PUISI, GANDRUNG

GANDRUNG

Layaknya lampu neon kualitas terbaik
Perasaan saya menyinar terang, menyeruak kemana-mana
Terang sekali,
Turut menjangkit bahkan galau jaman sekarang itu
Senyum menyungging,
Aduhai, Manis sekali…
Duh gusti
Gegap gempita, bahagia bukan main
Atas ungkapan cintanya pada saya,
Atau hanya sekedar senyum manisnya saja
Atau sekedar kerlingan matanya, yang sebenarnya kelilipan
Saya pun anggapnya godaan, aih-aih…
Indahnya…

Lalu
Lama-lama , lebih lama lagi…
Sembab, Saya menghadapMu
jatuh tersungkur
Pilu memakui merah jambu hati saya
Pilu, saya mengadu
Berhari-hari bahkan berbilangan tahun
Saya masih menangisinya…
Yang memilih orang lain
Yang mengabaikan saya
Yang meninggalkan saya

Duh Gandrung…, gandrung…

Saya malu,

Akan perasaan cinta saya padanya yang menggebu-gebu
Padahal
Rasa cinta saya padaMu justru seperti nyala sentir
Sebentar nyala benderang, lalu mak pet
Seketika peteng dedet, gelap gulita

Duh Gusti…
Saya lupa, atau malah melupa
Pada nikmat kenyang selama ini
Pada setiap helaan nafas,
Pada rasa kantuk yang membuat saya lelap, melepas lelah
Pada segala nikmat dari Mu
pada CintaMu,

Saya bangga pada perasaan cinta saya, tapi melupa pada perasaan CintaMu
Menggandrungi makhlukMu
namun justru mengabaikanMu
Duhai, Tangis itu…
Atas bentuk kegandrungan yang keliru
seperti peluh, seperti keringat
Hasil gojlogan dariMu
Agar saya semakin kuat
semakin bersyukur
dan kembali kepada Gandrung yang benar
Duh Pangeran Kulo, ngapunten Gusti…
Jangan biarkan saya menyia-nyiakan titipan cinta dariMu
Jangan Kau biarkan gandrung itu sirna tanpa makna

Terinspirasi dari diskusi kami, Nizar, Mas Helmy dan Saya, tentang puisi-puisi Gus Mus (Mustofa Bisri) dalam bukunga Gandrung. Juga, terinspirasi dari sahabat-sahabat saya, pengalaman pribadi, pengalaman kita, rasa cinta yang pernah kita miliki, atau malah kini sedang menggerogoti hati. Jika itu benar cinta, pasti lah takkan menyakiti, pastilah akan menjaga, hanya perlu bersabar, hanya perlu menanti “sebentar” hingga pada saat yang tepat, gandrung itu diridhoiNya, bukan dilarang malah justru diperintahkanNya.
Siapapun, yang tengah gandrung pada seseorang, jangan sampai kita salah paham mengartikannya. Perasaan itu datang dariNya, dan kembali lagi padaNya, jika suatu waktu Ia mengambil rasa itu maka betapa pun sulitnya, meski diikhlaskan. Menggandrunginya berarti mendoakan yang terbaik untuknya, menjaganya, mengirimi Fatehah ketika merindunya, bukan mengikatnya untuk diri sendiri, untuk ego atau sekedar nafsu.
Menggandrunginya berarti juga semakin MenggandrungiNya pula, semakin ingat padaNya, dan semakin dekat padaNya, memohon, berdoa, tanpa melalaikan usaha dan kerja keras kita secara nyata di dunia.
Mari belajar memaknai Gandrung, ^_^

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke PUISI, GANDRUNG

  1. akuu berkata:

    ehemmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s