SUROLOYO PART TWO: BUTTERFLY SESSION

SUROLOYO PART TWO: BUTTERFLY SESSION

Suroloyo, kembali lagi ke kawasan pegunungan yang ketinggiaannya hampir setara dengan merapi. Perekrutan anggota baru Arwana kembali dilakukan di tempat ini, daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1000 dpl. Berbeda dengan tahun lalu yang mengambil tema tentang Pterydophyta atau tumbuhan paku. Tahun ini kami mencoba mempelajari tentang kupu-kupu (Lepidoptera), tepatnya mengenali jenis-jenis kupu-kupu dan cara mengidentifikasinya. Jujur, kami memang belum matang sekali dalam hal pengetahuan maupun ketrampilan (buah kali, matang ) .
Berbekal pengetahuan yang minim, keingintahuan yang meletup-letup dan nekat pastinya. Kami memulai perjalanan dengan satu niat, belajar tentang kupu-kupu. Tidak terlepas dari keinginan setiap individu yang mungkin menginginkan untuk menggali informasi tentang objek biologi yang lain, tak ada larangan, justru itu sangat bagus, dan bisa dijadikan sebagai sarana saling berbagai informasi.

Perjalanan terpecah menjadi dua kloter, kloter pertama yang berangkat pagi (hemm, tepatnya menjelang siang , do tepat waktu banget soale ki), ada sekitar 14 orang (Dana, Rifqi, Aku, Beni, Ajiz,Fany, Putri, Rista, Phio, Wahab, Yani, Dian,Mekar, dan Galih). Di susul kemudian malamnya Mas Zul, Eko, Danu, Lutfan, Narto, Ayu, Abdu. Kemudian ada lagi teman-teman dari kakak angkatan: Mas Bayu, Mas Beni Dan Mas Andang, next masih ada lagi temen-temen kontrakannya Narto plus minggu paginya lagi di susul Shoim bareng satu temannya. Kalo dulu aku boncengan sama Dian, yang kayaknya cewek, ( hahaa, peace yan). Dian juga suka kebut-kebutan, nah kemaren itu dibonceng sama Rifqi, jyannn lek ngebut ra tanggung-tanggung. (Hedew-hedew, untung jantungku jih nemplok).

Well, para musafir alam ( jyahhh, opo yo lek nyebut haha, sak-sak e lah ya) yang berangkat pagi langsung menyusuri jalanan menanjak menuju bukit Suroloyo. Sebagai bekal alat dalam perjalanan ini telah dipersiapkan insect net sekitar 10 buah untuk menangkap kupu-kupu ( lumayan okeh ya ). Sistemnya, tidak semua kupu-kupu serta merta di tangkap. Maksimal 3 ekor setiap spesies, minimal 2 ( 1 jantan dan 1 betina), atau yang paling minim sedapatnya saja.

Kenapa kami berani menangkap kupu-kupu ?( Duh istilahe kok ra apik ya, pokoke kaya kuelah). Kupu-kupu, memiliki siklus hidup sekitar 2 minggu, pada umumnya ( ra kabeh lho ya cah ). Meskipun tidak ditangkap keberadaan kupu-kupu di alam pun nantinya akan mengalami fase kematian. Meskipun dilakukan penangkapan, sepanjang inang tempat hidup dan mencari makan kupu-kupu ( baik larva maupun dewasanya) masih tetap ada, maka keberadaan kupu-kupu masih tetap bisa dipertahankan. Penangkapan kupu-kupu ini tidak dilakukan terhadap jenis kupu yang dilindungi ( ncen ra nemu kok hehe).
Berikut ringkasan kronologinya, settingnya di bukit suroloyo, alurnya maju ( munggah mudun), hehe .

Teman-teman bergegas membawa insect net dan berjalan terlebih dahulu di depan. Sementara, Aku, Yani dan Wahab lebih memilih di belakang. Sepertinya berjalan ramai-ramai dengan kemungkinan akan bertindak berisik ( melihat latar belakang yang kayake kabeh do ceriwis ), sedikit kurang kondusif jika ingin mendekati kupu-kupu. Kupu-kupu biasanya tak suka di dekati dengan berisik ( tenang yo ra mesti iso oleh fotone kok yo). Kebetulan memang kami belum berniat menangkap kupu-kupu, hanya mmegambil gambarnya saja. Dan ajang mblusuk-mblusuk itu pun dimulai, berbekal kamera pinjaman dari temanku ( Eri, thanks ya, kamerane jih neng gonku, segera tak kembalikan).

Mulanya perjalanan sedikit melelahkan karena baru mendapatkan sedikit gambar, bahkan baru satu, Junonia hedonia.
“ Mendi iki, kok rung oleh jackpot?” keluh Wahab.
“ Hooh e, kok sepi ya…” jawabku, sambil mengelap keringat yang mulai bercucuran, fanas cuy.

Di sampingku ada Yani ( ehemnya Wahab, hehe) yang sepertinya sedikit kelelahan karena baru pertama kali naik gunung, tapi tampaknya menikmati perjalanan ( yo ra Yan, haha).
Tepat di depan sebuah rumah, ada sebuah tanaman duh apa ya namanya. Tanaman dengan bunga yang indah dan sedikit mencolok, di situlah kami memperoleh jackpot yang pertama.

“ Weh apik banget Mun, Ssst..” Wahab berseru, sembari menjepretkan kamera digitalnya kea rah si cantik itu.
“ Oh hooh, “ Aku pun bergegas pelan, menjeprat-jepret si Papilio memnon betina yang beautiful sekali.
“ Wah cantik banget” kata Yani.

Tidak ragu-ragu, jarak sekitar 10 cm dari si objek cantik satu itu membuat kami sedikit terkagum-kagum, harus ekstra hati-hati memfokuskan lensa kamera untuk mendapatkan gambar yang tepat, sedikit gemetar karena kecapekan, yups setidaknya dapat, satu gambar yang cukup jelas menampakkan corak sayap dengan warna yang cerah dank has papilionidae, mempunyai wing tail. Hehe. Seringkali si cantik ini terbang, lalu kembali ke bunga tersebut, mungkin dia memilih nectar mana yang terbaik yang harus dia hisap, kupu-kupu juga pilih-pilih maunya mencrok di mana.

Setelah cukup puas dengan first Jackpot, kami melanjutkan perjalanan selanjutnya. Kembali nguber-nguber jenis-jenis kupu yang lain, ada Lethe confusa, beberap jenis Hesperidae dan beberapa jenis Junonia. Sepanjang perjalanan tersbeut memang banyak sekali dijumpai Junonia, ada tiga jenis yaitu Junonia hedonia, Junonia Iphyta dan Junonia erigone, mantap deh. Sambil mblusuk-mblusuk ke kebun, mendongak-dongakkan kepala untuk menjangkau pandangan pada kupu-kupu yang mencrok di pohon yang tinggi atau ndlosor-ndlosor ke tanah bahkan tebing ( jyan perjuangan banget lah ya…asek-asek hehe).

Next jackpot yang sedikit bikin seneng tapi ragu juga, haha. Ada seekor kupu-kupu yang terbang mengitariku, sekilas warnanya hijau dan tidak terlalu besar. Ups hampir aja mencrok di wajahku yang chubby ini ( Owh tidak, ojo disedot ndak kemfes..haha).

“ Anteng wae Mun, anteng-anteng” kata Wahab di belakangku.

Masih menunggu momen men-shoot si kupu-kupu itu. Yani berada di depanku, masih menunggu setia ( duh senangnya jadi pacarnya Yani, ditunggu dengan setia..hahaha, ehemm). Aku masih berdiri tenang, sembari ancang-ancang menyiapkan tanganku ndak si kupu-kupu berminat mencrok. Tanpa dinyana-nyana, mak pluk, si kupu-kupu itu mencrok di tanganku beneran. Huaaaaaaa, seneng banget ( tapi sedikit kepikiran juga, perasaan tadi pagi udah mandi deh, duh ne keringat pasti bikin dia kepincut sama aku, hahaha, ckckckckc).

“ Sip, “ Wahab memotret sebelah kiri.

Dengan satu tangan, tangan kananku yang memegang kamera pun langsung pencat-pencet, jeprat-jepret mengabadikan momen bersejarah itu. Hahaha. Aseeek. Ternyata kupu-kupu tersebut adalah Polyura, karena sayapnya yangs sedikit rusak, berdasarkan penerawangan maksudnya idnetifikasi yang pas-pasan, sepertinya itu Polyura hebe. Berbeda dari yang pernah ku temui sebelumnya, ukurannya lebih kecil.

Merujuk pada artikel yang pernah ditulis mas Imam Taufiqurahman “ Cantik-cantik kok Jorok ”. (kui kupu-kupu lo cah, dudu aku, hahaha, ehem lanjut).

Kupu-kupu tidak hanya tertarik pada nectar bunga saja tetapi juga nutrisi di air seni, kotoran atau larutan garam, bahkan kaos kaki atau bangkai serangga. Bisa jadi mencroknya kupu-kupu ditanganku itu karena dia ( si kupu-kupu, Polyura hebe) mengindra adanya larutan garam yang berlebih yang dikeluarkan pori-pori kulitku, berupa cairan keringat. Karena memang pada saat itu memang benar-benar panas dan berkeringat, sweaty. ( haha, malah curhat). Berdasarkan sebuah referensi, ketika kupu-kupu menghisap nutrisi, dia menjulurkan probosisnya yang mirip dengan lidah panjang dan menekuk ke dalam ketika tidak digunakan. Ujung proboscis ini akan di lumuri oleh air liur atau berupa cairan dari kupu-kupu itu sendiri, untuk memudahkan menyerap nutrisinya dari objek yang ia serap. Dan tampaknya memang benar karena pada saat itu, ketika si Poly menempelkan ujung prosbosisnya pada pori-pori kulitku yang tampaknya tidak berair, tiba-tiba berair setiap kali ditempeli “lidah” si kupu-kupu ini.

Dua jackpot besar tadi mengawali pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan jenis-jenis kupu-kupu yang lain. Hingga kemudian, kami ( Aku, Yani dan Wahab) sampai di basecamp paling akhir, untuk kloter pagi.
Kemudian kami beristirat dan melanjutkan aktivitas mengidentifikasi.

Sedikit canggung dan belum trampil, karena memang ini baru pertama kalinya, tanpa ada pelatihan khusus atau pembimbing, sekedar tahu teori saja. Tiada rotan akar pun jadi, tak ada kertas papilot kertas HVS pun jadi, kertas itu digunakan untuk membuat lipatan segitiga guna menyimpan kupu-kupu sebelum diawetkan. Berdasarkan teori, mematikan kupu-kupu sebelum disimpan dengan kertas papilot bisa dilakukan dengan memencet thoraks si kupu-kupu. Padahal ini bisa merusak badan si kupu-kupu, bisa juga dimatikan dengan menusuk kepala menggunakan jarum. Tapi kami menggunakan teknik pertama, memencet thoraks kupu-kupu. Duh sebenarnya gak tega, tapi ya ditega-tegain. Tampak pula keamatiran kami dari cara memegang. masih belum tegas dan tepat, banyak sisik kupu-kupu yang kena jari-jari tangan sehingga sayap kupu-kupu rusak. Seharusnya memang ada alat seperti jarum pentul dan pinset (untuk memegang) dalam proses identifikasi jika mau menangkap kupu-kupu. Hemm, tak apalah, pengalaman pertama dan pelajaran untuk ke depannya. Semoga bisa lebih baik untuk proyek kita selanjutnya. Amin.

Setelah selesai menyimpan di dalam kertas segitiga dan memasukannya ke dalam toples, acara identifikasi juga dilengkapi dengan melengkapi gambar dan member keterangan dari gambar kerangka kupu-kupu yang sudah ada.

Acara dilanjutkan dengan ngobrolin pelem korea ( just for ladies), sementara yang cowok main kartu. Dengan kondisi remang-remang, dan sedikit gelap, hujan lagi ( jyannn, ra cocok karo impen banget).
Setelah maghrib, sembari menunggu teman-teman kloter malam tiba, kini giliran tim ladies yang main kartu. Ada Aku, Yani, Mekar dan Dian Sponges. Hemm, aku sendiri memang sudah pernah main kartu tapi tidak ahli, jarang sekali main kartu, memang tidak begitu tertarik. Tapi untuk mengusir kebosanan akhirnya main juga. Dengan konsekuensi, yang kalah bakal dicoret-coret mukanya pake bedak, nekat deh aku ikut. Al hasil KO beneran! (Jyan ra cocok karo impen banget , masih mengutip istilahnya ajiz). Kalah berturut-turut dan dapet make up penuh dari Dian, Yani dan Mekar. Terutama si Mekar yang paling antusias mencoretnya, (Asyemik, perlu balas dendam iki. Huhuhu).

Next session….

Acara yang sedikit formal akhirnya terlaksana setelah teman-teman kloter malam tiba. Sebelumya kami menyantap hidangan malam terlebih dahulu dengan tahu bacem, telur, sambel, dan sayur daun ketela yang disantan ada petenya pula, sedep banget. Sedikit terkantuk-kantuk dengan berbagai pertanyaan ini itu pada acara materi yang disampaikan oleh mas Zul aza-aza-aza, berjalan dengan lancar. Mendekati tengah malam acara ditutup dan dilanjutkan dengan istirahat.

Esoknya, perjalanan menuju puncak Euroloyo. Sembari menyaksikan matahari terbit, menimati udara pagi di atas awan putih, (jyah kaya film kera sakti bae yah). Dan bisa menyaksikan candi Borobudur yang tertutup sedikit awan diantara rerimbunan hijau dan perkotaan, tampak sangat kecil. Acara wajib adalah foto-foto dan ngobrol ini itu, jelas gak jelas, mutu gak mutu, hehe. Setelah puas berfoto-foto. Oh ya, dan ada juga yang puas ngerjain temennya (ngasih cacing juga…Syem banget buat si Kriting Narto, sok tak kei kelabang kowe.:P).


                                            Tragedi dikei cacing, kethak kowe!huhuhu.


Dan iki go kowe tho….:P

Ayo kawan-kawan yang punya cerita kesan-pesan, uneg-uneg, saran kritik atau hal-hal yang mau di sampaikan jangan ragu dan jangan maul.

Let’s Write your mind!!!!!!

Jumat, 2 maret 2012, at 00.30 am

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke SUROLOYO PART TWO: BUTTERFLY SESSION

  1. huta berkata:

    kupu-kupunya cantik mb😀
    cieeee musafir alam >.<
    mau dong diajarin ngident kupu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s