang temaram
Digigit dinginnya malam
Dihisap ganasnya hidupdi jalanan

Entahlah
mungkin kau berfikir lain,
” ah, mereka itu hanya di suruh bapak dan ibunya ngamen saja”
” mereka itu punya rumah, wong tiap hari ngamen dan minta-minta, pasti duitnya banyak”
” sudahlah, tak perlu Iba, kau lupa peduli tak berarti memberi. Mau bikin orang Indonesia jadi pemalas semuanya”

Bullshit, Fuck U so!!!!

Jangan micek dengan kondisi Indonesia yang sekarat dan melarat. Kau pikir mereka kepanasan di jalanan bukan suatu usaha untuk berjuang, bertahan hidup!
bayangkan Kalau itu dirimu, bangkrut dari harta yang melimpah ruah dan hidup terlunta-lunta di jalanan, tanpa ada kesiapan menyikapi segalanya, bahkan mungkin kau tak mampu setegar mereka. Tak mampu Hidup di tengah ganasnya jalanan.

Buang semua pikiran negatif itu!!!!
Kalau semua orang mikir gitu, Oh Tuhan, gimana nasib mereka yang benar-benar melarat dan ” berjalan di jalanan” dengan sepenuh hati. Mencoba mengais rizki dibawah tatap curiga, sinis, ketidakpedulian dan kecongkakan para konglomerat yang ” nagkring” di atas BMW atau APVnya.
Shit!!!!!

Pengen teriak, pengen nangis, pengen semua orang Indonesia itu gak cuma mikirin dirinya sendiri.

Ok!!!

memang ada sebagian kaum jalanan diorganisir, dijadikan sebagai tak-tik nyari duit biar gampang, biar gak kerja.
Tapi TIDAK SEMUANYA BENAR BEGITU!!!!

Harus kuulangi lagio kata-kata itu!
yok kita buang pikiran negatif, positif thinking ajalah. Kalau niatnya Ibadah, ikhlas memberi tnpa takut ada embel-embel ” jangan2 itu hanya kedok mereka aja”,
Biarin deh mo mereka apain tu duit atau pemberian kita, yang penting kiat ngasih dengan tujuan Ibadah dan Ikhlas, mereka yang nanggung kalo mereka nyelewengin.

Mo siapa coba yang peduli dengan kemarjinalan yang menggerogoti bangsa ini, kalau bukan kita.

uang 500 atau 1000 yang kita berikan kepada “pengemis atau pengamen” dijalanan, tidak akan membuat serta merta kita miskin atau serta merta “mereka” kaya, segalanya tergantung usaha, kerja keras dan doa kita.

So, jangan takut bakalan jadi miskin kalo sering memberi!
Jangan takut pula bakal kesaingan kaya sama orang yang kita beri.
Alloh Maha tahu atas apa yang kita lakukan baik terlihat atau tak terlihat.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Inspirasi Selembar Foto lusuh itu

  1. papiliomemnon berkata:

    Selalu penuh emsosi dan ” merembes mili” nek nonton foto iki…

  2. Dwi berkata:

    Bener banget, sedih banget liat foto ini, andai saja aku orang kaya, akan kuasuh mereka.

  3. bangrony berkata:

    ingin menangis lihat foto ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s