Coffe Story Part 1~ You’re My Coffe1

Part 1-You’re My Coffee

         

       Apa yang kau pikirkan tentang kopi? Bukan biji kopi, melainkan bubuk kopi, ya kopi yang berwarna hitam pekat, tanpa campuran gula maupun susu. Mulai dengan rasanya, pasti pahit, sangat pahit, apalagi jika bubuk kopi yang dibuat tanpa campuran apapun, hanya kopi saja.

Aku masih ingat cara nenek membuat kopi, biji kopi, segenggam beras dan setengah butir kelapa tua yang di potong persegi panjang kecil. Saat di sangrai di atas tungku, perpaduan aroma kopi dan kelapa akan menimbulkan wangi yang khas, sangat wangi. Hummmm, pasti nikmat sekali diseduh dengan air mendidih. Namun selera orang berbeda-beda, kata Bapak, bubuk kopi yang dibuat dengan campuran kelapa dan beras akan mengurangi nikmat pahitnya kopi. Aku pernah mencobanya dan memang benar kata Bapak.

Beda tempat tinggal beda tradisi. Apalgi antara orang kota dan desa, kentara sekali perebedaannya. Salah satunya adalah Kebiasaan sarapan, mungkin untuk keluarga yang ada di kota sarapan pagi dengan segelas susu dan roti selai. Tapi untuk orang desa sepertiku dan keluargaku pagi hari yang dingin selalu ditemani segelas kopi hitam manis khas buatan ibu. Untuk bapak spesial dengan gelas paling besar, pun tidak selalu manis. Bahkan kadang-kadang Bapak meminta segelas besar kopi hitam yang pahit, sesuai dengan suasana hati Bapak. Apalagi kalau sedang paceklik, harga gula pasir meroket, jika Bapak, Ibu dan simbah tetap setia dengan kopi hitam buatan sendiri tanpa pemanis. Maka kakak dan aku lebih memilih libur ngopi daripada harus menenggak kopi pahit. Itu dulu saat aku masih kecil, sekarang setelah dewasa aku bisa memilih kopi manis atau kopi pahit sesuai dengan moodku.

“ Argh, aku kangen rumah, kangen Bapak Ibu dan kangen kopi buatan Ibu, Ibuuuuuuuuu, Arghhh.” Aku berteriak-teriak sendiri.

Kini aku tengah tidur-tiduran di kamar kosku yang sempit, kamar bercat hijau ukuran 3x3m. Sudah 3 tahun ini aku tinggal di kota untuk menuntut ilmu, kota yang jauh dari rumah. Kadang-kadang aku iri dengan kakak laki-lakiku, beruntung kakakku, tidak perlu kuliah terlalu jauh dari rumah, sehingga bisa pulang setiap minggu. Sementara aku harus menunggu 1-3 bulan sekali untuk bisa pulang ke rumah, kalau sering-sering pulang maka habis di ongkos transportasinya.

Dengan wajah kuyu dan rambut awut-awutan. Aku mengisi cangkir kesayanganku 2 sachet kopi susu. Kali ini aku tidak menyeduhnya dengan air panas melainkan dengan air dingin. Sembari melamun entah memikirkan apa aku mengaduk isi cangkirku hingga benar-benar tercampur rata, menyatu antara air dingin dan si kopi susu yang manis. Aku menyesapnya, manis. Aku suka yang manis-manis, meski pun aku sudah manis. Tak perlu protes, itu hanya menurutku. Kenapa dua sachet? Hemm, entahlah. Sahabat ku Retno pernah bertanya. Asal saja kujawab, kalau hanya satu sachet tidak mempan untuk menghalau rasa kantukku.

Drrrrt, drrrt, drrrt.” Getar handphone memecahkan lamunanku.

Kamu di mana? Nanti malam main yuk?” pesan dari sahabatku Rico.

Kemana?”, aku membalasnya singkat.

Drrrrt, drrrt, drrrt.” Handphone kembali bergetar

Hemm, just Nongkrong, ngopi, ngobrol, kujemput jam 20.00, Ok? ” balasan dari Rico.

“ Ok.” Jawabku lebih singkat.

Padahal hari ini aku benar-benar malas, week end yang entahlah. Seharian aku belum mandi, hanya mengurung diri di kamar. Membaca kumpulan novel-novel yang kumiliki, yang sepertinya sudah ku baca lebih dari 7 kali. Kulirik jam bergambar Mickey Mouse berwarna merah di atas lemari, sudah pukul 17.00, aku segera menenggak sisa kopi susu dicangkirku. Bergegas ke kamar mandi.

***

          “ Kok diem aja?” tanya Rico

“ Kok rame banget ya ko?” aku justru balik bertanya kepada Rico.

“ Lupa? Ini kan malam minggu.” Kata Rico.

“ Kopi areng Bu, Kaleh.” Rico memesan kepada Ibu angkringan. Kaleh itu bahasa jawa halus artinya dua.

“ Es tape setunggal Bu.” Setunggal itu artinya satu. Aku menambah pesanan minum.

Seperti biasa, kami pun mengambil piring sendiri, lalu mengambil makanan yang kita kehendaki. Rico mengambil dua nasi kucing, dua sate usus, dan dua mendoan. Mendoan itu tempe goreng yang diberi tepung. Perut ku juga mulai berbunyi nyaring meminta segera diisi menyaksikan aneka makanan khas angkringan Kota Yogyakarta itu. Tak mau kalah dari Rico yang mengambil sana-sini aku pun menyusul Rico mengambil dua nasi kucing, dua ceker ayam, satu sate usus, dan dua mendoan.

“Kalian pacaran?”

Suatu Hari, masih Retno sahabat setiaku itu bertanya kepadaku dan Rico, saat kita bertiga tengah menikmati makanan di Kantin kampus milik bu Jum.

“ Hahahaha, kamu bercanda”.

Kami menjawab serentak. Lalu melanjutkan makanan kami yang lebih menarik dibandingkan dengan tatap curiga dari Retno.

Aku dan Rico memang bersahabat baik, sejak awal masuk kuliah, laki-laki pertama yang kujumpai bersikap ramah dan tidak sombong adalah Rico. Ternyata dia satu fakultas denganku, satu kelompok Ospek, satu jurusan dan satu kelas. Sungguh membosankan, sekaligus menguntungkan. Mempunyai sahabat seperti Rico, yang cocok denganku. Rico pun mau diajak ke mana-mana, mungkin aku yang sebaliknya. Rico memiliki wajah yang tampak lebih muda dari umurnya. Padahal sebenarnya dia lebih tua dua tahun dariku tapi karena tampang baby facenyalah maka kami tampak seumuran.

Kami memiliki persamaan tapi lebih banyak perbedaan. Aku lebih suka menyendiri, menghabiskan waktuku untuk membaca buku-buku tebal atau menulis cerita-cerita fiksi yang memenuhi otakku. Sedangkan Rico lebih suka berada di alam, naik gunung, panjat tebing atau masuk gua. Bukannya aku takut hitam seperti gadis-gadis lain. Ada alasan yang membuatku belum mampu kembali lagi ke alam. Ya, aku pernah berada di alam dan benar-benar mencintai alam. Aku dan Rico memang berbeda, tapi satu yang menyatukan kita, secangkir kopi.

“ Ada tawaran bagus.” Rico memecahkan lamunanku.

“ Hemmm, tawaran apa?” aku kembali menggigiti ceker ayam kesukaanku.

“ Kakak angkatan kita, mas Anjas mengajakku ikut ekspedisi di Rinjani bulan depan.” Rico menyesap kopi arengnya yang mulai dingin.

“ Wah sekalian jalan-jalan dong? Oleh-oleh ya.” Aku memandang manis Rico. Wajah yang cukup mulus untuk ukuran seorang pemanjat tebing dan pendaki gunung.

“ Kali ini aku gak akan bawain kamu oleh-oleh” Rico menggantungkan kalimatnya.

“ Loh? Kenapa? Mo bawain buat cewek kamu?Siapa?” Tanyaku menyipitkan mata.

“ Sembarangan. Hemmm, karena kamu juga harus ikut.” Rico menatapku tajam.

“ Loh? Kok aku, ko?” Aku menatap Rico penuh tanya.

Rico terdiam sejenak.

“ Mau sampai kapan?” Kalimat Rico terlontar tajam.

“ Maksud kamu apa? Kan aku tanyanya kok aku? Kenapa aku harus ikut?” Tanyaku lebih tajam.

“ Mas Anjas ternyata tau kalau kamu pernah jadi pemanjat, pernah ikut kejuaraan nasional juga. “ Tenang rico menjawab pertanyaanku.

“ Lho, aku masih bingung. Perjelas apa yang baru kamu bilang ko?” Aku memandang Rico tegas, entah apa yang aku pikirkan, aku sedikit emosi saat itu.

“ Mas Anjas butuh kamu untuk melatih anak-anak baru, khususnya cewek-cewek yang baru masuk komunitas pemanjat. Kamu tahu sendiri 2 tahun terakhir ini gak ada cewek yang masuk komunitas kami.” Panjang lebar Rico menjelaskan.

“ Iya, trus apa hubungannya sama aku? Kan bisa cari pemanjat cewek profesional, jangan, aku.” Aku menjawab pelan.

“ Mau sampai kamu dihantui rasa menyesal? Mau sampai kapan sembunyi di kamar dan membunuh kecintaan kamu pada alam?” Rico memberondongku dengan banyak pertanyaan yang tak mampu kujawab.

“ Cukup, Ko! Aku memang suka manjat, suka naik gunung, suka alam, tapi dulu. Sekarang aku lebih suka menikmati kesendirianku dengan tumpukan buku,…” jawabanku menggantung.

“ Bohong, kalau kamu sekarang gak suka alam. Justru kamu sembunyi karena kamu takut mengakui bahwa kamu sangat mencintai alam. Cintamu tertinggal di alam.” Kata-kata Rico benar-benar membuatku pusing.

Aku terdiam, tak berani membantah perkataan Rico.

“Ayo pulang!” Aku menegak kopi terakhirku.

“ Pinten Bu, sedanten? (Berapa Bu, semuanya?)”. Aku menghampiri Ibu penjual.

“ Lima belas ribu mbak”.

Aku bergegas menuju motor Rico, dan Rico pun menyusulku dibelakang. Entahlah perjalanan pulang terasa sangat lama. Sepertinya Rico mengambil jalan memutar, sengaja memperlambat laju motornya. Biasanya kami saling mengejek atau tertawa membahas hal-hal tidak penting, namun kali ini tak ada gelak tawa atau ejek jenaka. Kami hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ Maaf ya, Ko.” Aku meminta maaf kepada Riko, setelah sampai di depan kos.

“ Aku yang seharusnya minta maaf.” Kata Rico.

“ Beri aku waktu untuk memutuskan, “ Aku, pelan.

“ Aku gak maksa,” Kata Riko.

“ Aku, masuk dulu. “ Aku baru akan membalikkan badan.

“ Ndah, “ Riko menarik tanganku.

“ Hemmm, “ Aku menatap Riko.

“ Aku..” Riko ragu, memandang mataku tajam.

“ Aku pengen kamu kaya kopi, semakin harum dan nikmat, justru saat di seduh dengan air mendidih, 1000C.” Riko masih tajam menatapku.

“ Aku berharap aku bisa, Ko. Maaf.” Aku melepas tangan Riko dan bergegas masuk ke dalam rumah.

***

Riko melemparkan jaketnya, lalu merebahkan tubuhnya di kasur yang tak empuk di dalam kamar kosnya. Kacau dengan pikirannya.

“ Endah, endaaaaaah, arghhhhh” Riko mengerang pelan.

Ia meraih gitar kesayangannya. Tak jelas mendendangkan lagu siapa, dia hanya memetik dawai gitar itu sekenanya, sesuai isi hatinya.

Memandang sekeliling kamar Riko, kamar berukuran, 3x4m, cukup luas untuk kamar kos laki-laki. Gantungan yang tak rapi, berisi jeans belel, dan jaket,bergelantungan di belakang pintu kamarnya. Beberapa Poster,  gitar tua, rak buku, lemari plastik, Carrier bag lengkap dengan matrasnya, meja kecil dengan netbook diatasnya, cermin kecil, jam dinding warna biru donker bergambar dolphin hadiah dari Endah, white board, dan beberapa foto dipajang pada styrofoam yang tertempel di dinding. Fotonya dan Endah, saat mereka memakai seragam ospek, saat mereka bermain layangan di pantai, saat berada di kebun binatang, saat ulang tahun Rico dan Saat ulang tahun Endah, dan sebuah tulisan “ kamu adalah kopi, kopi adalah candu, kamu adalah canduku”.

***

          Di malam yang sama, di kamar yang berlainan. Endah memandang sepatu panjat dan carrier bag yang berdebu, menggantung di kamarnya.

“ Ndah, hati-hati, di atas pointnya cukup jauh, tunggu aku dulu.” Seseorang memperingatkan Endah.

“ Aku tahu, jangan remehkan aku Lex.” Endah lincah menaiki tebing dengan ketinggian ±2.500 dpl. Endah pernah menjadi runner up dalam kejuaran panjat tingkat nasional. Maka dia pun penuh percaya diri yakin mampu mencapai puncak tebing yang tengah ia daki kini.

“ Arghhhh, ” Endah menjerit. Tali yang menopang badannya putus, hanya satu tangannya yang menahan badan.

“ Endah, tahan Ndah! Tahan.” Alex mempercepat tangan dan kakinya mencapai batu point tebing gunung.

“ Alex, tolong aku!“ Endah memanggil Alex. Baru kali ini ia merasa nervous berada di tengah tebing.

“ Tahan Ndah, aku datang.” Alex meraih Endah.

Endah telah naik ke puncak tebing, tali yang semula menopang badan Alex ia lepaskan untuk menopang badan Endah. Kini Alex memanjat tanpa tali, clean climbing. Alex memang salah satu pemanjat terbaik, dia pun pernah melakukan clean climbing sebelumnya. Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja Alex kehilangan pijakannya, menumpukan tubuhnya pada point yang ia pegang. Endah mencoba meraih tangan Alex.

“ Alex, pegang tanganku” Endah mengulurkan tangannya.

“ Ndah, maaf, sepertinya aku tak bisa menggapai tanganmu, aku mendengar suara Ibuku.” Alex melihat mata Endah nanar. Endah sudah berlinang air mata.

“ Lex, pegang tanganku, Lex!” Endah Berteriak.

“ Ndah, jangan benci pada tebing.” Alex melepaskan pegangannya.

“ Jangan pergi, Alex!” Endah Histeris.

“ Alex!Alex!” Endah berteriak.

Seperti film yang diputar ulang. Kenangan 4 tahun yang lalu kembali datang, kenangan itu masih membekas sangat dalam di benaknya. Sepertinya tak mampu ia hapuskan.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Coffe Story Part 1~ You’re My Coffe1

  1. rin berkata:

    part 2 mana??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s