Menjejaki 3265 dpl, Puncak Gunung Lawu

Petualangan menjejaki alam kembali kulakukan. Lama nian tak menjelajahi wajah hijau paku bumi yang kokoh menjulang hingga pucuk-pucuk angkasa.
Kali ini tujuannya adalah Gunung Lawu yang ada di Jawa Timur, hanya sejengkal dari wilayah jawa tengah. Perjalanan kali ini cukup “extrem” dan keren, haha, karena kita naik Truk dari Jogja hingga ke Cemoro sewu, perjalanan sekitar 5-6 jam, dengan medan yang naik turun, ” mlungker-mlungker” kaya medannya ular tangga. Haha
But, no problem, that’s so awesome, yang ikut dalam pendakian Lawu ini ada 18 orang, 5 cewek termasuk aku dan sisanya cowok.

“Gojeg ” rame, ketawa-ketawa, diselingi tingkah usil si brewok Kukuh dan si Boyo Abdu, ( hahahaha, Peace ), menuliskan nomer Hp pada selembar kertas dan mengibar-ngibarkannya di belakang sambil ngumpetin kepala pas ada mobil atau bis yang lewat. Alhasil ada sebuah bis antar kota-antar propinsi yang melihat dan mengejarnya, pak sopire penasaran kali yew…ojo-ojo jablai ki pake. Hahaha

” Ojo cah, ha kae Ibu-ibu kok. Nek sing ayu-ayu ae lek masang, kui , hahahahaa” Kata Abdu sambil ngekek-ngekek
” Halah ra popo du, hahaha” Kukuh

Seisi muatan truk pun ketawa ngakak-ngakak selama perjalanan menuju ke arah Solo itu. Setelah puas ketawa-tawa, kita pun kelelahan dan masing-masing sibuk dengan lelapnya yang terangguk-angguk oleh laju truk yang melewati jalan penuh tikungan dan aspal rusak. Jozz Gandoz pokokmen.

Sekitar pukul 13.00 WIB. Kita pun sampai di basecamp, tempat transit para pendaki atau wisatawan sebelum naik ke lawu

” Ayo, do sholat sik, mengko lek munggah jam 16.00, ” kata Eko, si Pak Ketu yang guedhe awake.
Kita pun bergegas menuju mushola, menapaki lantai tempat berwudhu
Brrrrrrrrrrrrrr…Uadyeme ..
Adyem banget cah..
mengingatkanku sekitar 3 tahun silam, waktu ada acara di Dieng, jyan podo persis, ademe ra nguati.
Setelah kita sholat, kita pun berkumpul di warung transit untuk makan dulu. Menu telur, sayur lodeh dan teh anget, josss, mengganjal para pejuang yang kelaparan ini. Haghaghaghag ( Ngeleh……)

Sekitar pukul 15.30 kita bersiap-siap untuk naik. Sebelumnya kita pemanasan dulu, di pimpin sama Dana. Berbekal Tas guedhe-guedhe yang di cengklak masing-masing, pemanasan, di suruh gerak yang aneh-aneh, push up mbrang khusus yang cowok, hahahaha, Nek ngene iki aku untung wedhok.Haha

Setelah berdoa, dan menyatukan satu tangan mengucapkan yelll…
” Aslolole”
Apa-apa pun tu yel, haghaghaghag. Ra popo, sing penting Jozzz GAndoz. Sekitar pukul 16.00 WIB tepat kita pun memulai perjalanan dengan riang, masih ketawa-ketawa, wajah seger buger, langkah kaki mantab dan semangat lebih dari 45, ( Deloken pas mudun wes lempah-lempoh koyo kumbahan) haghaghag.

Perjuangan menuju puncak lawu ternyata baru saja di mulai, mulanya tawa riang, lalu ditingkahi sedikit keluhan ” Kok suwi men yow, ra tekan-tekan” kata pipit yang sudah mejak awal membawa pasokan minuman isotoniknya.
” Bentar lagi kita sampai pos 1,” kata pak ketu Arwana Eko
Rupanya perjalanan menuju pos 1 masih cukup energi, kanan dan kiri jalan ada tanaman wortel, kobis, pepohonan rimbun, semak liar, kebun sawi, masih di dominasi oleh tanaman yang sengaja di tanam oleh warga. Satu hal bodoh dan lucu yang selalu terkenang, ( hahaha, isin tapi lucu, :D)
” eh kae kembange apik yo, mekrok-mekrok, opo kae edelwise yow, kok yake mirip” kataku pada retno dan pipit
” hooh pow, aku ra reti e, tapi apik, kui tenan po edelwise? dudu kembang wortel?” kata retno
” hemm, aku ra reti, eh yan,,,,jilih kamerane iki opow?” niat mau memotret bunga cantik itu,
” kui kembang wortel mun, rung tau weruh po kowe” kata dian
” hekkkk, hahahha, iya pow, weh aku ra reti tho, soale mekrok2 mirip edelwise, hahahahahm ah yo ra sido moto”kataku sambil berlalu dan tertawa diikuti bahak mereka
” weh kembang wortel mbok kiro edelwise mun, hahahahahahahha” tawa teman-teman.
” ra popo saiki ra bakal salah neh” hahahahaha

duh, Pele tenan aku. hahahahaha

Hampir mendekati pos 1 aku berjalan di depan mendahului kawan-kawan, karena ingin segera meletakkan tas yang cukup berat ( men keren gakne jilih Carriere mas Imam, haha, trimaksih mas). Saat sedang bersandar pada tembok pos 1 aku melihat ada burung di sebuah pohon, pohon yang buahnya mirip dengan buah murbei mungkin itu termasuk famili Moraceae. Ku dekati pelan-pelan pohon itu, benar, ternyata ada seekor burung yang sedang melahap buah nan merah dan masam itu. Nampaknya dia tak terganggu dengan keberadaanku yang berjalan pelan dan lirih. Burung itu memiliki paruh berwarna kuning, kaki kuning, bulunya berwarna coklat susu, tapi sepertinya burung itu masih juvenil ( insting wae, soale awake cilik dan ketoke urung ganteng, haha). Aku pun meminjam kamera dari dian dan memotret burung itu sekenanya. Setelah puas jeprat-jepret mbuh elik po ra, ra urus. haha. Selanjutnya kukuh menyusul di belakang, ” Kae Kuh, neng wit, opo yow?” kata ku
” mendi?” kata kukuh sambil berjingkat pelan mendekati arah pohon yang kutunjuk
Kukuh pun kembali memotret burung itu. Setelah cukup lama memperhatikan, dan sepertinya si burung pun merasa risih dengan keberadaan kami yang agak rame, burungpun kembali terbang dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Ternyata si burung itu pun masih terbang santai di dekat kami, di pepohonan maupun di lantai-lantai hutan.
” opo yo kiro-kiro kuh?” tanyaku pada kukuh
” mbuh e, mengko di cocokke neng McKinnon” kata Kukuh
” ojo-ojo kui sing di tulis sebagai ” Jalak gading” neng ngisor kae mau” kataku
” hemm, yo mungkin” kata Kukuh santai

Perjalanan menuju Pos 2 ternyata jauh, hedew, adoh jah, kami sampai di Pos 2 sekitar pukul18.40 WIB, setelah terengah-engah diperjalanan, melihat dua sahabatku yang baru pertama kali naik gunung, Dian dan Nurul, Jozzz kawan perjuangan kalian tidak sia-sia, bahagia itu tidak tergantikan. Akhirnya bisa sholat maghrib (mepet isya), sholat isya, kemudian istirahat dan makan. Udara sudah sangat dingin, ketinggian sekitar 2200 dpl ( po 2700 dl ya..lali aku, ssing gowo GPS Rifki, hehe).
Kawan-kawan ada yang masak terlebih dahulu, (ubres baelah Dana, dkk, wes ra klamben nganggo singlet, katok pendek maing, bocah apa si kae, hahaha)
Perjalanan selanjutnya dilanjutkan sekitar pukul 20.00 WIB, istrahat yang cukup lama, membat badan justru sedikit kaku, karena udara yang begitu dingin. Perjalanan inilah yang benar-benar perjuangan, terutama, bagi dua sobat karibku yang ngebet naik gunung, pasti ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi kalian.
Dian yang sensitif dengan hawa dingin harus jalan pelan-pelan dan berkali-kali memakai koyo, untuk menopang kekuatan kaki men ra loyo ( jebulno ra mempan koyone,,haha). Nurul juga, anak pantai satu ini sebenarnya kuat tapi masuk angin membuat perutnya “munyel-munyel ra keruan”, dan akhirnya keluarlah semua isi tenaganya itu saat tak kuat menahan mual, alhasil lemas badan pun tak terelakkan, perjalanan menuju pos 3 yang sebenarya tidak sejauh pos 1 menuju pos2 ini pun cukup lama. Kelompok terbagi menjadi dua, kelompok depan yang berjalan dulu, pipit, retno, abdu, kukuh, ulil, aziz, Alfa dan Narto. Dan kelompok yang berjalan di belakang, Aku, dian, Nurul, Dana, Eko, Rifki, Wahab, Danu, Beny, dan Wiji. Sekitar pukul 21.30, kami sampai di Pos 3. Terpisah dari kelompok depan, sepertinya mereka sudah cukup jauh. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, maka akhirnya kamipun mendirikan camp di Pos 3. Eko, Dana, dan Beni menyusul ke depan, membawakan frame untuk tenda dum. Kami pun beristirahat di Pos 3 ini, dengan rencana akan melanjutkan perjalanan sekitar pukul 02.00 ( weh kui lagi adyem-adyeme cah, angine semrubut banget ik).

Ditengah malam, sekitar pukul 01.00, dian membangunkanku untuk menemaninya buang air kecil. ” Mun, kebelet pipis” kata Dian
” Yo,  kataku dengan sedikit masih merem. haha
Ternyata dian membangunkanku lagis keitar pukul 02.00, masih sama dengan mata terkantuk-kantuk kami mencri tempat aman untuk melepas HIV ( hasrat ingin Vivis) yang tak tertahan, haghaghga ( dian kokean Mimi sih ). ” Hemm, ki sido munggah saiki ra tho” kataku sambil mlihat dum cowok, ternyata mereka masih meringkuk pulas. ” Ah, yowes, mengko ae” sambil masuk lagi ke dalam SB yang cukup menghangatkan badan. Hehe
Sekiat pukul 03.00 Dian kembali lagi membangunkanku untuk Vivis ( ki cah ancen beser tenan, hahahaha). Ternyat nurul pun sudah bangun, efek meminum obat sekitar pukul 02.00 membuatnya masih pusing. teman-teman  putra pun sudah bangun. ” pie nip, sida munggah siki ra” kata rifki dengan logat ngapaknya yang tak pernah ilang
” iya mayu, ki beres-beres ndisit” jawabku ( nyong be ngapak😀 )
Nurul dan Dian pun bergegas untuk ikut naik.
” Tapi mengko munggahe alon-alon ya cah, mandeg-mandeg ra popo yow” kata nurul
” iyow, ra popo, sante wae, “

Kembali melanjutkan perjalanan ke Pos 4, pelan tapi pasti, sedikit terengah-engah, berakali-kali menggunakan Oxycan, tidak hanya dian, wahab juga ikut-ikutan, Jyahhh, ternyata angin di pagi hari sedikit lebih kencang, tapi lebih segar di bandingkan dengan tadi malam. Sekitar pukul 06.00, kami sampai di Pos 4, ternyata banyak sekali pendaki yang menuju puncak lawu, saling salib menyalib dengan teman-teman dari Biologi UNS. Banyak juga pendaki yang mendirikan camp, atau tidur sekenanya menggunakan SB di tempat terlindung di “luweng” atau tepi-tepi tangga yang cukup nyaman. ( untuk kapasitas sedang mendaki tentunya.

Sholat subuh dengan tayamum, sebab air persediaan sudah sangat menipis, menyaksikan sinar mentari pagi hari, memerah, menyesap di sela-sela putihny kabut-kabut yang tampak empuk seperti kasur dari kapas, serasa syuting film kera sakti. Huaaaaa, lepas se,ua penat dan lelah yang telah terlewati. Dian dan Nurul tampak riang, foto-foto, dna menyaksikan langit merah di ketinggian 2700 dpl, jozzzzz banget. Unforgetabble moment. Hehehe

Ternyata kawan-kawan yang berjalan di depan, mendirikan camp di pertengahan pos 4 dan 5. Indahnya pagi hari itu, keinginan melihat bunga edelwise pun kesampaian. Menikmati tepian jalan menuju puncak lawu yang nampak seperti padang savana di Afrika. Ketemu dengan burung coklat yang kukira itu “jalak  gading”, tampak dewasa burung itu, mendekati puncak semakin banyak jumlahnya , pada bagian kepala hingga leher warna bulu lebih pudar, sedangkan bagian lainnya lebih pekat mendekati gelap.  Burung-burung itu berada di lantai hutan, di pepohonan dekat jalan setapak. Kacamata biasa pun nampak asyik saja, meski kami lewati berkali-kali, tak merasa terganggu, justru turun naik mengikuti langkah-langkah yakin untuk sampai pada puncak Lawu.

Mencapai puncak Lawu dengan ketinggian 3265 dpl. Syukur dan kenikmatan yang tak terperi, perjuangan yang keras, sempat hendak menyerah, sempat putus asa, akhirnya dengan keyakinan dan kegigihan semua rintangan berhasil di hadapi.

Perjuangan tidak hanya sekedar naik saja, perjalanan turun justru lebih berat. Ketika menurun beban terasa jauh lebih berat. Saat naik ada sebuah keyakinan dan keinginan untuk mencapai puncak. Tapi ketika turun, kembali pada tempat semula, pastinya akan berjalan lebih pelan, pelan yang melelahkan. Seperti halnya sebuah kehidupan, selayaknya roda kehidupan tak selamnya roda itu berputar naik, ia pun akan berputar turun. Maka bersiaplah untuk ada dalam kondisi apa pun. Tak perlulah berbangga hati dan terlalu membusungkan dada ketika ada di puncak. Dan tidaklah perlu berendah diri dan bersusah hati ketika menysup ke jurang terbawah. Semuanya akan berubah, berubah sesuai dengan upaya masing-masing pribadi dalam menjalaninya.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

6 Balasan ke Menjejaki 3265 dpl, Puncak Gunung Lawu

  1. fatimah berkata:

    ak seneng bagian ngapak e.
    freak me out to laugh :))

  2. fendyarifianto berkata:

    Pengalaman yang berharga… Lanjutkan,,,,

  3. belajarkehati berkata:

    haha.. endi cerito manuke ko mung terus ilang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s