Kepak Sayap yang tak sampai

Akhir tahun sekolah menengah atas membuat kebanyakan siswa SMU sangat bersemangat. Bersemangat untuk cepat-cepat lulus dan menuju jenjang perguruan tinggi yang diimpi-impikannya. Lewat tayangan televisi ataupun Film, banyak dikisahkan indahnya masa-masa kuliah, bebas, santai dan begitu menyenangkan. Tapi percayalah, masa-masa Sekolah di SMA adalah masa yang paling indah itu jika di SMA kalian mendapatkan banyak sahabat dan guru yang begitu care dengan kalian. Itu menurutku ^_^
tapi tak hanya aku, begitu juga delisa. Gadis kecil itu begitu menikmati masa-masa SMA, sahabat, guru, dan semua serba-serbi yang begitu menarik.

Kini setelah ia duduk di bangku kuliah merasakan “nikmatnya” bangku kuliah yang ia dambakan sejak SMA itu sebenarnya tak seindah yang ia bayangkan sebelum ia masuk di bangku kuliah.
” Huft…..” Delisa menarik napas dalam.
” Kenapa tho del, kok menghela nafas gitu. Capek kamu? ” tanya seorang cowok tinggi besar, berambut sedikit gondrong, bermata coklat besar, rahang yang kukuh, dan cuek. sembari menikmati sepotong bakwan yang sepertinya masih hangat.

” Hefth, ternyata kuliah tak seenak yang aku pikir dulu ya ko’, polos banget sih aku. ARghhhh, enakan makan bkwan ” kata Delisa, sembari mencari-cari bakwan yang ia taruh disamping temannya Handoko.
” lhoh, Mana bakwan ku? weits, kok tiba-tiba raib sih. Hemmm, tak pastiin ne kamu yg makankan ko’!? Balikin!Bakwanku Balikin, ARghhhhhh!!!!DOko!!!!” teriak Delisa mngejar Handoko yang lari kelimpungan.

” Sorry del, bentar tak ambilin lagi lima sekalian, haha” teriak handoko sambil berlari tertawa-tawa riang.

Gelak canda riang dua sahabat yang baru berkawan sejak dibangku kuliah. Terlalu sering bersama,  ke mana-mana berdua, jalan berdua, ngerjain tugas satu kelompok, satu sama lain sepertinya saling tergantung. Ada jenak-jenak rasa yang sulit diartikan bagi Delisa ketika bersama Doko, Handoko yang membuatnya tertawa dan melupakan penatnya jalan hidupnya yang keras. Hubungan yang terlalu akrab telah membawa perasaan Delisa terlalu jauh berlalu, brelalu dari kenyataan dan mebawanya terbang ke singgasana cinta. Mungkinkah ini hanya perasaan Delisa saja? Entahlah, Handoko terlalu baik kepada semua orang, kepada semua wanita, dia terlalu ramah. Maka tak tampak satu pun perbedaan perasaannya terhadap satu wanita pun.

Malam kian larut ketika sesosok wajah dingin itu muncul di depan rumah Delisa, ia terlonjak kaget menatap Handoko yang tiba-tiba sudah ada di depan matanya. Padahal baru saja ia mengirimkan message “Kering, Ko!”
Kalimat singkat itu cukup membawa Handoko sampai di depan mata dalam waktu 15 menit. Tak ada jarak yang tak bisa ditempuh sepersekian menit demi seorang ” sahabat” yang tengah gundah gulana.
” 15 menit, cepet banget, gak kaya biasanya kalau kamu berangkat kuliah” sapa ejek Delisa, mencibir Kebiasaan telatan sobat encernya itu. Sembari menutupi sisa-sisa tangis yang baru saja mengguyur pipi mungilnya.
” Haduwh, aku cepet-cepet ke sini tu gara-gara inget besok ada tugas trus aku lum tahu apa tugasnya, mo nanya kamu sekalian pinjem buku, Wuekkkkkk” Handoko mengalihkan pembicaraan dari topik kebiasaan ngaretnya.
” Ngelessssss……….Wuekkkkkkk” singkat delisa
” eh, Bapak kamu peramal ya….”
” What?!” Delisa
” Soalnya kamu tahu kalo tadi aku habis ngelesss, hehehhe” garing, Handoko.
” Heh, gak Lucu”

Bulan temaram, langit malam yang kelam, dinginnya malam mematuk-matuk kulit yang bergesekan dengan angin.

” Aku …..” Delisa terbata
” Mbok bilang aja nek kamu suka ma aku del…” Gurau Handoko
” Ah shit, kok kamu tahu!hahahaha, aku emang suka ma kamu Handoko sayang, suka nimpukin, suka minta di jajanin, suka jahilin, hahahaha, ” kata-kata yang muncul meluncur mnais tanpa tedeng aling-aling, ringan tanpa beban. Geletar tipis yang tak disadari merasuki klbu, mulai meluluhkan hatinya yang keras.

” Ayey, akhirnya ngaku juga..hahahaha” tawa ringan
” Gila”
” sapa yang gila? kamu?”
” Kita…”
” Hahahhaa” tawa delisa dan Handoko bersamaan
” Aku bingung dok, mesti ngapain, mesti crita apa, mulai dari mana, bener-bener aku bingung”
” ….Tell me, now!” wajah handoko serius, menatap lurus mata delisa. Mata sipit yang diam-diam selalu dicarinya saat tak ada di kelas.

” Bapak sakit, Ibu pergi, adik-adikku terlantar, aku ,,,,,,,,bingung” lirih delisa
” Jangan khawatir Del, Bapakmu pasti kuat, adik-adikmu kan bisa kamu jaga sepulang kuliah, ada mbok dhemu  yang bantu, Ibumu pasti pulang, yakin deh…” Handoko tegas
” Aku cuma bisa pasrah”
” Jangan dong, masak pasrah, sini tak apa-apain kalo pasrah gitu” Nakalnya kumat sambil mencubiti pinggang Delisa
” Eh, ngawur. Dasar otak mesum. Jahil!!!!Awas kamu!”
Saling berkejaran, tertawa, menghilangkan semua peluh hidup yang menyesaki pikir. Rembulan temaram, mengintip malu-malu pada dua insan yang tertawa riang, yang tak saling menyadari bahwa hatinya telah slaing terpaut.
***

” Dari mana Ko? ” sapa Ibu Handoko
” Dari rumah Delisa Bu, maen” jawab Handoko ringan
” Kok maen terus sama Delisa, jangan sampai kamu lupa kalau kamu sudah punya Reni dan bulan depan kalian akan bertunangan, Ibu gak mau….”
” iya bu, iya, Doko ngerti Bu, Doko cuma pengen hibur Delisa yang lagi sedih kok Bu, gak ngapa-ngapain, Ibu gak usah khawatir” Jawabnya seraya pergi menuju kamar.
” Eh, kemana kamu…Ibu belum selesai bicara udah ditinggal, aduh anak jaman sekarang makin hari makin bisa nglawan sama orang tua, prihatin-prihatin!” gerutu Ibu Handoko Keras.

Tiba-tiba….
” Ada apa bu, panggil Atin” tergopoh-gopoh pembantu Ibu Handoko yang bernama Prihatin datang ke ruang tengah.
” Siapa yang panggil kamu, saya lagi marah bukan manggil kamu, sana ke dapur lagi!” kata Ibu Handoko geram dan berlalu pergi.
” Lha pie tho, mau manggil-manggil, prihatin-prihatin, eh wes teko malah dikon budal, ono-ono wae Bue ki, huft” Gerutu Atin sambil kembali ke Dapur.

***

Detik tak berhenti berdetak, jam tak memelankan jalannya, haripun kian berganti hari, berganti minggu. Memasuki musim penghujan, semuanya waspada membawa mantol dan payung untuk melindungi diri dari hujan.

Pagi yang sedikit mendung, semakin lama awan semakin menghitam menyembunyikan gurat ceria sang mentari pagi.

” Duh kayaknya mau ujan ya Del,” kata anisa teman sekelas Delisa
“Hooh ne, gak bawa payung lagi, huft…” kata Delisa sambil mencari-cari seseorang.
” kamu nyari siapa sih, dari tadi jelalatan melulu” tanya Anisa
” Enggak, cuma, …..”
” Hoy…..” Handoko datang tiba-tiba
” Doko…!!!!!!” teriak Delisa dan Anisa
” Hahahaha, sory deh, kalian sih bengong, nungguin aku ya?”
” Ih, pede!”
” eh pak Slamet dah datang”
” Selamat pagi?”
” Pagi pak!”

Siang hari pun tak menunjukkan kerukunannya dengan sang mentari, langit masih mendung, bahkan semkain gelap, tak tampak wajah lazuardi merona.
Handoko menulis sesatu untuk delisa pada secarik kertas
Ntar jangan pulang dulu, aku mau cerita
Handoko

Soal apa
Delisa

Rahasia,😛
hehe
Ntar Deh
Handoko

Huh, 😛
Ok
Delisa
Bau wangi pagi hari udara kampus  telah berganti, berganti dengan bau keringat yang tak keruan. Wajah-wajah ayu dan segar mahasiswa dan mahasiswi telah berganti dengan wajah sayu, dan mengantuk. Kuliah berturut-turut full satu hari penuh membuat semangat naik turun, apalagi wajah mentari tak secerah kemarin.

” Akhirnya berakhir juga kuliah beruntun hari ini”kata Handoko lega, sambil merentangkan tangannya lebar-lebar
” Hooh, alhamdulillah”Kata Delisa, Lega.

” Eh gimana kabar Bapak Del” Tanya Handoko Pelan
” Hemm, Alhamdulillah Bapak udah baikan, udah bisa ke sawah lagi” senyum Delisa
” alhamdulillah ya Del, hemm, kalo Ibu” lebih pelan lagi
” Belum tau kabar Ibu…belum ada beritanya” muram Delisa
” Maaf ya, jadi ngingetin kamu”
” santai aja lagi Ko, katanya tadi kamu mau cerita” tanya Delisa
” oh iya del, aku mau bilang sesuatu sama kamu”
” Apa?”
” Minggu besok Aku tunangan sama Reni, Inget gak? Reny yang dulu pernah aku kenalin ke kamu, yang manis, putih dan lucu itu lho. Kan Orang tua kita dah lama temenan, jadi ya buat mempererat hubungan dan kerjasama, hehe, aku juga suka dia lucu😀. Dateng ya, sobat kecilku yang imut kaya marmut, Ok, ok” Kata Handoko berpanjang lebar.

Deg, detak jantung Delisa sepertinya berhenti sejenak. Seperti ada sesuatu yang mencelot keluar dari dalam tubuhnya.
” Hemmm, hahaha, keren tuh, Pastilah aku dateng, buat kamu apa sih yang enggak, haha, selamat ya Ko. Eh Udah mau Ujan, pulang dulu ya, kita sambung besok, Daghhhhhhhhhh!” Kata Delisa, mencoba bersikap biasa saja, sambil berlalu pergi.
” Del, hey, ,,,Hati-hati di jalan” teriak Handoko

Langit tak kuat membendung jumlah air di dalamnya, Seperti itu juga perasaan Delisa tak kuat membendung sebuah perasaan kecewa nya, derai tangisnya mengalir perlahan  bersama rintik hujan yang deras turun berdebam di atas aspal kering yang kasar.
Seperti dikejar hujan deras dan tangisnya sendiri
Langkah-langkah cepat Delisa berpacu, “Tangis, benarkah aku menangis, apa yang aku tangisi, apa!”
” Arghhhh!”
Tergugu ditenggah gigil hujan, merutuki perasaan yang muncul seperti itu, sesuatu hal yang tak pernah ia perhatikan selama ini, bahwa ternyata Delisa mencintai sahabatnya sendiri, sahabat yang selalu mebersamainya. Handoko.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kepak Sayap yang tak sampai

  1. imexplore berkata:

    haaaahhhh…. lagi-lagi cinta yang tak sampai :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s