Coffe, Night and We were Together. Comeback!

Malam telah cukup larut bagi bistro dan cafe coffe yang biasa buka hingga pukul 22.00, tapi lain dengan yang satu ini langganan tempat kami menghabiskan malam dengan bergelas-gelas kafein ini buka hingga pukul 02.00 dini hari. Dan hanya mata-mata kalong saja yang masih bertahan dengan gadgetnya, dengan bukunya, tugasnya atau kerinduan akan suasana senyap di tengah kota.
Tempat ini tak begitu terkenal, mungkin hanya kalangan tertentu saja yang tahu, di tengah kota tetapi kita perlu masuk ke gang-gang sedikit sempit, dua kali berbelok dari jalan utama, masuk ke tengah hutan jati seluas 300 m2 , pada bangungan yang cukup luas, berdinding batu bata, banyak buku-buku tertata rapi, musik merdu yang mengalun pelan, dipilih dengan cita rasa musik yang tidak main-main, dan tentu dengan sajian espressonya yang begitu menggoda bagi penikmat kopi.
3 gelas espresso telah membuatmu sedikit gemetar, kamu masih berdiri untuk menenangkan tanganmu yang sedikit gemetar, benarkah hanya karena espresso atau ada hal lain yang kau sembunyikan dari kita.
Aku masih mencoba fokus pada novel yang baru saja ku beli, meskipun penerangan di sini tak cukup untuk ku membaca, tapi karena ceritanya yang begitu misterius aku pun tak kuat melepas satu halaman pun. Apalagi Riko masih saja sibuk dengan badannya yang dia pikir gemetaran.
“ sepertinya aku terlalu banyak menghabiskan kopi malam ini “, Riko kembali menenangkan diri dan duduk di depanku.
“ Hemmm, ku rasa 2 bulan kita tak bertemu ukuran kopi mu mulai berkurang ko, “ aku hanya menanggapinya dengan santai.
“ Ehemmm, sepertinya ada yang melupakan bahwa aku di sini diundang..ehem” Riko bedehem, mengembalikanku pada kenyataan bahwa dia di depanku, menantiku berbicara, mungkin.
“ hehe…” aku menutup novelku, dan mengalilhkan tatapanku padanya yang juga menatapku tajam.
“ aku berpikir banyak sekali selama aku tak di sini…” aku menatap sampul novelku yang bersimbol, riko masih diam.
“ aku merindukan tebing gunung yang menggoresku perih, melukai ku tapi tak melukaiku. Aku melupakannya, melupakan cintaku pada alam, pada keinginanku menaklukkan gunung dan menjelajahi negri indah ini.” Aku menahan napas, dalam…
“ aku masih mencintainya ko, aku masih mencintainya…” mataku mulai kabur. Riko masih khusyuk mendengarkanku. Tak ada sedikitpun iterupsi darinya.
“ aku bersalah pada dia, alex yang ku sayangi sepenuh hati, alex yang meminjamkan tali kehidupannya padaku, aku ingin kembali Ko, aku tak ingin berhenti lagi, aku tak ingin menyia-nyiakan kepercaan alex…” Mataku mula berair, pelan, aku menunduk, tak terasa ada bulir being yang membasahi sampul novelku.
“ alex, bagaimana bisa aku tak mengingatnya …wajahnya tersenyum meski sudah tak jelas, dia begitu tenang dan tersenyum melepas tanganku, aku menggenggamnya erat, aku tak mau melepasnya ko. “ air mataku semakin mengalir deras.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang kepalaku, mengambilnya ke pelukannya, dadanya yang berdebar hangat menjalari wajahku yang basah, Riko hanya diam.

Tentang papiliomemnon

Mencintai dengan sederhana dan dicintai dengan sederhana
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Coffe, Night and We were Together. Comeback!

  1. imexplore berkata:

    SHIT !!!
    what next ??!!!
    hahahahaha sem.. tiwas aku melu berdebar-debar menunggu apa yg akan terjadi je…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s