DIHAPUS PELANGI SENJA HARI

Jalanan kampus terasa sepi, padahal ini baru sekitar pukul 17.00 sore hari, mungkin musim ujian membuat mahasiswa yang biasa kelayapan lebih suka pulang kos cepat-cepat, tidur siang dan lemburan malam hari untuk ujian esoknya, haha, benar-benar kebiasaan buruk, ups pengalaman pribadi .
Aku baru saja pulang dari kampus, tepatnya dari perpustakaan jurusan, harusnya aku segera pulang tadi sekitar pukul 15.00 sore, karena memang perpustakaan tutup jam itu. Tapi, mood yang sedang tidak happy ini menuntunku masuk ke taman kampus yang sepi untuk sekedar melihat-lihat. Ah, entahlah mungkin itu hanya alibi perasaanku saja, alih-alih ingin melihat-lihat, justru duduk terpekur memandangi tumbuhan eceng gondok yang memenuhi kolam kecil di kebun yang tidak begitu luas, meski banyak sekali nyamuk-nyamuk yang tanpa ba-bi-bu langsung menancapkan mulut jarumnya dikulitku yang tebal, ups tubuhku yang sedikit hemmm berisi . Sedikit melamun, hanya berdiam diri, setengah jam sudah cukup sepertinya donor darah pada nyamuk-nyamuk ganas di taman kampus, semoga tak ada salah satu Aedes aegepty yang mampir di kulitku tadi.
Sedikit gontai, melangkah menuju pintu keluar taman. Pikiranku masih melayang-layang, mengembara entah ke mana, mungkinkah ke korea menyusul oppa-oppa yang cakep-cakep di drama korea yang seringkali membuatku galau, ouwh tidak itu bukan gayaku, maksudku bukan gayaku menyukai wajah oriental yang tampak emmmm “cantik”, aku lebih suka yang cool, hitam manis, arogan, tidak banyak bicara, dan ups, aku terlalu banyak bicara ternyata . Tak kuduga langkahku sudah sampai di perempatan gedung pusat kegiatan mahasiswa, tadinya aku masih terpekur menatap jalan yang dipaving block. Tapi, aku mencoba mendongak ke atas dan my God, Amazing, langit yang mendung sedikit tertutup awan menampakkan garis warna-warni yang cantik, ada dua berlapis warna, yang satu tampak lebih tebal dan yang satu tidak terlalu tebal.
Di ufuk senja yang mendung,
ditingkahi sedikit gerimis malu-malu nan manja menitikkan airnya satu-satu
mata-mata indah nampak berwarna-warni menghiasi mega merah yang tertutup kelabu
seperti hari itu
menampik kenyataan tentang perasaan pahit
melihat wajah yang telah menghiasi hati selama ratusan hari
tak kunjung sirna tak kunjung pergi
kadang tesaput awan kelam
kadang menyeruak seindah mentari pagi hari
dia yang membuatku resah
dia yang tak sendiri
dan dia yang mungkin tak menyadari tentang ini
( Resah, dihapus pelangi senja hari )
“ Gubrak…” Suara sesuatu yang jatuh berdebam di tanah.
“ Auwww, kepalaku, Argh..” Ternyata yang jatuh itu aku. Mataku masih terkatup, tak hendak cepat-cepat membuka mata. Ternyata aku bermimpi.
“ Oh, tidak. Ini sudah pukul 09.00, Argh, aku terlambat.” Oh tidak, aku terlambat lagi, aku ada janji bertemu dengan seorang klien yang akan membeli batik-batikku. Aku harus segera bergegas.
***

Lama sekali tak melihat wajah seseorang, disela-sela kesibukannya kuliah dia justru main-main. Katanya bisnis keluarga di luar kota tak ada yang mengurus, sebagai anak bungsu laki-laki yang nakal, dalam upayanya mempertanggungjawabkan kelakukannya yang “selengekan” dia pun pergi.
“ Halo, Anggita! Hari ini aku berangkat ke Malang, nitip absen ya! Harus! Mati aku kalo ketahuan bolos lagi. Ok Ang!” Suaranya seperti seorang diktator kejam yang suka memerintah-merintah orang seenak “udelnya” sendiri.
“ Hei, Anggita, Kau mendengarku! Ang?” suaranya sedikit lebih keras dan tampak marah-marah.
“ Iya, iya, aku denger kok. Huh, tanganku dah kapalen gara-gara ngabsenin kamu terus! Hemmm, ” kataku masih menggantung, sembari  masih “misuh-misuh” di dalam hati.
“ Sip, aku suka mendengarmu cerewet daripada kau diam seperti tadi, itu mengkhawatirkan sekali, tapi tenang aku akan segera kembali, jangan khawatir. Daaaaaaaaaaaaaa…..beruang gembil galak.” Tanpa ba-bi-bu dia langsung menutup telponnya.
Dia, menyebalkan dan sangat tidak sopan, huft, Jo. Johansyah Ramadhan yang sangat Arogan. Namanya, ehemm, aku tau nama depan dan nama belakangnya memang sangat berbeda, ia terlahir dari ayah yang muslim dan ibu yang katolik, kau tau itu sedikit hemm, memang begitulah. Jangan tanya aku kenapa aku mengetahuinya? Dia pria yang tidak banyak bicara tapi kalau kau sudah mengenalnya, dia benar-benar cerewet, mengalahkanmu yang perempuan.
Ini telah dua bulan semenjak dia menelponku seperti seorang diktator, huft, laki-laki arogan yang membuatku sering memimpikannya. Sungguh menyebalkan.
“ Hai, beruang gembil, long time no see You baby!” Wajah bulat dengan mata sipit itu memandangku dengan senyum jailnya yang menyebalkan, dia tepat di depan kontrakanku yang kecil dan nyaman.
“ Hei, Jo! Kenapa tiba-tiba datang dan pergi seenakmu sendiri, kau tak menganggapku sama sekali, kau tak menelponku dulu, tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi lagi, Huh!” Aku hanya bisa marah-marah sendiri, melihat kedatangannya membuatku lega.
Aku hanya marah untuk mencoba meredam detak jantungku yang berpacu begitu cepat. Arghh, ini sangat menyiksa, andai aku bisa sedikit rasional dan menyambutmu dengan senyuman manis atau pelukan hangat dan bukan, ehmm omelan seperti saat ini.
“ Anggita, kau masih saja seorang pemarah, tak adakah sedikit pelukan hangat untuk sahabatmu yang telah kedinginan selama 2 bulan di Malang. Kau tak tahu betapa dinginnya di sana, herghh.” Dia bertingkah begitu berlebihan dan masuk begitu saja kemudian tiduran di sofa ruang tamu sekaligus ruang TV itu.
“ Kopi Ang! Seperti biasa! Hey, Ang, kau mendengarku, jangan kebanyakan melamun Ang!” Jo masih saja cerewet. Dia selalu memanggilku dengan sebutan “Ang”, memangnya aku angklung, atau anglo. Huft.
“ Johansyah Ramadhan, cerewet! Kamu cerewetnya sama aku doang sih? Sok cool di depan cewek-cewek lain. Menyebalkan sekali.” Cerewetku kambuh. Sembari menyodorkan secangkir kopi padanya. Aku sudah tahu kebiasaannya yang menyesap kopi hitam dengan  dua sendok makan gula pasir dan dua sendok makan susu, kesukaan seorang laki-laki harusnya kopi pahit, kenapa dia menyukai kopi manis itu, Argh, entahlah. Reflek untuk memasuki dapur dan membuat kopi manis untuknya terlalu cepat ketika dia datang.
“ Sip. Thanks. Wangi banget, gak kaya kamu, asem. Haha.” Jo cekikikan, sembari menghidupkan layar TV dan memegang cangkir kopinya.
“ Sialan. Mana oleh-oleh untukku? Jangan bilang kamu lupa! Hemmm. ” Aku pun jauh lebih cerewet dari Jo sebenarnya.
Kali ini aku menagih janjinya, aku telah berkali-kali mengiriminya pesan untuk membelikanku beberapa barang yang memang ku perlukan untuk butikku. Hemm, sebenarnya sekedar alasan saja, aku sedikit memaksa Jo membelikan itu, karena aku tahu dia pasti lupa membelikan sesuatu untukku.
“ Hemmm, oleh-oleh, hehe, Argh, seperti tak tahu aku saja, lupa. Hehe. ” kata Jo sedikit linglung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, lalu menyesap kopi manisnya.
“ Buk…” Aku meninjunya lengan kirinya yang berotot.
“ Auww, sakit! Maaf. ”  wajahnya sedikit menyesal.
“ Boong! Lenganmu kegedean dan berotot, gak bakal sakit kalo cuma tinju dari tangan kecilku yang manis ini Jo! Jangan mengalihkan pembicaraan. Huh, kebiasaan! Mana oleh-olehnya?” Kataku sembari memanyunkan bibirku yang memang sudah manyun. Haha.
“ Heh, Anggita sayang, kamu pikir aku gak tau apa kalo kamu biasa berkelahi sama cowok, meski tanganmu kecil gitu, Hah! Ingat, kecil, gak imut, wuek! Jangan manyun gitu dong! Aku cuma bawa pesananmu, katamu mo buat bisnis.  Aku gak bakal lupa kalo berkaitan dengan bisnis, Ok!” Katanya berbinar-binar.
“ Benar, Jo itu paling inget tentang bisnis, sampai-sampai lupa kuliah, dan ehmmm,  Hesti. Hey, kamu udah kasih tahu Hesti kalo kamu dah pulang? Kamu dateng ke sini, jangan-jangan lupa menemui kekasihmu itu, aku bakal disemprot habis-habisan neh!” Kataku mengingatkannya pada kekasihnya. Hesti Natalia, yang juga sahabatku. Dan, sepertinya itu benar, dia tampak kaget.
“ God. Kau malaikat penolongku. Aku benar-benar lupa. Kau tahu aku langsung ke sini selepas dari bandara, sekarang aku harus segera pergi! Daaaa, Ang! Terima kasih kopinya!Daaa….Buk, Ouwww. “ Dia terantuk pintu didepannya.
“ Daaa, hati-hati, haha, selamat di jalan, salam buat Hesti!!!! Dasar Jo pelupa.” kataku sedikit berteriak.
***

Jo adalah sahabatku. Sahabat dekatku, begitu dekat bahkan, jauh sebelum dia mengenal Hesti yang sekarang menjadi kekasihnya. Kami kuliah satu kelas, bersama-sama semenjak mengikuti training enterpreneur di semester 1, dan hingga kini semester akhir perkuliahan kami. Jo sangat baik pada setiap perempuan, tak cuma aku. Jiwa sosialnya sangat tinggi, dia tipe laki-laki ramah dan low profile. Sebagai anak seorang pengusaha mapan, Jo tak menunjukkan kekayaannya sama sekali. Jo rela mengikuti kegiatan wirausaha yang kecil-kecil denganku, berhujan-hujanan demi demo usahanya waktu itu. Dan, setahun kemudian baru kuketahui kalau dia ternyata anak seorang pengusaha yang mapan di Kota ini. Bahkan, dulu aku sempat merintis sebuah usaha dengannya dan kemudian gulung tikar karena masalah marketing yang kurang baik. Kali ini sudah lewat tiga tahun dari pertemanan kami, aku sudah memiliki usaha butik yang lumayan walau tidak besar tapi bisa membiayai hidupku tanpa harus meminta orang tua, memang sejak awal kuliah aku sudah lepas dari orang tuaku. Dan Jo dengan bisnis orang tuanya, bisnis garment dan kafenya yang laris manis.
Setahun setelah perkenalan kami, aku semakin dekat dengan Jo. Aku memang terbiasa sendiri, apalagi di Kota ini, aku punya banya teman tapi aku tak suka bermain-main dengan laki-laki, bukan karena aku tak laku, tapi karena trauma masa lalu. Hanya dengan Jo saja aku merasa nyaman, seperti melihat ayahku, ketika bersamanya. Entahlah kusimpan rasa itu erat-erat, seperti sebuah lagu “ Dalam diam, aku mencintaimu” yang sering dinyanyikan teman sekontrakanku seorang vokalis di sebuah grup dikampus seninya, tapi kini dia sudah lulus kuliah dan aku tinggal sendiri.
Hingga suatu waktu, Kakak perempuan Jo seorang designer muda. Dia memulai debut awalnya dengan mengadakan sebuah pameran baju, rancangannya. Di acara tersebut Jo yang tak terlalu tampan, tapi dia berbadan atletis dan hanya sedikit lumayan, menjadi peraga pakaian pria. Sementara Hesti Natalie, seorang mahasiswa jurusan Modeling yang cantik dan tinggi menjadi salah satu model utama pakaian wanita. Mereka bertemu ketika suatu insiden di acara pameran busana itu terjadi. Terlepas dari kesuksesan acara pergelaran busana kakak perempuan Jo, Alesandra Fitriana. Hesti dengan high heel 15 cm-nya melenggang lancar di atas panggung, mengenakan gaun berwarna gold, dengan ekor gaun yang panjang dan sangat anggun. Di belakangnya ada Jonathan yang memakai jas berbahan shining wool Italy berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Hesti. Karena sebuah kesalahan kecil Hesti, kisah cinta itu dimulai. Ketika gadis cantik itu berbalik badan untuk berjalan beriringan dengan Jo, ekor gaunnya yang panjang justru terinjak heelnya yang tinggi dan membuat Hesti akan terjatuh. Serta merta Jo langsung berlari dan menolong Hesti. Adegan itu justru tampak seperti adegan sinetron. Kesalahan panggung itu menjadi sorotan media, photografer muda kota yang meliput pun langsung mengambil photo dan pose-pose itu dengan sangat baik. Tidak menjadi kesalahan dan pergunjingan, justru adegan itu menjadi sesuatu yang menarik dan membuat nilai tersendiri untuk memopulerkan karya rancangan Alesandra. Bahkan modelnya Johansyah dan Hesti.
Jangan tanya mengapa aku tahu, ini bukan karena Jo yang bercerita, tapi karena mata bundarku ini yang melihatnya sendiri. Saat itu, aku memang berada di acara tersebut. Bukan sebagai model karena aku tidak secantik dan setinggi Hesti. Aku yang waktu itu sedang tugas freelance sebagai photografer majalah fashion wanita,  bertugas meliput acara tersebut. Dengan dua bola mataku sendiri kusaksikan kesalahan apik yang mendebarkan dan menegangkan, namun berakhir dengan tepuk tangan meriah dari semua audience di Hall Hotel mewah itu. Wajah cantik Hesti waktu itu memang tampak nervous beberapa detik, tapi sentuhan tangan Jo membawa lengan Hesti saling berkait dan melenggang justru membuat pipi Hesti merona, tampak cantik sekali, dan sangat manis. Argh, sesak, sedikit menyesakkan dadaku, tapi kuabaikan perasaan itu.
Aku tak memedulikan perasaanku dan jantungku yang berdetak begitu kencang. Aku masih fokus untuk momotret mereka, tak kubiarkan satu pun kesempatan hilang, karena rasionalitasku masih sangat bekerja, mengesampingkan segala perasaan di hati. Aku tahu, satu saja moment penting itu hilang maka bayaran yang seharusnya kudapat akan merosot seiring dengan ketidakprofesionalitasanku dalam bekerja. Apalagi mbak Fe, editor majalah sekaligus photografer senior tempatku bekerja adalah tipe orang yang perfect dan tak berperasaan dalam hal pekerjaan. Itulah sekilas tentang background kisah cinta Johansyah dan Hesty. Jangan tanya tentang aku, aku tak banyak berperan, aku hanya figuran yang muncul tanpa arti dalam cerita cinta mereka, mungkin. Fiuh.
***

 Suatu ketika, ada sebuah acara organisasi kampus, di tahun kedua kami. Walau pun sama-sama menyukai bisnis, tapi kami juga suka kegiatan-kegiatan yang berbau alam, seperti naik gunung, atau berenang di pantai. Aku lebih suka photografi sementara Jo lebih suka fashion dan modelling, dia memang tidak begitu tampan, tapi dia lumayan, wajah asianya pernah masuk Koran saat ia menjuarai kompetisi putra dan putri daerah. Argh, aku memang suka bercerita kemana-mana sehingga seringkali melebar ketika ingin fokus pada satu hal. Kala itu aku dan Jo mengikuti acara kampus untuk mengisi libur semester genap yang cukup panjang.
“ Capek ya? ” Tanya Jo padaku yang saat itu sedikit tersengal-sengal membawa ransel bermuatan 60 Liter.
“ Hemm, gak. Aku terlalu kuat kalo cuma bawa tas dan naik gunung, tenang aja!” Kataku kembali berjalan mendahuluinya.
“ Hey, sombong sekali! Aku kan cuma Tanya! Dasar, anak gunung! Sok kuat. Wuekk!” kata Jo, sedikit kesal denganku yang sok kuat.
“ Cerewet! Simpan tenagamu kita baru sampai 2600 dpl, puncak ada di 3265 dpl, tahu gak?” kataku mengingatkan Jo yang melangkah cepat-cepat di depanku.
“ Iya, aku tahu, Nona Anggita Hapsari!Hurry up! Kita ketinggalan cukup jauh!” Jo menyuruhku berjalan lebih cepat.
Mungkin Jo lupa bahwa malam sebelumnya aku tak tidur, aku harus lembur ditempat kerja, mengerjakan cerpen ku untuk mading kampus dan menyelesaikan editan photo untuk liputan majalah fashion, seharian penuh aku bekerja hingga menjelang pukul 3 pagi. Selanjutnya aku kerja di butik sore hari, dan sore itu juga berangkat menuju perjalanan naik gunung. Oh, aku pun lupa sepertinya aku belum makan. Owh, perutku terasa perih sekarang. Sungguh menyiksa.
“ Jo!Johansyah!” panggilku pelan, aku benar-benar lemas saat itu. Kepalaku sedikit berkunang-kunang. Sebelumnya aku pernah naik gunung 3 sampai 5 kali, tak pernah ku alami hal seperti ini sebelumnnya. Oh, tidak. Jo sudah tak tampak, posisiku berada di tengah, rombongan yang lain ada di atas dan yang lain lagi ada di belakang cukup jauh. Oh, tidak.
“ Brugg….Owh! Jo!” aku memanggil Jo, entahlah apakah dia mendengar atau tidak, Kakiku terperosok ke dalam lubang jurang. Sepertinya aku bakal jatuh jika ranselku tak tersangkut, oh tidak!.
“ Anggita!” Kulihat Jo berlari ke arahku dan melepas tasnya.
“ Pegang tanganku erat-erat!” Kata Jo sembari mengulurkan tangannya dan menarikku naik.
“ Kubilang juga apa, kamu kecapekan! Masih saja sok kuat,  kamu gak papa?!” Tanya Jo, dengan mimik muka yang khawatir.
“ Pucat banget wajahmu Ang!Dah mo maghrib juga, kita istitahat di sini aja ya.” Jo benar-benar cerewet.
“ Aku tak apa. Lanjut aja yuk.” Kataku mencoba bangkit. Dan,
“ Ouw…” Aku sedikit oleng , dan akan jatuh, jika Jo tidak mencengkeram lenganku.
“ Dasar keras kepala! Istirahat dulu di sini, Liat kakimu!” Jo menyandarkanku pada dinding tebing, dan memegang pergelangan kakiku.
“ A..aku…” aku bersiap mengatkan Aku baik-baik saja.
“ Diamlah, aku akan mengurusmu beruang gembil! Aku memaksa!” Kata Jo, galak.
“ Baiklah, karena kau memaksa, hehe!” aku meringis menahan sakit karena Jo mengurut pergelangan kakiku yang keseleo.
Akhirnya kami tak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Hanya mendirikan camp di dekat pos 2, sementara puncak masih nun jauh di sana ada di pos 6. Jo tidur diluar tenda hanya dengan matras dan sleeping bag, kasian, pasti dia kedinginan. Paginya aku dan Jo turun pelan-pelan dan kembali ke kota, dia mengendarai motor dengan mata yang sangat mengantuk, kasian Jo, maafkan aku Jo!
“ Ang, ngantuk banget neh!” kata Jo, mengeluh.
“ Aku juga! Heh, kamu gak boleh ngantuk” Kataku keras.
“ Owwww, sakit! Ow..ow, argh, mataku terbuka lagi!” kata Jo yang kesakitan karena aku mencubitnya.
“ Haha, gak jadi ngantuk? Yes berhasil!Bersiap-siaplah untuk cubitan selanjutnya kalo kamu masih ngantuk.” Aku tertawa jahil.
“ Iya-iya. Gak sekalian aja mataku dilakban biar gak melorot nek mataku.” Kata Jo senewen.
“ Hey, ide bagus, ayo berhenti di toko depan beli lakban!” Kataku sok serius.
“ Gila! Tega banget si!Jahat.” Kata Jo manyun.
“ Hahaha, kan kamu yang minta tadi!” Kataku.
“ Hemm, ngoceh terus ya Ang! Biar aku gak ngantuk!” Kata Jo.
“ Benarkah, Siap Jo! Aku akan terus menerus biacara padamu! Siapkan telinga dan matamu Jo!” kataku tertawa.
Hari yang indah. Ketika bersamanya, nyaman sekali. Fiuh, baik dulu, maupun sekarang meskipun dia sudah mempunyai Hesti, rasa nyaman bersamanya tak pernah hilang.
***

 “ Ang, sibukkah? ” Tanya Jo lewat handphone. Sepertinya ia sedang bersama teman-temannya, tampak sangat berisik.
“ Hemm, aku kan emang sibuk terus. Ada banyak pesanan dari luar kota. Kenapa Jo, Tapi aku akan selalu meluangkan waktu untukmu Jo, gak gratis lho, haha.” Kataku cerewet dan tertawa.
“ Hemm, gak jadi deh! Ang, maaf selalu menggagumu, ya sudah aku akan menutup telponnya.” Kata Jo, lesu.
“ Hey, Jo? Ehmmm. Butuh secangkir kopi, nanti malam ke rumah, aku menunggumu. Hati-hati mengemudi. Sampai ketemu nanti. Daaaa!” Kataku langsung menutup telpon. Aku tau dia pasti akan datang.
***
“ Tok..tok..tok…” Suara pintu ruang depan diketuk dengan pelan.
“ Iya sebentar.” Aku berteriak kencang dari dapur.
Segera kumatikan kompor yang baru selesai kugunakan memasak capcay dan menanak nasi. Dua cangkir kopi telah kuiisi dengan satu sendok makan kopi hitam, dua sendok makan gula dan dua sendok makan susu bubuk, masih belum kuseduh dengan air panas, aku masih menunggu Jo. Perlahan kulepas celemek dan berjalan menuju ruang depan untuk membuka pintu. Benar, dia berdiri bersandar ditembok depan rumah, tampak melamun, tak menyadari aku telah membuka pintu.
“ Eh, Hay.” Tanya Jo, sedikit kaget.
“ Oh, kupikir gak jadi datang.” Aku pun baru sadar kalau mataku terus menatapnya.
“ Masuklah!” Aku membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Jo masuk ke dalam.
Seperti biasa, ia segera duduk di sofa panjang ruang tengah, kali ini dia tak langsung menghidupkan televisi, dia berbaring dan menutup wajahnya dengan lengan coklatnya yang berotot, dia tampak lelah. Aku masuk ke dapur dan menyeduh kopi yang telah kusiapkan tadi.
“ Kopimu!!” Kataku sembari menyodorkan secangkir kopi yang uapnya mengepul ke wajah Jo. Jo bangkit dan mengambil kopi panas itu, memegangnya dan mencoba mengalirkan kehangatan itu ke tangannya.
“ Ada masalah?” aku bertanya pelan-pelan.
“ Hemmm, gak dijawab juga gak papa kok! Kamu pasti belum makan, aku baru melesai masak, ayo makan!” Aku menatapnya. Tapi dia masih diam, membiarkan uap panas kopi mengenai wajahnya yang ehemm, sedikit tampan. Oh tidak, kegilaanku mulai kambuh lagi. Aku mengalihkan wajahku dan bergegas ke dapur menyiapkan piring dan perlengkapan makan.
“ Jo, jangan melamun ditu dong. Tahu gak, kemarin ada yang meninggal di gang depan sana lho! Gara-gara kebanyakan melamun!” Kataku.
“ Benarkah, jangan bilang kalau itu ayam, hemm.” Jo menjawab pelan, tepat dibelakangku. Aku terhenti, terdiam sejenak.
“ Aku cuma mo hibur kamu Jo, gak lucu ya? Hehe” Aku sedikit kikuk menjawab pertanyaannya. Aku masih membelakangi Jo.
“ Jo, kamu, ngapain? Jo?!” Dia memelukku, menyandarkan kepalanya dibahuku. Oh tidak, ini salah. Jangan kau perlakukan aku seperti ini Jo.
“ Ang, aku lelah. Biarkan aku begini sebentar, kumohon!” Sepertinya dia benar-benar sedang banyak pikiran, oh Jo.
Aku tak bisa menolak. Kami terdiam beberapa saat, berkutat dengan pikiran masing-masing. Oh, shit. Aku memegang tangannya yang erat melingkari pinggangku. Kurasakan detak jantungnya berdetak terlalu kencang, seperti itu jugakah jantungku. Oh, tidak, jantungku berdebar-debar. Apa yang harus kulakukan, ini sangat tidak biasa, aku tak bisa mengontrol perasaanku. Johansyah, jangan sampai Jo tahu kalau jantungku berdetak begitu keras. Jangan sampai Jo tahu tentang perasaanku yang ku simpan dalam-dalam. Aku mengabaikan keinginan untuk memelukmu ketika kita bersama, tapi justru kini kau yang memelukku. Argh, aku terjebak dalam situasi yang seperti ini.
“ Ayo makan, aku laper banget.” Suaraku memecah keheningan. Aku melepas tangan Jo, dan bergegas membawa piring-piring itu ke ruang tengah.
“ Hei, gak pengertian banget sih, bantuin dong?” Aku menatap Jo, yang masih tak bergeming dari tempatnya. Ia pun mengambil mangkuk nasi dan buah-buahan yang ada di meja, lalu membawanya ke ruang depan.
“ Hemmm, sepertinya kita perlu menghidupkan televisi, aku belum menonton berita di Televisi hari ini.” Aku hanya ingin memecah keheningan diantara kita. Setidaknya suara televisi akan sedikit menetralkan suasana. Aku dan Jo makan dengan pelan, tak ada suara darinya. Hanya aku yang sesekali memberi komentar atas acara televisi, dan Jo tetap khusyuk dengan makanannya. Sama sekali tak menatap wajahku.

***

Jo berjalan menyusuri apartemen tempat tinggal Hesti, dia membawa seikat bunga mawar merah, hari itu hari jadi mereka. Tepat sebelum ia memasuki lorong depan kamar Hesti, ia melihat Hesti bersama seorang pria. Mereka bergandengan tangan. Rasio positif Jo masih bekerja, dia tahu bahwa Hesti memang punya banyak teman pria. Hesti yang cantik, manja, dan menggemaskan. Pantas untuk disukai oleh banyak pria, dan memang banyak sekali pria yang menyukainya, nahkan banyak yang jauh lebih tampan dari Jo. Jo merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan gadis secantik Hesti.
“ Ngapain masih mo jalan ma Johansyah? Dia arogan dan sok sibuk kan? ” Pria tampan yang bersama Hesti berkata pelan, tangannya memegang tangan Hesti.
“ Hemm, jangan gitu dong! Aku sayang Jo, tapi aku lebih cinta kamu. Makanya jangan suka menghambur-hamburkan uang, mungkin aku akan benar-benar kembali seutuhnya kepadamu . Meski arogan dan sok sibuk tapi dia jauh lebih mapan keuangannya dibanding dirimu!” Hesti tampak berbicara panjang lebar pada pria itu.
“ Kamu licik banget sayang! Tapi pesonaku tak tergantikan oleh Jo kan? Sampai sekarang pun kamu masih tak bisa lepas dariku, Hemmm. ”  sebuah kejadian yang membuat sesak dada Jo.
Laki-laki itu merangkul Hesti dan menciumnya, tepat di bibir merah Hesti yang merona. Didepan mata kepala  Jo, meski hanya melihat dari kejauhan, Jo mampu mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi antara Hesti dan pria tampan itu. Bunga mawar merah itu terjatuh dan lepas dari cengkeraman Jo yang kuat. Jo berjalan pelan menuju Hesti dan pria itu.
“ Ternyata secantik itu kebrengsekanmu Hes!” Suara Jo mengakhiri ciuman mesra mereak. Mata elang Jo tajam menatap dua manusia yang gelagapan di depannya. Wajah Hesti pias, merah padam.
“ Jo, jangan salah paham, dia hanya….” Hesti berusaha menjelaskan kepada Jo.
“ Argh, beruntunglah aku melihat semua ini. Bodohnya aku, semudah itu jatuh padamu dan semudah itu pula kau perdayai aku. Brengsek lho Hes!” Jo benar-benar marah, dia berlalu pergi.
“ Jangan salah paham Jo! Dengarkan dulu, dia cuma sahabatku, kita lagi latihan acting, Jo, kumohon. Jo!” Hesti mencoba menghentikan Jo.
“ Diam! Jangan sampai aku mencabik wajah cantikmu itu Hesti. Kumohon pergilah, Jangan pernah muncul lagi dihadapnku!” Jo benar-benar marah, dia membentak Hesti, kasar. Jo terlanjur sakit hati. Dia selama ini begitu mencintai Hesti. Apapun Jo lakukan demi gadis cantik itu. Tapi, justru seperti ini yang Jo peroleh. Jo yang malang, Jo yang tak bisa mengenali cinta yang sesungguhnya, cinta dalam diam yang tak pernah ia tahu, cinta yang masih tersimpan rapat untuknya.
***

 Senja hari yang mendung, awan gelap tampak di ufuk barat. Aku berjalan menyusuri jalanan kampus. Menanti bis yang biasanya melintas di depan butik kecilku, setengah jam cukup untuk mendengarkan musik-musik lawas dari radio kesayangan. Aku duduk dibagian tengah bis, bersyukur dapat tempat duduk. Menyaksikan banyak wajah kelelahan setelah seharian bekerja, belajar atau entahlah. Semuanya tampak ingin segera kembali ke rumah masing-masing untuk merehatkan badan. Tapi aku masih ingin menikmati perjalanan.
“ Duh, penuh banget si bisnya, bikin gerah!” Seorang gadis berbicara pada temannya.
Temannya hanya mengangguk dan kembali berkonsentrasi dengan pegangan tangannya. Saat-saat seperti ini, kecepatan bis bisa berubah drastis, kadang “ngerem” mendadak atau menikung tiba-tiba.
Aku masih duduk termenung. Belum kuberikan kursi ini pada orang lain yang tampak membutuhkan, hehe. Karena semua penumpang yang ada di dalam bis masih muda-muda. Tepat di depanku ada dua orang pria muda yang berpenampilan aneh dengan kacamata hitam dan topi.
“ Sok ngartis banget deh, Huh”. Rutukku dalam hati.
Dipemberhentian selanjutnya ada beberapa penumpang yang turun, tapi yang masuk ke dalam bis justru lebih banyak, ada seorang nenek sepuh dengan rambut beruban tampak kebingungan mencari tempat duduk. Beliau berusaha mencari pegangan, naas tak satu pun pegangan tersisa, kondektur bis hanya membiarkan si nenek tersungkur kesana kemari.
“  Duh gak ada perasaan banget sih jadi laki-laki.” Masih dalam hati.
“ Bu, Bu, silahkan.” Aku bangkit dan mencolek lengan si nenek, meminta si nenek untuk duduk di bangkuku. Sedikit perjuangan untuk berdiri karena memang benar-benar penuh. Nenek itu pun merangsek mundur pelan-pelan, sembari memegangi lengan penumpang lain.
Tapi tiba-tiba, pria berkacamata hitam yang tadi berdiri di depanku hendak meraih kursi yang baru kutinggalkan.
“ Eh mo ngapain mas, ini buat Ibu itu” Kataku sedikit sinis kepadanya.
“ Mana?” Tanyanya sok gak tahu. Aku menunjuk nenek yang sedang berjalan ke arahku.
“ Maaf nak, permisi ya, makasih ya nak ya” Kata si nenek yang sudah ada di depanku.
“ Iya Bu, silahkan.” Kupegangi lengan nenek tersebut dan segera menggeser si pria berkecamata untuk beralih dan berdiri lagi.
“ Makanya mas, kacamatanya dibuka!” Kataku pada pria berkacamata yang menyebalkan itu. Huh, jadi senewen sendiri aku.
“ Mari Bu, saya duluan.” Aku menyapa nenek tersebut sebelum aku turun dipemberhentian terdekat dengan kontrakanku.
“ Trimakasih ya nak, hati-hati.” Kata si nenek, tersenyum ramah.

Aku berjalan santai. Hari masih sore, walau langit tampak mendung tapi suasana langit tetap cerah ceria. Aku  mlewati lapangan basket yang ramai, tampak banyak laki-laki dan beberapa gadis-gadis berbadan tinggi tegap sedang bermain basket. Ada juga yang hanya melakukan pemanasan, bahkan yang diam-diam berduaan di sudut lapangan. haha. Lucu dan menyenangkan melihat mereka. Aku masih berjalan santai melewati rerumputan hijau yang terhampar luas, sedikit menengadah ke langit memastikan masih ada warna biru yang patut ku kagumi indahnya. Tapi yang ada justru titik-titik hujan, sedikit gerimis menetesi langkah. Semeter kemudian titik-titik itu berhenti berjatuhan. Aku masih menunduk lesu ketika beberapa orang yang bersepeda motor berhenti dan memandang langit dibelakang gedung.
“ Wouw, bagus banget langitnya.” Seorang gadis bicara kepada temannya.
“ Mana-mana? Oh hooh, wah, jarang-jarang lho bagus banget kaya gini langitnya.” Temannya menimpali.
Sedikit ragu, aku mendongak. Ternyata dilangit sebelah utara tampak dua lapsi pelangi, entahlah sepertinya aku pernah melihat ini. Ehmmm, di mimpikah, entahlah aku lupa. Di ufuk barat mega merah senja bersinar cemerlang, awan kelam sedikit menggumpal seperti bulu-bulu domba mungkin sudah penuh dengan uap air yang siap dijatuhkan ke bumi sebagai rintik hujan yang segar. Warna-warna itu berpadu padan, meningkahi langit yang nampak suram. Hemmm, indah sekali.
***

Aku sudah sampai di rumah. Justru lamunanku kembali pada dua malam sebelumnya. Malam saat Jo sedang lesu di kontrakanku. Senyap menggerayangi malam, hanya ada bunyi jangkrik dan jam yang berdetak, bagiku ini terlalu senyap. Jo menyesap kopinya.
“ Ang, bolehkah aku bicara?” Tanya Jo, matanya masih menerawang, menatap kosong ke arah halaman.
“ Hemmm, katakanlah!” Aku pelan.
“ Kamu pernah mencintai seseorang, sampai rela melakukan apapun untuknya?” Tanya Jo.
“ Hah, apa? Kok tiba-tiba tanya gitu?” Aku masih terheran.
“ Kumohon jawablah!” Pinta Jo.
“ Hemmm, tentu. Aku mencintai seseorang, apapun akan kulakukan untuknya jika aku bisa, aku tak meminta ia untuk tahu atau membalas cintaku, cukup dengan melihatnya tersenyum dan bicara padaku, aku tetap mencintainya.” Aku memandang Jo.
“ Benarkah? Siapa dia?” Tanya Jo, matanya beralih memandangku.
“ Hemmm, Mungkin! Cukup, Kembali ke persoalanmu.” Potongku cepat.
“ Kau tahu aku mencintai Hesti, aku mencintainya…” Kata Jo.
“ Aku sangat tahu itu! Kau begitu mencintai Hesti, hingga kau rela pulang dari Surabaya ditengah-tengah rapatmu yang penting karena Hesti terkilir saat jatuh dari tangga, dan ternyata itu tidak parah. Kau meunggunya setiap malam untuk memastikan Hesti pulang dengan aman, tanpa Hesti ketahui.  Kau, begitu mencintainya.” Kataku lirih.
“ Dia tak mencintaiku Ang.” Jo pelan
“ Hah, Apa?” Aku kaget
“ Dia hanya menginginkan uang, dia tak sungguh-sungguh mencintaiku. Aku melihatnya, aku melihat dia bersama pria lain. Mereka berciuman, tepat didepanku.” Jo semakin lesu.
“ Oh, God! Kau yakin itu Hesti? Oh, tidak, aku masih sulit mencerna kata-katamu Jo.” Aku syok.
“ Masa sih Jo, aku masih gak percaya. Setahuku dia sangat mencintaimu. “ Aku benar-benar syok.
“ Dia hanya berpura-pura. Aku bodoh selama ini mempercayainya. Sudahlah, tak perlu dibahas, aku free sekarang, Arghhhhhhhhh. Masih banyak hal yang harus kupikirkan, selain Hesti.” Kata Jo, dia sedikit tenang dan lega.
“ Haruskah aku bicara pada Hesti, Jo?” Aku bertanya pelan.
“ Cukup Ang. Aku ingin sendiri dulu. Oke, cukup ada kamu sebagai sahabatku.” Kata Jo yakin.
“ Hah, baiklah. Hemm, bagaimana kalau besok lusa kita jalan-jalan ke pantai, refreshing Jo, lupakan semua masalah kita dan bersenang-senang, gimana?”  Kataku meminta Jo.
“ Hemmm…..” Jo masih ragu.
“ Baiklah, pastikan kau tak punya agenda Ang, aku memang butuh udara segar. Hufth, leganya, akhirnya aku jomblo, hahaha. Bantu aku cari pasangan lagi ya, hemm, yang kaya kamu, minimal bisa bikin kopi. Haha.” Jo tampak kembali sumringah.
“ Hah, kau gila.. Ah udah-udah, seorang Johansyah yang duitnya banyak dan cakep gitu masa gak bisa gaet cewek lagi, haha. Siap-siap lusa kita maen ke pantai oke. Sana pulang dah mo pagi ini.” Aku mendorong Jo keluar rumah.
“ Argh, aku kan baru saja patah hati, dihibur dong! Malah diusir.” Kata Jo, protes.
“ Iya, tapi bukan berarti tinggal semalaman dirumah gadis lajang kan? Sana pulang! Aku sudah menemanimu makan, ngopi dan melamun, kau sudah baikan sekarang. Masa cuma ditinggalin cewek gitu aja letoy. Semangat!” Kataku panjang lebar.
“ Hemmm, ya-ya, aku pulang, ku pastikan esok bakal dapet gadis yang sebaik dan sepintar kamu Ang.” Kata Jo pergi.
“ Buktikan itu! aku akan memverivikasinya dulu sebelum benar-benar jadi kekasihmu. Haha, Daaaa, selamat di jalan Jo.” Aku meneriakinya yang mulai melaju dengan motor kesayangannya.
***
Tanpa sepengetahuan Anggita, Jo menyadari sesuatu yang selama ini tersimpan rapi disembunyikannya. Jo melajukan motornya dengan pelan, ia masih memegang buku kecil di sakunya. Buku berwarna merah hati yang tak sengaja ia lihat di dekat meja televisi saat Anggita berada di dapur. Ia belum pernah melihat buku itu, melihat halaman awal yang bertuliskan Jo dan Anggita. Ia langsung mengantonginya. Kali ini Jo menepikan motornya, diterangi lampu jalan yang remang-remang Jo membaca buku itu. Membuka halaman demi halaman, sekilas. Berhenti pada satu halaman, Jantungnya seketika berdegup begitu keras.
“ Kalau akau mengatakannya, reaksi apa yang akan kau berikan? Apakah kau akan menerima pengakuanku?? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau masih akan menatapku seperti ini? Atau apakah justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku.”
Senyum itu, mata sipit itu, sikap arogan itu, membuatku terbiasa disampingmu.
Johansya Ramadhan, maafkan atas perasaan ini.
Aku tahu, meski aku memanggilmu, aku tahu kau takkan pernah mendengar itu, tapi aku tetap saja memanggilmu.
Ya Rabbi, maafkan aku ya Alloh, mencintai sahabatku sendiri.
Mata Jo merah. Entahlah, perasaan apa yang sekarang berkecamuk di dalam hatinya. Ingatan Jo melayang ke masa lalu. Saat-saat bersama, Jo mengingat-ingat apakah ada kenangan tentang Hesti bersamanya? Tidak, justru yang muncul berkelebat adalah senyum Anggita, sahabatnya yang selalu ada saat Jo membutuhkannya, diminta atau tak diminta Anggita ada di sisi Jo. Saat naik gunung, saat mengirimkan bantuan untuk acara baksos, saat minum kopi, saat kulia. Argh kenapa Jo tak menyadarinya. Selama ini orang yang selalu ada disampingnya bukan Hesti tapi Anggita.
Anggita yang membuatnya marah, tersenyum jahil, iseng dan menangis.
Tuhan,
Anggita kah yang selama ini selalu kurindukan,
Anggita kah yang selama ini selalu mengisi hari-hariku.
Anggita, tahukah kau kalau perasaan ini pun telah ada sebelum Hesti datang, justru kedatangan Hesti yang telah membuat perasaanku terhadapmu kabur, tak menentu.
Tak terasa air mata meniti pipi jo yang berahang keras, dia membiarkan Anggita menunggunya semalam suntuk karena sebuah tugas. Jo yang membuat Anggita kehilangan pekerjaannya sebagai pegawai butik. Jo yang membuat Anggita sakit saat mereka pergi ke gunung. Argh, Johansyah kau memang tak peka sama sekali. Dia memukul kepalanya sendiri. Kali ini Jo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, jalanan sepi menjadi pelampiasan atas perasaannya yang tak menentu. “ Bodohnya aku.” Jo merutuki diri sendiri.
***

 Seminggu kemudian.
“ Di mana bukuku? Aduh, kok gak ada sih. Argh, kemarin tak taruh di sini kok gak ada ya??” Anggita kelabakan mencari buku kecilnya.
“ Halo,” Jo menelpon Anggita.
“ Hay, hemm, aku lagi nyari barang neh, telponnya nanti aja ya!” kata Anggita masih mengobrak-abrik lemarinya.
“ Apaan sih? Aku cuma mo ngingetin, besok kita jadi ke pantai kan?” Kata Jo ceria.
“ Oh iya, aku lupa. Hooh, jadi-jadi, perlu bawa bekal gak? Argh, gak ketemu juga. Nyebelin, nyebelin!” Kata Anggita masih tak bergeming dari tempatnya mencari buku.
“ Haha. Iya dong bawa bekal yang banyak dan enak, ok! Oh ya, besok kubantu deh! Pasti ketemu kalo aku yang nyari! Percaya deh! “ kata Jo yakin.
“ Pede banget sih! Emangnya kamu tahu, aku nyari apa?” Tanya anggita
“ Tahu dong!” Jawab Jo, sok yakin.
“ Yakin banget!” Anggita tersenyum ragu.
“ Jangan ngremehin Johansyah!” Kata Jo
“ Hahaha. Baiklah, akan kuberikan apapun kepadamu, jika behasil menemukannya! Haha, jangan sia-siakan itu Jo!Haha, udah ya, aku mo berangkat ke butik. Daaaa, sampai Jumpa besok Jo!” potong Anggita cepat.
“ Daaaa.” Kata Jo.
“ Aku memintamu untuk selamanya bersamaku, Ang!” Kata jo setelah telponnya terputus.
***
“  Selamat pagi Ang!” Sapa Jo. Pagi sekali ia datang ke kontrakanku.
“ Argh, Pagi banget dah dateng! Ntar ya, aku tidur 1 jam lagi. Hoammm.” Aku baru saja bangun dan hanya membuka jendela kamar supaya udara segar bisa masuk, tapi Jo justru sudah datang.
“ Perjalanan ke pantai butuh waktu 2 jam, aku gak mau mati kepansan di jalan, gara-gara kamu bangun kesiangan. Ayo bersiap!” Kata Jo memerintahku.
“ Argh, hoahm!” Aku menyerah dan segera bergegas mandi dan bersiap. Aku meletakkan beberapa bekal yang telah kusiapkan malam tadi.
“ Argh, aku masih ngantuk.” Aku masih saja menguap.
“ Kamu kan dah mandi, masih saja nguap lebar, kaya Buaya!” Jo mengetuk kepalaku sembari menyesap kopi panasnya.
“ Auwww, sakit tau. Huh!” Aku mengeluh berkali-kali.
“ Siap! Ayo berangkat.” Aku memasukkan bekal dan beberapa pakaian ke dalam tas besar.
Jo membawa Kijang Innova berwarna merah marun, entahlah dia belum pernah membawa mobil itu sebelumnya, mungkin pinjam dari kakaknya. Sepanjang perjalanan kami mengenang masa lalu, cerita-cerita terdahulu ternyata menguras banyak energi untuk tertawa, benar-benar nostalgia.
***

Suara debur ombak telah tercium dari jarak 300 meter, langit biru yang menghampar, tegalan dengan tanaman jagung dan ketela, rerimbunan pohon jati. Dan akhirnya, tampak pandan-pandan besar menjulang tinggi, laut biru, debur ombak yang putih dan tebing-tebing karang yang menjulang, kolaborasi yang sangat indah. Benar-benar memukau, rasanya segar sekali.
“ Welcome to the beach!Hemmmm segarrrr!!!” Aku masih terkagum-kagum dengan keindahan pantai. Setiap kali ke pantai setiap kali itu juga kekagumanku akan terulang, takkan pernah hilang.
“ Hemmm, sejuk banget!” Jo menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan oksigen akan segera habis jika tak segera ia hirup.
Indahnya pantai pasir putih, debur ombak yang dingin, meski matahari begitu menyengat tapi tak membuat langkah-langkah mereka terhenti. Masih berjalan menyusuri pasir-pasir yang putih. Aku dan Jo berlari mengejar debur ombak yang menyusut, lalu berlari lagi menghindari debur putih yang mendekat lagi. Jo menyeretku masuk ke ombak, berlarian dengan badan basah, wajah penuh pasir, tapi kami tertawa bahagia, sepertinya semua masalah terlupakan, disapu ombak, semua kegelisahan itu sirna seketika.
“ Hey, aku boleh ngomong gak?” Kata Jo, sok serius.
“ Apa sih, serius banget!” Aku masih cuek, dan khusyuk dengan sandwich bekal yang kubawa dari rumah.
“ Kamu gak capek po Ang?” Jo masih memandangku.
“ Capek ngapain? Hemmm, enak, mau?” Aku mengunyah dengan potongan yang besar. Dan menawarkannya pada Jo.
“ Heh, liat aku! Kamu bener-bener gak capek Ang?” Kata Jo semakin serius. Aku baru saja mau bilang apaan sih kamu. Tapi Jo buru-buru berkata.
“ Kamu gak capek ya berlari-lari dipikiranku terus!” Wajah Jo tersenyum jail.
“ Haha, gombal! Gak mempan gombalanmu ma aku Jo!” Aku bersiap mencubit pinggang Jo. Tapi tangan Jo memegangi dua tanganku. Dia menatapku lekat-lekat. Duh, ngapain sih ne orang bikin nervous aja.
“ Ngeliatnya biasa aja deh.” Aku benar-benar salah tingkah. Jo justru ngakak.
“ Hahahaha, kamu pikir aku mo ngapain coba, gak usah mbayangin yang gak-gak deh. Kebanyakan noton film korea sih kamu. Haha.” Jo ketawa cekikikan, sambil memegangi perutnya.
“ Sialan, Jo!” Jo berlarian, dan aku mengejarnya, kami benar-benar seperti anak kecil yang sedang bermain-main.
Siang hari berlalu begitu cepat, secepat ini rasanya waktu terlewati saat bersamanya.
“ Udah sore neh, sana mandi, po ngapain kek. Aku mo beli sesuatu, untuk persiapan ntar malam.” Kata Jo, dia bersiap pergi.
“ Ngapain? Trus mo kemana? Trus, kamu ninggalin aku sendiri gitu. Ntar kalo ada tsunami gimana? Kalau aku diculik gimana? Kalo kamu gak balik aku pulang ma siapa? Ntar…” Aku masih mau melanjutkan saat jemari telunjuk jo menyentuh bibirku. Duh, mati aku, gelagapan.
“ Aku bakal balik ke sini kok, gak bakalan ninggalin kamu Ang! Daaa, pipimu ehmmm, enak dicubit, haha.” Jo mencubit pipiku dan pergi dengan mobilnya.
“ Sialan, jangan lama-lama ya! Daaaa.” Sadarkah dia dengan perubahan rona wajahku. Aku melambaikan tangan kepada Jo.
Sore hari di tepi pantai. Aku berjalan-jalan sendiri, melihat banyak pasangan muda dan berkeluarga yang ada di pantai itu. Ramai tapi tak terlalu ramai. Berbekal kamera poket usangku, aku menaiki bukit karang yang mudah kujangkau, di sana ada beberapa bukit karang dari yang terjal hingga yang cukup landai sehingga bisa dilewati. Aku memilih bukit karang yang landai tapi tetap bisa melihat matahari terbenam.
Warna biru itu tampak menyatu disuatu belahan selatan sana, tampak biru laut yang sedikit gelap dan biru langit yang cerah menyatu seperti ada garis yang memisahkan keduanya. Di sebelah barat, mega senja tampak menguning kemerahan, sinarnya membuat mata menyipit. Angin laut menerpa wajahku, membuat perasaan segar dan gelisah menjadi satu. Buih ombak putih, mengenai pipi dan tak sengaja nempel di bibir, pas dijilat asin. Hehe.
Ini sudah lepas maghrib, aku baru saja duduk di beranda tempat kami menginap, sambil menyesap God Day Coolin yang bikin tenggorokan cool banget. Mataku bmenyapu pandang melihat para pemuda-pemudi yang bermain gitar sembari tertawa, mengelilingi api unggun kecil yang menyala-nyala menimbulkan percik-percik bara merah yang indah, tampak di kegelapan malam.
“ Permisi, ini benar mbak Anggita?” soerang Bapak berkumis tebal datang menemuiku.
“ Eh, iya pak. Ada apa ya?” Aku sedikit terkejut.
“ Ini ada kiriman dari seseorang.” Si Bapak berkumis menyerahkan kotak kado yang berwana pink dengan gambar bunga mawar merah.
“ Dari siapa ya pak, eh pak, pak, weh malah pergi.” Bapak berkumis itu langsung pergi setelah aku menerima bungkusan kado itu.
Aku masuk ke kamar dan membuka bungkusan kado cantik itu.
“ Oh, tidak!” Aku terpekik. Itu adalah sebuah gaun berwarna merah marun, sepatu Pantofel berwarna hitam dengan bunga merah diatasnya, dan liontin berwarna senada. Semuanya berwarna merah. Cantiknya.
“ Dari siapa ya? Jangan-jangan salah kirim.” Aku masih merasa penasaran dan tak tahu itu benar untukku atau tidak. Ternyata ada sebuah kartu berwarna merah, benar-benar merah.
“ Bersiaplah, aku menunggumu selepas isya. Ikuti lilin disepanjang jalan, jangan sampe nyasar, beruang gembil ^_^
Kenakan apa yang telah dikirimkan kepadamu, mengerti!”
“ Apaan sih Jo? Jangan-jangan dia mo jadiin aku tumbal, Oh Tidak. Tidak, tidak.” Pikiranku sudah mulai melantur kemana-mana.
Meski ragu, aku mengenakan gaun merah harti itu, hemm, sepertinya itu cocok untukku. Masih berkutat di depan cermin, tiba-tiba ada seseorang memanggilku.
“ Permisi, mbak Anggitanya ada?” Seorang perempuan setengah baya tiba-tiba ada di depan rumah panggung itu.
“ Oh iya Bu, saya Anggita, ada apa ya Bu?” Masih penasaran dengan Bapak berkumis tebal, kali ini datang Ibu-ibu, aku merasa aneh dan janggal.
“ Ini ada titipan dari orang mbak. Permisi ya mbak.” Si Ibu langsung “ngeloyor” pergi.
“ Eh, Makasih Bu.” Aku memegang seikat mawar merah. Wah siapa lagi ini. Haduw, perbuatan seseorang yang  benar-benar menakjubkan, masihkah dari Jo? Hemm, entahlah.Tak ada vas bunga. Aku meletakkan bunga itu pada botol aqua yang isinya tinggal setengah. Cantik sekali.
“ Drrrt..drrrrt..” Suara getar handphone ku, membuyarkan perhatianku pada bunga mawar itu.
“ Hey, cepatlah datang! Darahku hampir habis di sedot nyamuk!” Pesan dari Jo.
Aku menatap jam dinding. Ternyata sudah jam 08.00. Aku pun segera bergegas, berjalan keluar rumah, udara di luar terasa sejuk, angin bertiup pelan membuat rambut sebahuku beterbangan diterpa angin malam. Sengaja kugeraikan rambut yang biasa kukuncir. Hemmm, entahlah, kupikir supaya sesuai dengan pakaian yang kukenakan. Aku berkaca di jendela kaca depan rumah. Hemmm tidak buruk. Let’s Go!
Kupikir pesan tentang mengikuti lilin itu tidak benar. Tapi ternyata benar, disepanjang jalan ada lilin yang menyala, sepertinya menuju suatu tempat. Aku berjalan pelan, dan berhenti tepat didepan tebing yang cukup tinggi, lilin-lilin itu tetap menyala karena ada pelindung disampingnya.
“ Kapan si Jo sempat bikin kaya gitu?” Kataku dalam hati.
Pelan-pelan aku menaiki tebing karang itu, mulanya sedikit ragu, tapi aku tetap mempercepat jalanku. Terbiasa berjalan cepat dengan celana kolor atau jeans, gaun selutut itu tak membuat langkahku lambat. Aku kembali berhenti, di depanku nampak sebuah gubug dari bambu. Hemmm, ada banyak lilin disitu. Tapi di mana Jo, dia tak kelihatan.
“ Argggghh!” Aku menjerit keras, ketika dari belakang ada seseorang yang menutup mataku dengan kedua telapak tangannya yang besar.
“ Hei, ini aku, jangan berteriak, nanti dipikir kita lagi ngapain.” Jo masih menutup mataku.
“ Ngapain sih Jo?” Aku bertanya.
“ Tetaplah berjalan, pelan, hati-hati!” Jo menuntunku pelan-pelan.
“ Sampai.” Jo membuka telapak tangannya. Membiarkanku melihat indahnya langit hitam yang penuh kerlap-kerlip malam. Dan, saat membalikkan badan aku melihat lilin-lilin yang disusun rapi dengan indah, membentuk sebuah lengkungan tanda Love.
“  Wouw ” Aku melongo melihat apa yang ada di depanku.
“ Bolehkah Aku memintamu untuk membersamaiku selamnya Ang?” Tulisan itu ada di dalam lengkungan Love dari lilin-lilin yang menyala.
“ Mungkin selama ini aku menutup mataku, membiarkan seorang bidadari disampingku terabaikan begitu saja!” Jo menatapku lekat-lekat.
“ Jo…” Aku tak mampu berkata-kata. Entahlah, perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Aku hanya bisa tersenyum malu, mencoba menyembunyikan rona merah pipiku dan debar jantungku yang bertalu-talu.
“ Ehmmm, kau tahu Ang!” tanya Jo.
“ Apa?” Aku balik bertanya.
“ Tadi aku dapat sms “ Jo pelan
“ Hemmm, dari Hestikah?” Aku mencoba menebak.
“ Bukan.” Jo menggeleng.
“ Lalu?” Aku bingung.
“ Dari malaikat di langit, katanya satu bidadari yang ada di kahyangan hilang satu.” Kata Jo berwajah serius.
“ Maksudmu?” Aku berkerut serius
“ Bidadari itu kabur dari kahyangan dan sekarang ada di depanku.” Kata Jo tersenyum.
“ Hahaha, Jo!” Aku mencubit Jo.
“ Ouw, sakit Ang! Lagi dong, haha” Jo tertawa nakal.
“ Ih, genit!” Kataku sembari duduk.
Jo berjalan dan mendekatiku, dia duduk di bawah, memegang kedua tanganku dan menatapku, tajam, terlalu tajam. “ Shit, bener-bener bikin jantung mo copot ne orang. Argh.” Aku membatin.
“ Kamu ngapain Jo?” Kataku lirih.
Jo mengambil sesuatu dari balik jas hitamnya yang tampak elegan dan serasi dengannya. Ehemm, duh jantungku mulai deg-deg ser lagi, dibalik cahaya malam yang remang mata Jo semakin tajam, membuatnya semakin mempesona. Oh tidak kegilaanku muncul lagi.
“ Hey, kau terpesona dengankukah Ang? Kau menatapku terlalu lama, lihat air liurmu menetes.” Jo menyentuh ujung bibirku, dan tertawa jail. Aku menampik tangannya.
“ Ouwww, sakit!” Jo mencubit pipiku.
“ Jangan macam-macam kamu Jo!” Aku menatapnya dengan tatapan yang sinis.
“ Tenang-tenang, Argh, kau merusak suasana romantis ini Ang. Biarkan aku bicara sebentar 15 menit, hemmm 10 menit, Ok!” Jo memintaku untuk kembali pada topik utama kami.
“ Anggita, mungkin aku butuh kacamata. Kacamata yang bisa menembus hati seseorang, sehingga aku bisa melihat cinta yang tersimpan untukku di dalamnya. Maaf, tanpa seizinmu aku membaca buku kecilmu ini.” Jo mengeluarkan buku catatanku yang berisi semua tentangnya. Oh, tidak, aku tertangkap!
“ Jangan marah! Tanpa buku ini, mungkin aku tak pernah sadar. Menyadari bahwa kaulah yang selama ini ada disampingku, kapan pun aku membutuhkanmu. Kau yang selama ini menemani hari-hariku, membuat hariku berwarna seindah rona wajahmu saat ini. Ah aku pandai menggombal ternyata! Ehemm, baik aku tidak akan bercanda.” Jo sedikit kikuk,
“ Ah sudahlah, aku akan langsung masuk pada intinya saja. Aku mencintaimu Anggita Hapsari, Maukah kau menjadi pendampingku hingga akhir hayatku, bahkan kehidupan setelah matiku. Ang!” Jo benar-benar menatapku tajam, setajam mata elang yang siap menerkam mangsanya.
Mataku membulat. Aku tertegun seketika, tak tau apa yang harus ku ucapkan saat itu.
“ Aku harus menjawab apa?” Aku menjawab Jo dengan sebuah pertanyaan balik.
“ Jawablah sesuai dengan doa mu dalam diary kecilmu ini.” Jo menatap mantap.
“ Ehem, kamu dah tahu semuanya Jo! Yang selama ini aku simpan rapat-rapat. Selama ini, aku selalu berdoa semoga kau melihatku, karena aku ……. Aku mencintaimu Jo, dan Aku bersedia menjadi pendampingmu, selamanya.” Aku menjawab Jo dengan mantap.
“ Terima kasih Ang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. ” Sebuah kecupan manis itu mendarat mulus dikeningku. Oh, it really wanna make my herat jumped out and run away. God, You Make my wish really Happen, Now.
Diiringi alunan merdu jangkrik dan debur ombak, semilir angin malam menampakkan awan kelabu, bintang gemintang mengintip malu-malu, menatap dua insan yang sedang berikrar untuk meniti tapak-tapak jalan bersama, selamanya.
***

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke DIHAPUS PELANGI SENJA HARI

  1. fatimah berkata:

    n jangkrik said “amin”
    hahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s