Gurat Cerita Sepotong Hati pada Bangau Lipat

Kamis, 17 November 2011

Selalu saja mendadak sakit perut dan ingin ke belakang ketika sudah berada pada posisi pewe ( puenak bwanget ), amat sangat tidak nyaman membuat pikiran yang siap mencurahkan segala perhatian pada larik-larik huruf terpampang didepan mata buyar, hilang seketika dan memunculkan butir-butir keringat dingin sebesar biji-biji jagung, Ouwh, Menyebalkan!

November, bulan hujan yang lama dinanti akhirnya datang juga. Hal yang dirindu oleh hampir semua penduduk bumi, rintik hujan, bulir dingin bening yang menyejukkan itu kini telah hadir kembali. Setelah sekitar 6 bulan daratan ini bertambah gersang dan panas. Pohon jati meranggas, rumput teki mengering, bunyi kodok tak ada, musik alam yang sunyi, hanya ada sengat mentari yang setia hadir dan temaram setiap saat, setiap hari, dan jangan cepat lelah untuk setia. Kini, mentari masih sama, setia muncul dan temaram setiap hari memberi kehangatan dan sengat berlebih pada wajah bumi yang mengering, tapi sore hari kadang ada bunyi kodok yang bersahut-sahutan, meningkahi rintik hujan yang menyejukkan kala bibir-bibir runyam tengah menghujat kesetiaan sang mentari. Alunan merdu mengalun seiring musim berganti, walaupun tak seirama dengan ritme matahari, sedikit berubah, sedikit berbeda, sedikit-sedikit bencana dan musibah menimpa, di sana-sini saling menyalahkan.
Argh! Perlu sesuatu hal yang sedikit radikal dan benar-benar tak terduga untuk menyelamatkan wajah bumi yang sedikit menua, mungkin tak boleh ada orang di bumi ini yang mempunyai sepeda motor, dan mobil pribadi, hanya boleh ada angkutan umum saja. Pasti sedikit berkurang jumlah karbondioksida yang menyesaki udara, tentu dengan fasilitas umum yang memadai dan pelayanan yang baik, ojo koyo ora di gaji, wes digaji kok ra gelem ngguyu. Huh, akhirnya sedikit keluh keluar juga, fiuh, dasar manusia.
***

Masih melamun dengan khusyuknya, wajah sayu itu sepertinya tengah lelah. Sedikit mengantuk dan juga lapar, duduk sendiri di pojok kantin kampus yang sedang sepi, sepi untuk ukuran kampus karena ini sudah pukul 17.00 WIB. Satu tangannya menopang dagu, satu tangannya memegangi perut sebelah kanan, sedikit meringis dan bergumam, membiarkan angin sekitar membelai wajah nya, kerudung biru dongkernya sedikit berkibar, pin kecil tersemat manis di samping kanan dada atas. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

“ Hai!”

Dari kejauhan nampak seorang pemuda tinggi, kulitnya sawo matang, matanya sedikit sipit, dan tidak tersenyum. Langkahnya tegap, berirama mantap, cepat dan pasti. Pasti mengayunkan kaki-kaki panjangnya ke meja sudut, meja si gadis berkerudung biru dongker itu. Aku tak bisa menangkap percapakan mereka, sepertinya mereka saling menyapa, oh tidak ternyata mereka saling mengomel, mungkin tentang kuliah tadi, si pria tadi menyebut-nyebut nama pak ini dan bu itu, dan si gadis sedang menyebut beberapa nama, jangan tanya aku karena aku juga tak tahu. Gadis itu memandang laki-laki didepannya dengan penuh antusias, penuh senyum, dan melupakan segala rasa yang menyebabkan dia meringis-ringis mungkin menahan rasa sakit nya karena menunggu laki-laki itu.

Kali ini mereka tampak pergi berdua, entahlah, aku begitu penasaran dengan gadis itu,aku sudah duduk dikantin ini sejak pagi karena sedang bingung hendak pergi ke mana dan mau mencari inspirasi, kemudian datang gadis itu dua jam setelahku. Dia menunggu sesuatu sepertinya, dari jam 12.30-16.30 WIB, cukup lama bagiku hanya jika untuk menunggu seorang laki-laki. Fiuh, tapi itulah perempuan rela menunggu berapa lama pun untuk orang yang dicintainya. Ups! Kulihat gadis itu menulis sesuatu di kertas, kemudian melipatnya menjadi bangau-bangauan, lipatan yang sederhana dan biasa diajarkan pada anak TK, aku tahu itu karena adikku masih TK dan aku sering mengajarkan cara melipat bangau kepada adikku. Lalu dia mengambil kertas itu lagi, menuliskan sesuatu dan membuat bangau-bangauan, lagi, entahlah sampai berapa kali, ku hitung ada sekitar lebih dari 30 bangau-bangauan yang tergeletak manis menemaninya, hingga ia berhenti dan kemudian meringsi-ringis memegangi perutnya. Setelah ada seseorang menyapa “ Hai!” dari jauh itu datang, ia buru-buru memasukkan bangau-bangau kecil itu ke dalam tas ranselnya yang cukup besar, ups, tapi ada satu bangau yang terjatuh dan dibiarkannya saja tergeletak.

Ku hampiri meja di sudut itu, dan aku duduk di sana sebentar kemudian aku mengambil sebuah bangau lipat yang terjatuh, rapi, dan cantik, gadis itu membuatnya dengan sungguh-sungguh. Aku mencoba menguraikan lipatan-lipatan itu dan ups maaf, aku membacanya teman, sebuah tulisan miring, rapi dan indah

Aku yakin kau pasti datang

Sepertinya setiap satu bangau dia menuliskan sesuatu, entahlah aku semakin penasaran padanya. Esok aku harus ke sini, ingin tahu tentang gadis itu, keyakinan seorang gadis pada seorang pria.
***

Esok hari yang cerah setelah berkemas-kemas, melakukan aktivitas rutinku setiap pagi, aku kembali ke kampus, bukan untuk mencari dosen atau mengambil mata kuliah karena kuliahku memang sudah usai, aku hanya ingin mencari inspirasi.

Sembari menyelesaikan paper yang belum ku kumpul, aku menanti kisah selanjutnya yang mungkin akan mewarnai hariku berikutnya. Siang sampai sore aku sama sekali tak menemukan dia, gadis biru dongker yang suka bangau. Aku bangkit dengan sedikit tergesa sekitar pukul 15.40, terburu-buru aku menarik kursi dan membalik badan, seraya menjinjing tas laptop serta berkas-berkasku, kamera dan semuanya telah kumasukkan tiba-tiba seseorang tak sengaja menyenggol berkas-berkasku lain yang ada di kursi, dia terburu-buru mengambilnya dan ups.

“ Maaf mbak, aduh maaf-maaf, bener-bener nggak sengaja, semoga ini gak rusak ya mbk”, Gadis yang kucari itu, gadis biru dongker yang suka membuat bangau lipat dari kertas.

“ Oh iya , gak papa mbak, itu gak terlalu penting”, itu hanyalah coretan lusuh, aku sudah menemukan yang ku tunggu, kataku dalam hati

“ Sepertinya, mbk bukan mahasiswa sini ya? Jarang kelihatan, dan hemm, sedikit berbeda” katanya ramah

“ Iya, saya memang bukan anak sini kok, Cuma mau maen bentar nyari udara seger, mumpung masih muda, sering jalan-jalan, jalan-jalan yang sedikit berbau akademis kan di kampus, hehe” gurauku

“ Ah mbak bisa aja, kenalkan aku Tari” mengulurkan tangan

“ oh iya, Gita” ku sambut tangan lembut itu dengan jabat erat.

“ Eh, duluan ya mbak, maaf temanku udah nunggu di sana” katanya sambil mengangguk tersenyum.

“ Mari silahkan ” balasku senyum.

Dia lebih manis dari hari kemarin, tampak lebih segar dengan wajah berseri dan jilbab berwarna biru muda, sepertinya dia sangat menyukai warna biru. Satu tangannya memegang bangau-bangauan kecil yang terbuat dari kertas lipat warna biru dongker, nah biru lagi. Dia melenggang lega, menuju meja sudut seperti biasa. Ternyata sudah ada seorang gadis manis cantik, imut dan kalem, dengan rambut sebahu yang tergerai, sudah kulihat gadis ini tadi sekilas waktu aku akan balik pulang ternyata dia datang, entahlah sekarang aku duduk kembali dan asyik memperhatikan mereka berdua, sigadis biru dongker, dan gadis berambut sebahu.

Tiba-tiba sekitar 15 menit kemudian laki-laki yang kemarin datang. Ia menepuk bahu si gadis biru dongker dan kemudian langsung duduk di sebelah gadis berambut sebahu yang dengan manisnya tersenyum, sedikit mencondongkan kepala ke pundak si laki-laki, dan dengan lembutnya membelai rambut si gadis itu, aih-aih, mataku menangkap sesuatu hal yang nampak berbeda dari si gadis berkerudung biru itu, siapa tadi namanya Tari, ya Tari. Air muka Tari nampak berbeda, nampak berubah walau hanya sedetik lalu ia kembali tersenyum lebar dan kemudian kembali terlibat pada obrolan yang sepertinya sangat hangat, lihatlah Tari tampak tertawa bahagia, dan keduanya juga. Selang 20 menit aku telah kehabisan memori untuk memotret mereka, sepertinya memori card ku kelebihan muatan, Fiuh.

Laki-laki dan gadis berambut pendek itu meninggalkan Tari sendiri. Tari melambai dan masih tertawa, satu tangannya memegang dada, dan satu tangannya kemudian meremas bangau kecil yang sedari tadi menjadi saksi sebenarnya ada apa dengan perasaan Tari. Tari terdiam, lalu pergi, ah dia tak menuliskan sesuatu dan tak membuat bangau-bangauan kecil lagi. Padahal itu yang ku nanti, seperti memperoleh teka-teki atau jawaban atas teka-teki. Dia berjalan bergegas dan membuang remasan bangau itu.

Aku menghampiri tempat sampah dan mengambil remasan kertas itu, ku buka pelan-pelan dan kulihat :

Aku tak Boleh mencintaimu

Aku terdiam, ah gadis yang tengah resah ini sungguh menarik, kulirik jam tanganku pukul 17.00, ah shit! Roy pasti sedang mengomel dikantornya karena aku belum datang, berkas rapat itu ada di tanganku aku telat 1,5 jam, haha, whatever! I like it.
***

Hoammmm, sedikit mengantuk dan lelah, setelah seharian bekerja dan mendapat omelan berkali-kali dari sobat sekaligus bosku tercinta, Roy Kusuma. Kini aku harus segera menyelesaikan deadline catatan tentang perjalananku beberapa hari yang lalu saat ke Puncak Rinjani. Ah sudah tergeletak terlalu lama, ayo selesaikan. Aku membuka laptop merah kesayanganku yang sudah lusuh dan sedikit tua, disampingya ada sebuah buku, buku harian tebal yang sangat setia menemaniku, kubuka pula buku itu dan aku terhenti pada sepotong kertas segiempat penuh dengan bekas-bekas lipatan, Oh Tuhan, aku sempat melupakan dia, gadis berjilbab biru dongker yang suka membuat bangau lipat, apa kabarnya sekarang, satu minggu sudah aku pergi dan tak menengoknya lagi dikampus rindang itu.
***

Pagi-pagi benar aku bangun dan kembali ke kampus, aku mencari gadis itu dengan sungguh-sungguh. Aku bertanya pada ibu kantin.

“ Oh , mbak Tari yang baik itu ya, yang pakai jilbab seringnya warna biru itu tho, iya-iya, kalau gak salah kemarin dia pingsan di meja pojok sana, trus sekarang masih di rumah sakit”

“ Loh kok, bisa pingsan bu?”

“ Waduh gak tau e mbak, coba ke Rumah Sakit saja”

Aku bergegas ke rumah sakit berdasarkan alamat yang diberikan oleh ibu kantin. Ku buka pelan-pelan pintu kamar 303 itu. Sepi, putih, dan satu yang aku yakin itu pasti dia, banyak sekali bangau putih tergeletak di meja samping tempatnya tidur, mungkin ratusan. Dan dia terbaring di sana, tampak lemah. Ku hampiri wajah pucat itu, dan ada sebuah bangau lipat berukuran cukup besar tergeletak, bangau yang kokoh kau pasti kuat terbang ke manapun kau mau wahai bangau, batinku, jika kau benar-benar bisa terbang.
Sepertinya ada tulisan di dalamnya.

Tuhan menitipkan sepotong hati ini padaku
Dan
Hati ini tertaut padamu
Kau yang tak pernah melihatku
Maafkan aku yang terlanjur mencintaimu
Dalam diam
Aku tak perlu kau menahu
Tapi sejumput asa di dada ringkih ini selalu memaksaku menanyakan ini padamu
Apa yang harus kulakukan agar kau melihatku?
Aku mencintaimu

Aku terdiam, tak kuasa melihatnya.
Ku usap pelan wajah ini, dan ku hapus segera air mata yang buru-buru mengalir di pipi.
Lama aku berada di ruang itu, dan aku tahu tentang Tari bahwa Tari adalah gadis yang sangat menarik energik dan aktif dalam segala hal, gadis itu tersungkur oleh pahitnya cinta hingga kesehatannya memburuk. Dia ternyata terkena gagal ginjal, parah, dan tak ada yang tau. Tari yang sangat ramah pada semua orang tapi dia sendiri tidak ramah pada dirinya. Dia menambatkan hatinya pada seorang laki-laki yang tak mampu melihat sepotong hati yang begitu indah di depannya.
Tuhan berikanlah yang terbaik untuknya. Amin

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Gurat Cerita Sepotong Hati pada Bangau Lipat

  1. imexplore berkata:

    mbok sekali-kali nulis sing cinta ne kesampaian.
    hhahahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s