Padda oryza dan Delias pasithoe

Selasa pagi yang segar, sejuknya pagi hari. Sahabatku baru datang dari kota di sebelah barat sana, tetangga Kota asalku, Kota mendoan Porwokerto.
Memang berencana untuk main di Kota Gudeg, sembari mengikuti kegiatan ulang tahun 1 tahun FOBI.
Setelah hari-hari sebelumnya kita jalan-jalan dengan naik sepeda onthel, terus muter-muter kampus, makan di basecamp BIONIC, hunting objek di Taman Makam Kyai Langgeng Magelang. Kali ini, kita berencana mau pengamtan di Prambanan, misinya adalah ketemu dengan gelatik jawa ( Padda oryza ). Aku, Ebet, dan Mas Imam.
Sebelumnya malam selasa,
” Eh, besok kita pengatannya setengah hari aja ya, aku ada acara di Klaten”, kata Mas Imam, si embahnya manuk, hehe.
” Ok deh mas”, sambut kita.

Sepertinya hari selasa memang hari yang sangat menyenangkan untuk membolos, kuliah yang hanya di jam ke 4 dan ke 5. Selalu saja ada alasan untuk tidak menikuti kuliah hari selasa itu, ah whatever, ku tinggalkan kuliah untuk sesuatu hal yang tak kudapatkan di bangku kuliah, up to me deh. * mekso.

Pagi-pagi, kita langsung meluncur ke BBC ( basecamp Bionic), dengan motor hasil dipinjami mas Abhe
kata mas Abhe
” Ati-ati yow, motorku ra penak,wes suwe banget ra tak service,,,,”
dan memang benar, motor yang kata Ebet, ” pie tho iki, motore, miring-miring neng kanan wae”,,,Hahaha
” ra reti Bet, ncen ngono kui, suwe ra dirumat neng sing duwe”

Kita sampai di Bionic, trus sarapan pagi pake nasi kuning* lumayan deh, hehe
Trus dianterin ma Juki dan mas Abhe ke Shelter di Terminal Condong Catur.
Jam menunjukkan pukul 08.00
sebelumnya, pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.30 ebet berkali-kali miscall mas Imam, kan kata mas Imam ” besok kita ketemu di terminal Concat jam 7.00 ya”
takut mas Imam masih tidur, kita pun berkali-kali menghubunginya, hasilnya
” Okey, aku dah bangun😛, ketemu di Concat aja ya”

sambil liat orang-orang yang keluar masuk dari bis Trans Jogja, kita menghubungi mas Imam
” Kita dah nyampe terminal Concat mas”
* sent
10 menit, 15 menit, 20 menit, 30 menit,
” weh kok mas imam ra mbles yo bet, ojo-ojo diare,,haha, hemm atau jalan kaki, ra mungkin deh, paling keturon yo, coba di miscall”
” hahahaha, hooh yo, okey tak misscall….ra diangkat kie,…hedew…”
” weh iki tenanan pengamatane mung setengah hari thok ”
” lha kok, ???”
” kan setengah hari nunggu mas imam, setengah hari pengmatan”
” hahahaha, bener-bener”

Drrrttt…
” Hehe, sory-sory aku keturon, nteni maksimal aku teko paling setengah jam neh” mas Imam

Aku dan Ebet
” Hahahahahaha…tenan ik, ternyata keturon, hedew..haghahaghaghag”
Singkat cerita, mas Imam dateng satu jam kemudian. Perjalanan kita ke prambanan akhirnya pun terlaksana. Di dalam bis
” eh, kenalin, ini Rusnadi, ”
” Mumun”
” Elisabeth”
Aku : Anak mana?
Rusnadi: tangerang
Aku: Acara apa dek? Sendiri?
Rusnadi: Daftar kuliah, gak sma temen
Aku: kok sendirian
Rusnadi: Iya, ini temen-temen masih Di ***
*lupa di mana. hehe
hemmm…
Singkatnya si Rusnadi ini, anak tangerang, dya memisahkan diri dari kelompoknya yang berjumlah sekitar 4 bis besar, datang ke Jogja dalam rangka Liburan akhir semester, seklaian mo daftar kuliah. Nah karena dya sendrian, kasian juga dya, kata mas Imam, ” kasian, aku dadi eling mbien aku nang India, kaya wong ilang”
Hahaha, akhirnya kita mengajak Rusnadi untuk ikut pengmatan dan jalan-jalan bareng kita.

* * *
Awal masuk ke Prambanan
ini memang pengalaman pertamaku pengamatan di Prambanan.
Di depan pintu gerbang sebelum masuk, kita melihat-lihat di luar, di bawah pohon ketapang ternyata banyak bondol peking yang sedang membuat sarang di pohon ketapang, sarangnya diambil dari potongan dahan pohon jenis Caesalpiniaceae, lucunya burung ini berkali-kali menjatuhkan dahan yang masih berdaun itu, tak dipungutnya lagi tapi justru metik lagi di Pohon. Ada bondol peking dewasa dan Juvenil, tampak sedikit berbeda karena yang Juvenil warna coklat blorok di bagian dadanya belum begitu tampak seperti halnya yang dewasa. Selain itu juga tampak saling bersliweran Cucak kutilang, jumlahnya banyak, terlalu banyak dan mendominasi, Ada juga burung gereja Erasia, Madu Sriganti satu-dua tampak di areal sekitar sarang Bondol peking lalu pergi lagi. Kemudian Cabai Jawa, warna merahnya sangat memikat. Cukup lama kita mengamati di situ, ya sekitar setengah jam, tapi sepertinya lebih lama nungguin mas Imam deh. hehehe.

***
Masuk Ke Areal Kawasan Wisata Candi Prambanan
Banyak Kupu-kupu yang beterbangan
Ada Graphium agamemnon, Graphium sarpedon, Euploea mulciber. Sembari berjalan, kita mengamati daerah sekitar, tajuk-tajuk pepohonan, dahan-dahan, Dan yaps….ada kupu-kupu lagi, kali ini Delias, Delias periboea, trus ada lagi, Warnanya kuning agak orange mirip Delias tapi urutan warnanya Hitam di tepi sayap, kuning, dan ada merahnya, kata mas Imam Delias Pasithoe, Sip bethul, setelah saya lihat di Identification guide forbutterflies of West Java itu memang Delias pasithoe, cantik, ada dua ekor, sepertinya jantan dan betina, satunya aktif menari sepertinya yang jantan, berusaha memikat yang betina, dan yaps,,,mas Imam yang cekrak-cekrek mengabadikan moment indah itu.

Kembali berjalan, masih lalu lalang di jalanan kami, Graphium Agamemnon, Graphium sarpedon, Papilio memnon, dan Cucak kutilang. Aku dan Ebet berjalan menuju pohon randu, siapa tahu bisa ketemu gelatik jawa di sana, kami mendahului mas Imam dan Rusandi yang sedang ngobrol-ngobrol berdua.
Sebelum sampai di bawah pohon randu kami sudah terlebih dahulu melihat seekor burung yang tampak seperti cekakak, kami belum bisa mengetahui pastinya apa itu. Kita pun berjalan ke arah pohon randu, eh malah si burung itu lari ke Seberang Lapangan, hedew…
Ya sutralah….kita pun akhirnya duduk di bawah pohon randu, di tengah terik yang menyengat sambil ngemil dan cekakak-cekik sendiri hehehe.

dari hasil pengamatan secara keseluruhan yang paling menarik adalah ketika melihat gelatik jawa di candi ( Padda oryzyvora) nan cantik jelita, warnanya pink, wah cewek banget deh pastinya. Trus Kekep Babi yang menurutku cara terbangnya mirip dengan elang,sayapnya membentang lebar dan tidak mengepak ketika terbang, kemudian dia bertengger lagi, lalu terbang begitu lagi, kalau elang cara terbang seperti itu namanya swaring, nah kalo cara terbangnya kekep babi itu ada namanya juga gak ya?
hehe

Ebeth pun berusaha dengan sangat keras mendigiscopping “si pink”, dengan kamera poket dan bino miliknya, berkali-kali,hasilnya masih kabur, hehe, tapi tetep aja kekeuh berusaha ( Mantab Beth….^_~), katanya oleh-oleh buat temen-temen di UNSOED.  Setelah puas memotret si cantik Padda, kami melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar tapi sebelumnya mampir dulu ke taman, berharap bisa ketemu pelatuk, akhirnya benar-benar bisa ketemu pelatuk ( duh lupa, namanya )

Berhubung tulisan ini sudah tertunda penerbitannya lamaaaaaa, seklai jadi banyak hal yang terlupakan sehingga ya wes lah dari pada mubazir, tetep saya upload…
Mohon maaf atas segala keterbatasannya…
😀

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Padda oryza dan Delias pasithoe

  1. fatimah berkata:

    tulisane yg bnr soaring.hehe..
    tp ak suka tulisane.
    tak tunggu laine.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s